Kewajiban-K ewajiban Akademis


 

 

 

Kewajiban-K ewajiban Akademis

Para Dosen Universitas

 


Erzuhedi

 

I.  PENGANTAR

 

            Menurut Shils (1993:71—90) bahwa kewajiban-kewajiban akademis para dosen terhadap pengetahuan dan mahasiswa dijelaskan sebagai berikut ini:

 

A. Kewajiban Pengetahuan

            Kewajiban dosen yang utama dalam bidang pengetahuan adalah kewajiban terhadap kebenaran dalam bidang yang diajarkan atau ditelitinya. Beberapa hal yang harus dilakukannya ketika menyampaikan kebenaran itu adalah:

1.      Bekerja keras untuk memecahkan permasalahan secara tepat, untuk tidak mudah percaya, membuat penilaian secara bertanggung jawab, dan untuk mendisiplinkan diri.

2.      Membuat penilaian secara bertanggung jawab.

3.      Dosen hendaknya menjelaskan sisi yang kabur dan tak pasti dalam  perkuliahan.

4.      Memiliki kejujuran dan kerendahan hati mengenai apa yang benar dan apa yang tidak benar pada saat itu, apa yang betul-betul kontroversial dan apa yang memang tidak diketahui.

5.      Dosen di samping hormat kepada metode dan aturan penelitian, mempunyai kewajban untuk  menolak dominasi prasangka-prasangka akademis yang sedang berlaku menyangkut apa yang boleh diteliti.

6.      Dosen hendaknya tidak menyingkapkan hasil-hasil penelitiannya apabila ia sendiri belum puas  atas usahanya membuat hasil penelitian itu sedapat    mungkin masuk akal.

           

     Yang Harus Dihindari Dosen dalam Menjalankan Kewajiban  terhadap Pengetahuan

Ada beberapa hal yang harus dihindari dosen dalam memenuhi kewajibannya terhadap pengetahuan, di antaranya adalah:

1.      Seorang dosen yang secara sengaja mengajarkan kepada para mahasiswanya anggapan-anggapan yang keliru dan tanpa dasar sambil mengatakan bahwa itu  semua merupakan pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya, jelas-jelas menyimpang dari kewajiban utamanya, tidak peduli apakah ia bermaksud untuk memikat hati penguasa atau untuk merong-rongnya, tidak peduli apakah ia terdorong untuk menyenangkan hati pendengarnya atau bersikap sembrono saja.

2.      Mengemukakan sebagai kebenaran apa yang sesungguhnya tidak lebih dari sebuah opini yang belum terbukti atau sebuah hipotesis yang masih tentatif (belum tentu), merupakan pengingkaran terhadap kewajiban seorang dosen.

 

B. Kewajiban kepada Para Mahasiswa

1.      Universitas bukanlah sebagai lembaga penelitian semata tetapi ia adalah juga lembaga pengajaran.

2.      Postulat bahwa universitas merupakan suatu lembaga yang kewajiban utamanya ialah penggalian dan pengajaran kebenaran-kebenaran tidak  melarang para dosen untuk menyatakan keyakinan etis dan politisnya di depan  para mahasiswa.

3.      Dosen harus hati-hati agar dalam memaparkan bidang keilmuannya ia tidak jatuh ke dalam dogmatisme.

4.      Kesetiaan seorang dosen terhadap kewajiban  mengajarnya ditunjang oleh kesungguhan para  koleganya dalam melakukan pengajaran masing-masing.

5.      Para mahasiswa tidak hanya perlu diajar tetapi mereka juga perlu dinilai dan harus dinilai secara adil  oleh para penguji.  

6.      Dosen tidak seharusnya    menganggu dan  mengacau pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan administrasi mahasiswanya.

7.      Dosen  tidak boleh menyalahgunakan wewenang yang diperolehnya walaupun dalam bidangnya ia mempunyai banyak  pengetahuan dibandingkan dengan para       

     mahasiswanya.

 

C. Beberapa Penyakit yang Harus Dihindari Dosen

Beberapa penyakit yang harus dihindari dosen adalah 1) galat atribut, 2) keyakian irasional, 3) ketidakpekaan akan umpan balik, 4) menghentikan pengawasan (kontrol), dan 5) mendominasi pembicaraan.

 

II.                  PEMBAHASAN

 

Pada bagian ini, ada tiga pokok permasalahan yang akan dibahas sehubungan dengan topik kewajiban-kewajiban akademis para dosen di universitas atau perguruan tinggi. Walaupun kewajiban itu bisa ditinjau dari segi administratif, sosial, dan akademis, namun makalah ini hanya akan membahas pada kewajiban akademis dosen terhadap pengetahuan dan mahasiswa, tidak termasuk terhadap masyarakat. Hal ini sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Bapak Prof. Dr. Jamaris Jamna, M.Pd. dan Bapak Dr. Ramalis Hakim, M.Pd. kepada saya.

 Menurut Shils (1993) kewajiban-kewajiban dosen itu meliputi kewajiban: 1) pengetahuan, 2) mahasiswa, 3) generasi-generasi para dosen, 4) para kolega, 5) para dosen dalam hal pengangkatan akademis, 6) terhadap universitas mereka sendiri, dan 7) masyarakat. Banyak kewajiban para dosen yang biasa dibicarakan namun ditegaskan sekali lagi bahwa dalam makalah ini hanya akan membahas bagian nomor satu dan dua saja serta ditambah satu lagi dengan topik “beberapa penyakit yang harus dihindari dosen  ketika mengajar di universitas”.

 

A. Kewajiban Pengetahuan

      Kewajiban dosen yang utama dalam bidang pengetahuan adalah kewajiban terhadap kebenaran dalam bidang yang diajarkan atau ditelitinnya.Menurut Shils (1993:73) bahwa menentukan sebuah kebenaran mungkin sangat sukar. Apa yang dianggap benar sehubungan dengan topik tertentu memang dapat diubah, namun perubahan-perubahan itu tidak boleh asal-asalan saja. Perubahan-perubahan itu diatur oleh tradisi dari bidang itu sendiri,  biarpun tradisi itu juga berubah setiap kali ada penambahan atau revisi terhadap pengetahuan tentang suatu topik tertentu. Ada kekeliruan para dosen sehubungan dengan ini, yaitu ada bidang luas yang samar-samar yang tentangnya tidak mungkin diperoleh pengetahuan yang terpercaya. Bidang-bidang ini sangat menggoda dosen untuk mengikuti kecondongan hatinya sendiri dan bukannya mengikuti kesangsian intelektualnya. Bidang-bidang yang kelabu atau kabur, sejauh bidang-bidang itu penting, merupakan bidang yang memerlukan penelitian baru, dan penilaian dari rekan sejawat yang berkualitas sama, baik dari universitas sendiri maupun dari kalangan terpelajar lain, dibutuhkan agar sang dosen itu mampu memberikan yang terbaik. Banyak pengajaran harus diberikan dalam bidang-bidang yang kabur ini, dosen wajib membuat mereka menyadari adanya ketakpastian-keakpastian itu.

            Allah Swt. berfirman dalam (Q.S.7:181) :

       Artinya,

 

Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak (kebenaran), dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.

 

     Dari ayat Al-Quran di atas dapat diketahui bahwa dosen adalah orang yang Allah Swt. ciptakan sebagai orang yang dipilih untuk menyampaikn kebenaran (hak) dan dengan kebenarannya itu diharapakan dia dapat berlaku adil terhadap pengtahuan yang didalaminya. Artinya, dosen tidak memanipulasi, menyelewengkan, dan menyembunyikannya. Mestinya, dia hendaklah berlaku objektif, menggunakan ilmu untuk kemanfaatan, dan menyampaikannya kepada mahasiswa maupun masyarakat.

    Menurut Shils (1993:72) mengatakan bahwa seorang dosen yang secara sengaja mengajarkan kepada para mahasiswanya anggapan-anggapan yang keliru dan tanpa dasar sambil mengatakan bahwa itu  semua merupakan pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya, jelas-jelas menyimpang dari kewajiban utamanya, tidak peduli apakah ia bermaksud untuk memikat hati penguasa atau untuk merong-rongnya, tidak peduli apakah ia terdorong untuk menyenangkan hati orang lain atau sekedar bersikap sembrono saja.

     Beberapa hal yang harus dilakukannya ketika menyampaikan kebenaran itu adalah:

 

1.      Bekerja keras memecahkan permasalahan secara    

      tepat, tidak mudah percaya.

           Shils (1993:72) megatakan dosen hendaklah bekerja keras untuk menilai secara tepat terhadap segala fenomena atau permasalahan yang terjadi, baik di lingkungan akademis maupun masyarakat, tidak mudah percaya, dan mendisplinkan diri terhadap keputusan yang dianggapnya benar.

     Contoh,

           Para pejabat Indonesia pernah dahulu jika mengucapkan kata-kata yang berakhiran /-kan/ melafalkannya dengan /-ken/. Sebagai seorang dosen yang tugasnya mengajar dan meneliti tentu tidak mudah begitu saja percaya menerima kenyataan itu dan mengajarkan kepada mahasiswanya sebagai suatu kebenaran walaupun itu berkaitan dengan kekuasaan pemerintah. Dia harus melihat dan menilainya sebagai sebuah fenomena dalam bidang bahasa yang mesti dipecahkan dan dijelaskan kebenarannya. Jika sudah ditemukannya penjelasan yang kuat dan penilaiannya itu merupakan suatu kebenaran, maka dia harus mendispilnkan dirinya dengan kebenarannya itu meskipun harus bertentangan dengan pemerintah. Jadi, jika yang benarnya adalah /-kan/ buakan /-ken/ maka dia harus menggunakan yang benar dan mendisplinkan diri terhadapanya.

 

2.      Dosen hendaknya menjelaskan sisi yang kabur  

      dan tak pasti  dalam perkuliahan.

      Ada bebrapa hal yang yang kabur dalam sistem perkuliahan di univerrsitas. Kekaburan itu tidak saja terdapat dengan sebuah komponen administratif yang ada dalam sebuah sistem universitas tetapi  juga       terdapat dalam komponen yang lainnya, misalnya kurikulum. Tidak jarang silabus yang dikembangkan para dosen memuat materi perkuliahan yang mengandung sisi yang kabur atau tidak jelas. Dosen harus menjelaskanya secara jealas dan proporsional tanpa menutup-nutupi atau menghindarinya  dalam perbincangan akademik.

      Dalam proses pencapaian target kurikulum yang telah diprogramkan, para dosen juga harus menjaga etikanya dalam menyampaikan kebenaran. Etika itu tentu berujung pada konsekwansi moral atau  amoralnya dari suatu ketetapan atau kegiatan yang telah diputuskan. Walaupun ini merupakan sebuah dilema bagi para dosen namun ketika ia memutuskan sesuatu maka dia harus konsekwen dengan segala teori-teori dan program  yang telah dijalankannya seperti yang dikatakan oleh Strike (1984:32) bahwa

 

“We constructed this dilemma to illustrate the features of two major types of  ethical theories – those that decide the rightness or wrongness of an action in terms consequences and those that do not. We shal refer to this as consequentialist theories and nonconsequentialist theories, respectively.

 

       Menurut Shils (1993:73)  ada kekeliruan para dosen sehubungan dengan ini, yaitu ada bidang luas yang samar-samar yang tentangnya tidak mungkin diperoleh pengetahuan yang terpercaya. Bidang-bidang ini sangat menggoda dosen untuk mengikuti kecondongan hatinya sendiri dan bukannya mengikuti kesangsian intelektualnya. Bidang-bidang yang kelabu atau kabur, sejauh bidang-bidang itu penting, merupakan bidang yang memerlukan penelitian baru, dan penilaian dari rekan sejawat yang berkualitas sama, baik dari universitas sendiri maupun dari kalangan terpelajar lain, dibutuhkan agar sang dosen itu mampu memberikan yang terbaik. Banyak pengajaran harus diberikan dalam bidang-bidang yang kabur ini, dosen wajib membuat mereka menyadari adanya ketakpastian-ketakpastian itu.

      Contoh,

            Ketika dosen bahasa Indonesia menjelaskan kepada mahasiswa tentang adanya ketidakjelasan dan ketidakpastian tentang konsep pemerolehan bahasa menurut pandangan Skinner (1958) dan Chomsky (1965). Skinner berpendapat bahwa pemerolehan bahasa tidak lain hanyalah seperangkat  kebiasaan yang dipengaruhi lingkungan (nature), sedangkan Chomsky berpendapat bahwa    memperoleh kemampuan untuk berbahasa secara kodrati (nature) dengan adanya  piranti bahasa yang disebut dengan language acquisation device (LAD). Memang dalam perkembangan ilmu pemerolehan bahasa terdapat perbedaan pendapat yang tak jelas dan berseberangan di antara mereka berdua. Masing-masing mempunyai sisi kelemahan dan kekuatannya dan tidak toleran terhadap pandangan lainnya. Dosen harus menjelaskan hal-hal yang seperti ini kepada mahasiswanya.

 

3.      Memiliki kerendahan hati dan kejujuran (tidak

      bohong) menjelaskan mengenai apa yang benar

dan apa yang tidak benar yang bertalian dengan waktu, apa yang betul-betul   kontroversial dan apa yang memang tidak diketahui.

            Dosen harus membantu para mahasiswa untuk belajar membanding-bandingkan satu interpretasi dengan interpretasi-interpretasi lain yang saling bertentangan dan bersedia mengubah penilaian-penilaian mereka manakala diperoleh bukti-bukti dan alasan yang lebih kuat (Shils,1993:73).

Berkaitan dengan ini, Islam (al-Quan) mengatakan:  

 Artinya,

Allah Swt. Berfirman (Q.S.5:63), “Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu”.

 

                Dari ayat al-Quran di atas, dapat disimpulkan bahwa siapapun orangnya, terutama dosen, tidak boleh berbohong dan mengajarkan kebohongan kepada mahasiswanya. Larangan itu tidak saja ditujukan kepada  dosen yang beragama Islam tetapi juga Kristen.                           

      Contoh,

                 Ketika dosen bahasa Indonesia yang beragama Islam hendak menjelaskan tentang asal usul bahasa tertua di dunia, dia hendaklah dengan rendah hati dan tanpa merasa direndahkan, menjelaskan bahwa bahasa tertua di dunia itu bukanlah bahasa Arab (pen. al-Quran) melainkan bahsa Ibrani yang notabene digunakan dalam penulisan kitab suci Injil asli (dalam perjanjian lama). Selanjutnya dia juga hendaklah dengan jujur menjelaskan bahwa perbedaan pandangan itu memang di kalangan para ahli linguistik historis terdapat penjelasan yang kotroversial dan belum diketahui dengan pasti mana yang benarnya secara keilmuan.

 

4.      Dosen mempunyai kewajban untuk  menolak

dominasi Prasangka-prasangka akademis yang sedang berlaku  menyangkut apa yang boleh diteliti.

     Shils (1993:74) mengatakan bahwa apabila ada suatu pokok bahasan yang “tidak populer” untuk diteliti maka dosen, seorang ilmuan atau cendikiawan boleh saja dengan tekun menelitinya, sejauh ia mematuhi metode ilmiah atau metode penelitian akademis. Dosen harus mempertahankan haknya untuk bebas meneliti apa saja yang dianggapnya penting.

      Contoh,

           Dalam pengajaran bahasa Indonesia terlihat dari kenyataan bahwa walaupun di kalangan akademis memandang penelitian yang berkaitan dengan pengaruh membaca terhadap keterampilan berbicara di beberapa sekolah sudah banyak di teliti dosen lain dan telah mengasilkan hipotesis-hipotesis yang telah teruji kebenarannya namun dia tetap saja melakukan penelitian lanjutannnya meskipun tidak populer lagi. Dia boleh saja melakukan itu selagi masih dalam kerangka ilmiah, apa lagi jika dia merasa yakin bahwa apa yang akan ditelitinya membawa perubahan-perubahan yang berarti dalam kajian  yang tidak dianggap populer itu. Sebelum ini  dari beberapa penelitian telah terungkap bahwa keterampilan membaca memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan berbicara tetapi dari penelitian awal yang dia lakukan terlihat di suatu sekolah yang memiliki sumber bacaan minim namun kemampuna berbicara siswanya bagus. Kenyataan ini tentu perlu di jelaskan dan menuntut kelanjutan  penelitian. Apa yang terjadi? Tidak ada salahnya jika pertanyaan ini mesti dijawab dengan penelitian.

 

5.      Dosen hendaknya tidak menyingkapkan hasil-hasil  

      penelitiannya apabila ia sendiri belum puas atas

usahanya membuat hasil penelitian itu sedapat mungkin masuk akal.

Jika dosen telah merasa puas dengan hasil penelitiannya, maka ia wajib menerbitkannya sedemikian rupa sehingga para kolega dapat mempelajari dan menelaahnya. Kewajiban terhadap pengetahuan hanya dapat dipenuhi melalui penelitian dan publikasi “terbuka”, ketertutupan bertentangan dengan kewajiban etis para dosen. Barangkali ada situasi-situasi luar biasa yang membuat hasil-hasil penelitian tertentu yang dilakukan oleh seorang dosen atau ilmuan tertutup, umpamanya dalam sebuah proyek yang disponsori oleh pemerintah yang dinyatakan rahasia sesudah konsultasi antara sang ilmuan yang melakukan penelitian itu dengan pejabat pemerintah yang berwewenang. Namun hal yang semacam ini harus dilihat sebagai kekecualian (Shils,1993 :75).

      Contoh,

            Dalam sebuah penelitian tindakan kelas, seorang dosen bahasa Indonesia telah menemukan bahwa keterampilan mengarang mahasiswa bahasa Indonesia dapat ditingkatkan dengan metode pembelajaran copy master, namun dia belum mau menyingkapkan hasil penelitiannya itu sebelum dia lakukan beberapa siklus lagi serta dengan menggunakan teknik trianggulasi. Setelah dia merasa puas dan mengangap hasil penelitiannya sebagai sesuatu yang bisa diterima akal maka barulah  menyingkapkannya dalam forum terbuka.

           Apabila dalam hasil penelitannya menyangkut dengan kredibilitas sebuah instansi pemeritah, misalnya instansi di lingkungan pendidikan, maka hasil penelitan itu boleh saja tidak dipublikasikan setelah berkonsultasi dengan dosen itu dan pihak-pihak yang terkait. Hal itu dilakukan barangkali disebabkan adanya maksud-maksud tertentu atau sesuatu yang bersifat rahasia.

          

6.  Dosen hendaknya melakukan penelitian. Jika

dosen sedikit melakukan riset, bahkan tidak melakukannya  sama sekali,  maka wajib baginya mengikuti  secara seksama hasil-hasil penelitian dalam bidang keilmuannya.

      Contoh,

           Dosen bahasa Indonesia hendaklah senantiasa melakukan penelitian di samping mengajar. Jika tidak sempat melakukan penelitian sama sekali, maka hendaklah mengikuti kegiatan seminar-seminar yang berkaitan dengan jurusannya secara aktif, seperti seminar bahasa dan satra Indonesia yang diadakan oleh Fakultas bahasa dan Seni UNP dan Universitas Bung Hata tiap tahun.

     

Yang Harus Dihindari Dosen terhadap Kewajiban Pengetahuan

Ada beberapa hal yang harus dihindari dosen dalam memenuhi kewajibannya terhadap pengetahuan, di antaranya adalah:

1.      Seorang dosen yang secara sengaja mengajarkan kepada para mahasiswanya anggapan-anggapan yang keliru dan tanpa dasar sambil mengatakan bahwa itu  semua merupakan pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya, jelas-jelas menyimpang dari kewajiban utamanya, tidak peduli apakah ia bermaksud untuk memikat hati penguasa atau untuk merong-rongnya, tidak peduli apakah ia terdorong untuk menyenangkan hati para pendengarnya atau sekedar bersikap sembrono saja.

     Salah dalam melakukan penelitian atau pengajaran secara tidak sengaja adalah wajar tetapi jika meksud untuk menipu maka tidak dapat dimaafkan.  Buchori (2001: 35) mengatakan:

 

Anyone searching for truth is bound to make  mistakes before he or she discovers something that satisfies his or her criteria of “truth”. Why? Perhaps because, as George Duhammel said in Le Notaire Du Havre (1933),”…error is the rule, truth is the accident of error”.

     There is a big difference, however, between ordinary mistakes, i.e. mistakes  that can be forgiven, and mistakes that  are unforgivable. In science, this unfogivable mistake is called “fraud” or misconduct with the intent to deceive”.

 

     Dari pendapat Buchori itu dapat disimpulkan bahwa seseorang yang mencari kebenaran tidak tertutup kemungkinan berbuat kesalahan sebelum ia menemukan kriteria kebenaran yang dapat memuaskannya. Bahkan menurut George Duhammel seperti yang dikutip oleh Buchori tersebut  mangatakan bahwa kesalahan adalah sebuah aturan, kebenaran adalah sebuah kejadian dari kesalahan. Artinya, dalam mencari kebenaran,  orang tak luput dari berbuat kesalahan.

     Walau bagaimanapun ada perbedaan besar  antara salah yang sebenarnya dapat dimaafkan dengan yang tidak dapat dimaafkan. Dalam sains, kesalahan yang tidak bisa dimaafkan disebut dengan “fraud” yang mengarah kepada penipuan.

Contoh,

     Seorang dosen bahasa Indonesia telah mengatakan kepada mahasiswa program kependidikan yang sejurusan dengannya bahwa pembelajaran bahasa Indonesia tidak perlu lagi diberikan kepada siswa di sekolah menengah, dan kalaupun diajarkan anggaplah sebagai progam tambahan saja. Dia  beralasan bahwa tanpa belajar bahasa Indonesia pun orang tetap akan bisa berbicara. Secara sepintas apa yag yang dikatakan dosen itu memang benar tetapi dia lupa dan keliru bahwa dalam pengajaran bahasa Indonesia, siswa tidak hanya belajar berbicara tetapi juga menulis dan lainnya. Kemampuan menulis tidak  saja dibutuhkan oleh siswa atau orang yang tertarik kepada bahasa Indonesia saja tetapi juga oleh para ahli lain yang memerlukan keahlian itu untuk menyampaikan ilmunya secara tertulis. Pernyataan ini mestinya tentu tidak keluar dari seorang dosen sekalipun hanya sekedar berkelakar atau sembrono menggoda pemerintah atau orang lain.

 

2.      Mengemukakan sebagai kebenaran apa yang sesungguhnya tidak lebih dari sebuah opini yang belum terbukti atau sebuah hipotesis yang masih tentatif (belum tentu), merupakan pengingkaran terhadap kewajiban pengetahuan seorang dosen, sama seriusnya dengan pengingkaran berupa kesengajaan mengemukakan proposisi yang salah sebagai proposisi yang benar atau mengesampingkan bukti baru yang menyangsikan apa yang sebelumnya   dianggap benar.

Contoh,

           Seorang dosen bahasa Indonesia mengemukakan kepada mahasiswa program kependidikan yang sejurusannya dengannya  bahwa keteramapilan berbicara erat kaitannya dengan kemampuan berfikir. Selanjutnya, dia mengatakan bahwa siswa-siswa yang kurang aktif berbicara dalam kelas hakikatnya memilik kemampuan berfikir yang lemah.  Pada hal hipotesi itu masih bersifat tentatif, meskipun dia mencontohkan beberapa orang mahasiswanya yang berasal dari program studi bahasa Indonesia pada umumnya yang memilki nilai tinggi adalah mereka yang aktif berbicara dalam kelas.   

 

B. Kewajiban Kepada ParaMahasiswa

1.      Universitas bukanlah sebagai lembaga penelitian semata tetapi ia adalah juga lembaga pembelajaran . Dalam sebuah universitas, kegiatan pengajaran sama penting dengan kegiatan meneliti.

    Menurut FX. Soedarsono (2001:2) mengatakan bahwa dosen itu hendaknya sama-sama melakukan kedua kegiatan tersebut sehingga dalam prosesnya dosen dan mahasiswa dapat mencapai perbaikan, peningkatan, dan perubahan pembelajaran yang lebih baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara obtimal. Jadi, tujuan-tujuan pembelajaran di perguruan tinggi itu dapat sebagai media untuk menjadikan manusia itu beraktivitas sehingga berkontribusi terhadap pemfungsian seorang individu dalam masyarakat dan itu dapat diperoleh melalui pembelajaran segaimana yang dikatakan oleh Gagne (1988:39) “Educational goals are those human activities that cotribute to the functioning of a society (including the functioning of an individual in the society) and that can be acquired through learning. Kewajiban ini juga dikuatkan oleh Soenjono (1991:11) yang mengatakan bahwa tenaga kependidikan bertugas menyelenggarakan  kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan / atau memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan.

Contoh,

     Dosen bahasa Indonesia tidak saja sibuk dengan melakukan penelitian bahasa dan sastra Minang, mentawai dan lainnya saja tetapi harus juga mengajarkan ilmunya dalam mimbar-miombar kuliah di lingkungan akademis.

     Seorang dosen yang bisa menjalankan fungsi pengajaran dan penelitian secara maksimal tentu berpotensi menjadi guru besar sehingga bisa meningkatkan jabatan akademikanya di perguruan tinggi. Sebelum itu, tentulah terlebih dahulu dia harus menjadikan dirinya sebagai dosen yang yang memiliki kualitas pengajaran yang bagus, antusias, keterampilan organisasi yang bagus, hubungan yagn baik dengan kolega dan mahasiswa, tanggap terhadap masyarakat, serta berkeinginan bekerja keras terhadap tugas rutin sebagaiman yang dikatakan Tucker (1991:106) bahwa:

 

A great teacher has generally better chance of becoming a good academic manager, because the qualities of good teaching – empathy, enthusiasism, good organizational skills, rapport with colleagues and students, a public presence and a willingness to work hard at repetiitive task.

 

2.      Postulat bahwa universitas merupakan suatu lembaga, yang kewajiban utamanya ialah penggalian dan pengajaran kebenaran-kebenaran yang serius tidak  melarang para dosen untuk menyatakan  keyakinan etis dan politisnya di depan  para mahasiswa.

Menurut Shils (1993:79)  hal ini memang berarti bahwa para dosen harus menghindarkan kesan bahwa pernyataan-pernyataan etis atau politis mereka merupakan pernyataan-pernyataan ilmiah, ini juga berarti bahwa mereka tidak boleh membiarkan apa yang mereka kemukakan sebagai kebenaran yang ditentukan oleh cita-cita dan simpati etis serta politis mereka. Para dosen juga harus menghindarkan diri diskriminasi atas diri mahasiswa berdasarkan cita-cita dan simpati etis serta politis para mahasisiwa sendiri. (Tidak perlu dikatakan lagi bahwa, bagi para dosen, diskriminasi dalam menilai mahasiswa berdasarkan seks, agama, warna kulit atau kelas sosial sama sekali bertentangan dengan etika akademis.

Satu-satunya jaminan langsung bagi dosen agar mereka memenuhi kewajiban untuk mengajarkan apa yang benar dan penting kepada para mahasiswa ialah kesungguhan mereka dlam menjalankan tugas, keyakinannya pada pengetahuan yang diajarkannya dan keyakinan bahwa kebenaran tetang bidang keilmuannya memang layak diketahui dan diajarkan. Ketaatan terhadap  kewajiban ini hanya dapat tumbuh dari keteguhan nurani dan keyakinan atas manfaat aktivitas intelektual yang digelutinya.

Contoh,

     Seoran dosen jurusan bahasa dan sasta Indonesia simpati dan menjadi pendukung kuat terhadap sebuah partai politik, misalnya Partai Demokrat, maka dia boleh saja menyatakan  keyakinan etis dan politisnya itu di depan  para mahasiswa.

 

3.      Dosen harus hati-hati agar dalam memaparkan bidang keilmuannya ia tidak jatuh

ke dalam dogmatisme atau secara tidak wajar berusaha menanamkan pengaruh kepada para mahasiswanya dengan menuntut mereka agar menjadi pendukung pandangan  metodologis dan substantif tertentu. Menyerah pada godaan dogmatis berarti tidak setia pada kewajiban untuk mengkomunikasikan kebenaran (Shils 1993:80)  .

Contoh,

    Seorang dosen bahasa Indoneia yang apresiatif terhadap penelitian kualitatif dalam kajian bahasa dan sastra harus hati-hati untuk tidak menanamkan kepada mahasiswanya bahwa aspek kajian itu hanya baik jika dilakukan melalui penelitian kualitatif, bukan dengan  kuantitatif, pada hal bisa juga dengan kuantitatif dengan hasil yang baik. Penelitian tentang pengaruh karya sastra terhadap pembaca tidak saja bisa dilakukan dengan jenis penelitian kualitatif malahan dengan kuantitatif justru dirasa lebih tepat. Jadi, dosen bahasa Indonesia yang cendrung suka dengan penelitian kualitatif janganlah terlalu melebihkan kesukaannya itu dengan merendahkan yang satunya lagi atau sebaliknya.

4.      Kesetiaan seorang dosen terhadap kewajiban  mengajarnya ditunjang oleh kesungguhan para  koleganya dalam melakukan pengajaran masing-masing.

     Integritas  intelektual dan performan seorang dosen bukan hanya terletak pada persolan kekuatan watak tetapi juga merupakan fungsi dari lingkungan pergaulan seorang dosen di universitas. Dalam soal intelektual, sebagaimana di bidang-bidang lain, kesadaran moral saling memperkuat satu sama lain. Karena itu komunitas akademis menunjang etika akademis dalam pengajaran. Sikap sseorang dosen yang peka terhadap kewajiban moralnya mempengaruhi sikap para koleganya terhadap kegiatan pengajaran mereka sendiri. Kepekaan seorang dosen terhadap kewajibannya dipertajam oleh kesadaran akan kekuatan kepekaan moral itu dalam diri para kolega. Salah satu cara tidak langsung untuk menjaga agar para dosen tetap mempunyai kepekaan yang tinggi dalam hal kewajiban terhadap para mahasiswa adalah melalui sikap hati-hati dalam proses pengangkatan  dosen baru, sehingga dapat dihindari masuknya calon-calon dosen yang tampaknya melalaikan kewajiban mengajarnya (Shils, 1993:84).

Contoh,

           Keseriusan dan keberhasilan seoran dosen bahasa dan Satra Indonesia dalam mengajar tentu dipengaruhi dan ditunjang juga oleh staf pengajar lainnya, tidak saja dosen dari jurusan sama tetapi juga dari jurusan lannya, seperti bahasa Inggris, matematika, IPS, dan termasuk Filsafat.

 

5.      Para mahasiswa tidak hanya perlu diajar. Mereka juga perlu dinilai dan harus      dinilai secara adil oleh para penguji.  

     Penilaian  ini menurut Shils (1993:85)  penting karena akan mempengaruhi kesempatan para mahasiswa dalam studi mereka selanjutnya dan kemungkinan mereka diterima dalam karier professional. Penilaian mempengaruhi pula sikap para mahasiswa terhaddap studi dan diri mereka sendiri. Penilaian yang adil sangat dibutuhkan baik oleh masyarakat maupun oleh masing-masing mahasiswa. Juga tidak kurang penting adalah kesembronan dipihak penguji dalam menjaga standar penilaian yang stabil hal ini sukar dikontrol.

      Selanjutnya dia mengatakan bahwa di beberapa universitas, baik lingkungan maupun tradisi menghargai pertemuan antara dosen dan para mahasiswa di luar ruang kuliah atau laboratarium serta  kesediaan dosen dalam menyediakan waktu untuk mahasiswa berdiskusi dengannya, baik di ruang kuliah maupun di laboratarium haruslah di sambut baik. Karena itulah makanya, hubungan informal antara dosen dan mahasiswa tetap dibina. Tetapi hubungan itu mengandung bahaya-bahaya tertentu. Salah satu bahayanya adalah bahwa dalam hubungan semacam itu sang dosen mungkin saja cendrung untuk lebih suka pada bebrapa mahasiswa dengan pada mahasiswa-mahasiswa lain, memberi mahasiswa-mahasiswa yang disukainya lebih banyak kesempatan untuk berdiskusi di kelas atau dalam seminar. Beberapa bahaya jika hubungan antara dosen dengan para mahasiswa terjalin rapat adalah terjadinya  diskriminasi dalam penilaian dan terjadinya relasi seksual.

Contoh,

     Dalam perkuliahan, seorang dosen bahasa Indonesia mestilah melakukan penilaian terhadap mahasiswanya. Walaupun cara menilai itu dapat dilakukan dengan bermacam-macam, namun hendaklah dilakukan dengan secara adil dan objektif. Dalam memberikan penilaian ini,  dia hendaklah hati-hati supaya tidak terjerat dengan  relasi seksual. Relasi itu tentu  mengandung bahaya-bahaya tertentu. Salah satu bahayanya adalah bahwa dalam hubungan semacam itu sang dosen mungkin saja cendrung untuk lebih suka pada bebrapa mahasiswa daripada mahasiswa-mahasiswa lain, memberi mahasiswa-mahasiswa yang beralasi itu dengan niali lebih tinggi di banding yang lainnya.

 

6.      Sebagai kewajiban terhadap para mahasiswa, para dosen seharusnya     mendorong mahasiswa cepat menyelesaikan pendidikannya, tidak menganggu  serta mengacau pelaksanaan penelitian dan administrasinya.

Contoh,

           Dosen bahasa Indonesia seharusnya memberikan motivasi dan  teknik atau kiat tertentu kepada mahasiswanya agar cepat menyelesaikan perkuliahan maupun penelitian dan jika perlu dengan senang hati meminjamkan sesuatu yang sangat diperlukan mahasiswanya, seperti meminjamkan buku-buku asing yang diperlukan untuk mendukung teori-teori penelitian yang sulit ditemukan di pustaka atau toko buku.  Sebaliknya, tidak selayaknya jika ada seorang dosen bahasa Indonesia yang justru mempersulit proses perkuliahan atau penelitian yang sedang dijalankan oleh mahasiswanya seperti dengan jarang datang ke kampus atau tidak menaati jadual konsultasi yang telah disepakati bersama sehigga mahasiswa sulit dalam menyelesaikan perkuliahannya, bahkan tidak jarang terjadi seorang mahasiswa terlambat diwisuda gara-gara hanya terlambat dalam mendapatkan tanda tangan seorang dosen.

 

7.      Dosen  tidak boleh menyalahgunakan wewenang yang diperolehnya walaupun  dalam bidangnya ia mempunyai banyak  pengetahuan dibandingkan dengan para mahasiswanya. Bagaimanapun juga satu yang jelas, pengajar wajib untuk tidak  menggunakan ruang kuliah sebagai tempat   meraih pendukung bagi pandangan     

      politik ataupun bagi partai politiknya.

                 Mestinya dosen menyembunyikan keyakinan politik dan moralnya dan pernyataan menyangkut preferensi etis dan politis dihindari dalam pengajaran universitas, karena hubungan dosen dan mahasiswa di aula tempat  kuliah tidak memungkinkan para mahasiswa mengkritik pernyataan dosen itu. Sebenarnya dosen harus membiarkan mahasiswa bebas untuk membuat keputusan politiknya sendiri.

     Pengajar yang mengungkapkan penilaian sosial dan politisnya perlu berusaha untuk menjelaskan bahwa ia sedang mengungkapkan penilaian sendiri dan perlu menerangkan dengan sejelas mungkin perbedaan antara apa yang didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang dikaji secara cermat dan sudut pandang politik atau moral apa yang dipakainya untuk menilai situasi (Shils,1993:90). 

      Contoh,

     Seorang dosen bahasa Indonesia yang sudah bergelar profesor, doktor, master, dan yang tidak diragukan lagi kemampuan akademiknya. Disamping itu, dia juiga aktif dalam partai politik tertentu, misalnya Partai Keadilan sejahtera (PKS) namun ia tidak boleh menggunakan ruang kuliah untuk meraih dukungan dari mahasiswa bagi partai politiknya.

 

C.  Beberapa Penyakit Dosen yang Harus Dihindari

 

  1. Galat Atribut

Tresna (1988:77) menjelaskan bahwa ada suatu prilaku dari dosen yang harus dihindari sehubungan dengan kegiatannya di universitas yaitu apa yang disebut dengan galat atribut (sifat menyalahkan). Cara ini ialah kecendrungan untuk menyalahkan  apa-apa yang di luar kita untuk masalah kita sendiri. Dosen yang tidak memperoleh bantuan atau kerja sama dari mahasiswa akan menyalahkan mahasiswanya, fasilitas sekolah, waktu, cuaca, atau sifat mata pelajaran itu sendiri. Apa yang tidak tampak ialah kekurangan atau tanggung jawab diri sendiri untuk tiadanya keikutsertaan mahasiswa. Dosen tidak pernah bertanya, “Mengapa saya membosankan kelas? Tindakan apa yang telah saya lakukan, yang menghalangi interaksi? Bagaimana hubungan saya dengan kelas terganggu?”

Keccendrungan menyalahkan situasi luar ini tidak sepenuhnya salah. Memang ada juga di antaranya yang ditemukan di lapangan namun tentu memerlukan adanya introspeksi diri dan analisis lingkungan. Mengabaikan salah satu akan terjadi galat pertimbangan. Untuk mengatasi masalah ini ajukanlah pertanyaan ini: “Bagaimana prilaku saya (dosen) dan berbagai aspek situasi menggiur ke dalam masalah ini? Bagaimana meningkatkan minat, partisipasi, dan keterlibatan?”   

Contoh,

     Dosen bahasa Indonesia menyebarkan angket penelitian yang harus dijawab oleh mahasiswanya, akan tetapi setelah dianalisisnya hasil agket itu, ternyata hasilnya  tidak memuaskan lalu secara serta merta tanpa mengoreksi diri mengatakan bahwa penyebabnya adalah  mahasiswa, fasilitas sekolah, atau hal lannya. Pada hal, jika ia mau bersikap arif maka akan diketahuinya bahwa penyebab kegagalannya mungkin disebabkan selama ini dia kurang apresiatif dan kooperatif dengan mahasiswanya sehingga angket yang diisi tidak direspon dengan serius oleh mahasiswanya.

 

  1. Keyakian Irasional

Salah satu keyakinan yang mengendalikan prilaku dosen ialah keyakinan irasional. Keyakinan itu bercirikan pikiran-pikiran yang tidak logis  dan berlebih-lebihan. Keyakinan irasional tampak pada pernyataan bernada ekstrim dan mutlak seperti mengandung kata-kata “semua, setiap, selalu, harus perlu, wajib, dsb”.

Keyakinan irasional mencegah dosen untuk menyelidiki ide lebih lanjut untuk melibatkan diri.

Ada beberapa gambaran yang mencerminkan keyakinan itu, di antaranya:

 

  1. Generalisasi berlebihan:

          Contoh,

 Pernyataan dosen bahasa Indonesia akan berbunyi seperti berikut: “Ah, metode pengajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis mahasiswa bahasa Indonesia dengan teknik copy master tidak jalan. Saya telah mencobanya di ruang kuliah, ternyata terjadi malapetaka. Teknik ini yang semula hanya dimaksudkan sebagai langkah awal untuk meningkatkan ketampilan menulis mahasiswa namun jusru digunakan untuk meng-copy master karya tulis orang lain”. Mahasiswa disuruh menulis karya tulis oleh dosen, tetapi salah seorang telah membuatnya dengan  meng-copy master karya orang lain. Kenyataan ini mungkin ada satu-satu terjadi di kalangan mahasiswa.  Akan  tetapi terlalu berlebihan untuk menggeneralisasikannya secara keseluruhan.

 

      b.   Menggambarkan bencana:

          “Saya memeras otak berusaha membuat suasana kuliah bahasa Indonesia agar sangat menarik. Tetapi tidak sedikit pun mahasiswa meresponnya. Saya berfikir sungguh-sungguh bahwa saya ini gagal total sebagai dosen bahasa Indonesia”.

 

      c.   Berfikir Negatif

“Saya bukan dosen bahasa Indonesia yang baik. Keterampilan saya sebenarnya ialah menulisdan mengarang bukan mengajar di depan ruang kuliah ini. Saya merasa kurang yakin berdiri di depan mahasiwa. Saya yakin bahwa mereka mengetahui kelemahan saya ini. Biarlah terima saja nasib ini”.

 

  1. Ketidakpekaan akan Umpan Balik

     Tresna (1988:90) mengatakan bahwa orang sering cendrung tidak peka akan umpanbalik bila ada hal yang berlawanan dengan konsep dirinya. Ia bukan bertanya bagaimana inforamasi yang diterima itu menyangkut dirinya, tetapi mengacuhkannya, mengubahnya, atau memutarbalikkannya sehingga menjadi sesuai degan keinginannya. Dosen yang tidak peka dan yakin bahwa pekerjaannya sopan atau layak, mungkin akan mengabaikan tindakan yang sebenarnya berlawann dengan keyakinannya. Berita tentang ketiadaan minat siswaa akan ditolaknya atau siswa dipersalahkannya. Adalah diragukan bahwa prilaku ini akan membantu melindungi konsep dirinya.

                  Orang sering mengabaikan yang jelek perihal kelakuan mereka tetapi membesar-besarkan pa yang apa yang dilakukan baik. Hal ini akn mengurangi kesediaan untuk mencari pengalaman baru danmengarahkan hidup kita kea rah yang lebih baik. Orang akan cendrung melakukan kebiasaan lama, daripada mengubah kelakuannya yang kurang baik. Demikialah diperoeh masalah gaya belajar yang terbatas.

Agar umpan balik bekeerja sebagaimana mestinya kita harus berfikiran erbuka, bersedia menelaah apakah adfa hubungannya dengan massalah pelajaran di kelas.. Terutama bila umpan balik itu amat khusus dan menyangkut prilaku kita yang dapt kita ubah. Prilaku yang mudah diamati lebih dahulu diperhatikan kesediaan untuk berubah dan keterbukaan akan saran-saran orang lain amat diperlukan agar umpan balik itu efektif.

Contoh,

          Seorang dosen bahasa Indonesia telah ditugaskan mengajar di sebuah lokal tertentu namun ketika dia akan memulai perkuliahannya di dalam lokal ternyata tak ada seorang pun mahasiswa di dalamnya. Menurut informasi yang berkembang bahwa mahasiswa tidak mau mengikuti perkuliahan dengannya karena dia banyak menyulitkan mahasiswa. Mahasiswa menilai bahwa dosen itu sering terlambat datang ke kampus. Jika datang, jarang yang tidak marah-marah  kepada mahasiswa di dalam perkuliahan. Selain itu, dia juga cendrung tidak logis dan subjektif dalam memberikan peneliaian kepada mahasiswa bahkan sudah banyak  mahasiswa yang gagal atau mendapat nilai sangat rendah dengannya. Mestinya dia harus peka terhadap keadaan itu dan bisa menjadikannya sebagai umpan balik dalam memperbaiki dirinya di masa yang akan datang. Jadi, tidak mengacuhkan, mengubah, atau membalikkannya sehingga   menjadi sesuai dengan keinginannya.

 

  1. Menghentikan Pengawasan (kontrol)

Persolan pengawasan lingkungan dan penggunaan kekuasaan mempunyai peranan penting dalam rancangan prosedur kelas. Dosen juga berusaha untuk memelihara pengaruhnya, misalnya menggunakan metode dan proses tertentu dalam merancang kelas. Dosen juga mengatur sistem penilaian, menerapkan aturan kehadiran, menentukan prasarat format dan pola, menentukan topik makalah, menetapkan batas waktu penyampaian tugas-tugas, mematuhi kebijakan ujian, dan banyak lagi. Siswa amat sedikit pengaruhnya dalam menetapkan aturan-aturan yang berlaku untuk kelas (Tresna 1988:94)  

Agar diperoleh partisipasi siswa, perlu ada perubahan dalam penggunaan waktu kelas. Siswa perlu diberitahu untuk partisipasi di kelas. Prosedur pengajaran perlu memperhatikan kebutuhan siswa agar dapat belajar lebih efektif. Bila kesediaan dosen untuk mengatur kembali pembagian waktu ini, maka partisipasi siswa akan terhambat. Keengganan menghentikan pengawasan oleh dosen juga merupakan salah satu sebab pengaturan waktu kembali tidak dapat berjalan.

     Dosen juga berusaha untuk memelihara pengaruhnya, misalnya menggunakan metode dan proses tertentu dalam merancang perkuliahan.   Keengganan menghentikan pengawasan oleh dosen   juga merupakan salah satu sebab perkuliahan kembali  tidak dapat berjalan.

Contoh,

    Seorang dosen bahasa Indonesia yang sudah banyak memiliki gelar akademik dan mengajar di beberapa perguruan tinggi, baik dalam kota maupun luar kota bahkan luar provinsi. Dengan kesibukannya yang padat itu dia boleh saja merancang perkuliahan dengan metode dan proses tertentu, misalnya dengan pemberian tugas atau modul pembelajaran akan tetapi jika suatu saat dia menghentikan pengawasan karena kesibukannya yang semakin banyak tentu perkuliahan yang telah dirancang tidak akan berjalan dengan lancar.

 

5. Mendominasi pembicaraan

                 Centra (1982:61) mengatakan:

 

“The lecture is the most traditonal and, considaring all its forms, the mostly widely used approach to instruction. It is also the most critized because  of its teacher-center nature and general misuse at all levels of education. The type of lecture can range from a formal extended presentation, used primarily in high school and college large-group sessions, to informal explanations used at both elemetary and secondary levels. A major characteristic   of all lecturer, though, is that the teacher engeges primarily in one-way communication and thus dominates classroom verbal activity. Although the time periode of a lecture may range from several minute to over an hour, the student’s role is mainly a passive one with 80-90 percent of verbalizations being teacher-talk.

The vast majority of lectures are use for the purposes of introducing, informing, demonstrating, and summarizing.”

 

     Seorang dosen yang sangat tradisional adalah secara sangat luas dan terlalu mempertimbangan segala kondisi dirinya dalam pendekatan pengajaran. Keadaan itu sangat dikritik sebab secara umum dan alamiah pengajaran yang berpusat pada guru adalah tidak tepat (salah penggunaan) pada semua level atau jenjang pendidikan. Tipe seorang dosen dapat diukur dari sebuah penyajian pengembangan formal, digunakannya secara utama di sekolah tinggi atau kampus dalam bagian kelompok yang besar, penjelasan-penjelasan informal digunakan pada kedua level dasar dan menengah. Karakteristik utama dari seluruh dosen dalam hal pemikiran adalah dia secara utama mengembangkan pola komunikasi satu arah dengan demikian dia mendominasi kelas dengan aktivitas verbalnya (ceramah). Walaupun waktu perkuliahan seorang dosen mungkin telah dijarakkan beberapa menit dari satu jam lebih, namun keberadaan siswa secara utama menjadi orang yang pasif  80—90 persen akibat dari pembicaraan  hanya didominasi oleh dosen. Mayoritas seorang dosen itu dalam pembicaraan hanya untuk tujuan perkenalan, pemberitahuan,  penjelasan, demonstrasi, dan penyimpulan.

              Dari pendapat centra tersebut dapat disimpulkan bahwa mestinya seorang dosen itu jangan terlalu mendominasi pembicaraan di ddalam ruang kuliah sehingga mahasiswa pasif saja. Seorang yang sangat tradisional itu adalah menganggap seluruh bentuk-bentuk yang dimilikinya, secara dalam dan luas menggunakannya dalam pendekatan pengajaran. Suatu kritikan yang sangat tajam ditujukan kepada seorang dosen apabila dia mengajar terlalu berpusat kepadanya. Secara umum dan alamiah keadaan itu salah diterapkan pada semua jenjang pendidikan. Mestinya dalam perkuliahan, dosen itu mendominasi pembicaraan hanya untuk tujuan perkenalan, pemberitahuan,  penjelasan, demonstrasi, dan penyimpulan. 

 

III. SIMPULAN

 

Mengajar di perguruan tinggi atau universitas memiliki intensitas yang tinggi dalam bidang pengetahuan dan penyebarluasannya. Dosen tidak saja dituntut untuk memilik kedalaman dalam bidang objek material keilmuannya tetapi juga memiliki berbagai variasi metode, teknik, dan etika akademik dalam menyampaikannya kepada para mahasiswa.Untuk memperoleh dan menyampaikannya kepada para mahasiswa, mereka haruslah berpegang kepada ketentuan-ketentuan akademis universitasnya.

Kewajiban umum dosen dalam bidang pengetahuan ialah  melakukan penelitian yang dapat diterbitkan,  baik di kalangan akademis maupun masyarakat umum. Sedangkan kewajiban utamanya terhadap pengetahuan adalah meyampaikan kebenaran dalam bidang yang diajarkannya atau ditelitinya. Dalam menjalankan kewajibannya terhadap pengetahuan, dosen boleh melakukan berbagai penelitian yang meliputi yang keilmuan yang digelutinya. Dalam konteks akademis dan demi untuk mengembangkan keilmuannya, dia boleh melakukan apa saja tanpa terikat dengan nilai-nilai sementara menurut sebagian pendapat lain mengatakan harus terikat dengan nilai-nilai. Hal itu biasanya bergantung kepada visi dan misi serta tujuan yang diemban oleh univesitas yang bersangkutan.

Kepada mahasiswa, para dosen di samping melakukan penelitian, dia juga harus mengajar di dalam kampus sebagai mana layaknya proses belajar mengajar. Jadi dia tidak melulu sibuk mengadakan penelitian, namun pembinaan  pikiran dan watak mahasiswa terhadap melakukan penelitian harus dibina juga dalam pengajaran. Pengajaran bukan sekedar pengalihan sekumpulan pengetahuan, teoritis ataupun faktual yang penting saja, namun harus bertujuan untuk menyampaikan pemahaman tentang kebenaran-kebenaran fundamental dalam bidang itu serta metode-metode dan teknik-teknik penelitian dan pengujian yang khas dalam bidang bersangkutan.

Ketika dosen menyampaikan  keilmuannya kepada para mahasiswa, hendaklah ia ia tidak jatuh dalam dogmatisme serta mempengaruhi siswanya untuk menjadi pendukungnya. Terbelenggu dengan sebuah dogmatisme berarti dosen tidak setia pada kewajiban untuk mengkomunikasikan kebenaran.

Eksistensi seorang dosen dalam mengajar ditunjang oleh kesungguhan para koleganya dalam melakukan pengajaran masing-masing. Terpeliharanya integritas  intelektual bukan hanya persolan kekuatan watak pribadi saja tetapi juga merupakan fungsi dari lingkungan pergaulan seorang dosen dengan yang lainnya  di universitas.

Dalam memberikan penilaian kepada para mahasiswa, dia hendaklah berlaku adil, objektif, dan sedapat mungkin menekan faktor subjektifitas . Adalah berbahaya jika hubungan antara dosen dengan para mahasiswa terjalin rapat sehingga mengakibatkan terjadinya  diskriminasi dalam penilaian, relasi seksual, dan beberapa akibat buruk lainnya.

Dosen tidak boleh menyalahgunakan wewenang yang diperolehnya walaupun dalam bidangnya ia mempunyai banyak pengetahuan dibandingkan para mahasiswanya serta menggunakan kelebihannya itu untuk mendapatkan dukungan  partai politiknya.

Beberapa Penyakit  yang harus dihindari dosen dalam pengajarannya adalah 1) galat atribut, 2) keyakinan irasional, 3) ketidakpekaan akan umpan balik, 4) menghentikan pengawasan, dan 5) mendominasi pembicaraan. Keyakinan Irasional meliputi: a) generalisasi berlebihan, b) menggambarkan bencana, c) dan berfikir negatif.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Bloomfield, Leonard. 1933. Language. New York: Holt,

Rinehart.

Buchori, Mochtar. 2001. Before and after Reformasi.

Jakarta: The Jakarta Post in Cooperation with The Asia Foudation.

Centra, John A. 1982. Determining Faculty Effectiveness.

London: Jossey-Bass Publishers.

Chomsky. 1965. Aspects of the Theory of Syntax. Cambridge: MIT Press.

Dardjowidjojo, Soenjono. 1991. Pedoman Pendidikan

Tinggi. Jakarta: Gramedia Widia sarana Indonesia.

Echols, John M. dan Hassan Shaddily. 1995. Kamus Inggris Indonesia.

Jakarta:Gramedia.

Gagne, Robert Mills. at al. 1988.  Principles of 

Instructional Design. Tokyo: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.

Hamidy, H. Zainuddin (Penyusun).1982. Al-Quran:

askah Asli, Terjemahan, Keterangan Lengkap 30

Juz. Jakarta: Widjaya.

Kasih, Ekawahyu dan Aziz Suganda. 1999. Pendidikan

Tinggi Era Indonesia Baru:Sebuah Konsep Upaya

Praktis Peningkatan Pemerataan dan Kualitas.

Jakarta: Grasindo.

Sastrawijaya, Tresna. 1988. Proses Belajar Mengajar di

Perguruan Tinggi.Jakarta: Depdikbud Dirjendikti PPLPTK.

Shils, Edward. Tanpa tahun. Etika Akademis. Terjemahan

oleh Parsudi Suparlan. 1993. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Skinner, Burhus. 1958. Verbal Behaviour. New York:

Appleton Crofts.

Strike, Kenneth A. 1984. The Ethics of Teaching. New

York: Teacher CollagePress.

Prayitno. 2004. Buku Panduan Penulisan tesis dan

Disertasi. Padang: PPSUNP.

Soedarsono, FX. 2001. Mengajar di Perguruan Tinggi:

Aplikasi PenelitianTindakan Kelas. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.

Tucker, Allan and Robert A Bryan. 1991. The Academic

Dean Dove, Dragon, and Diplomat. New York: American Council on Education/Macmillan Series on

Higher Education.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: