KARAKTERISTIK UJARAN ANAK PADA FASE HOLOFRASIK


Erzuhedi

I.  PENDAHULUAN 

Latar Belakang Pembahasan
Pertumbuhan dan perkembangan manusia membutuhkan waktu yang panjang serta terdiri dari atas fase-fase yang memiliki ciri-ciri tersendiri. Di antara fase-fase itu, fase pertumbuhan awal atau pertumbuhan anak-anak merupakan fase yang paling banyak mendapat sorotan karena mengandung arti penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia pada masa selanjutnya. Bahkan para ahli ilmu jiwa perkembangan seperti Charlott Buhler dalam ( Simanjutak, 1984: 19 ) menganggap tingkat perkembangan anak pada fase ini sangat penting sehingga mereka berpendapat bahwa fase perkembangan anak pada masa ini menentukan corak dan kualitas manusia pada saat mereka menjadi dewasa, baik dalam aspek fisik, psikis, maupun sosial.          

Perkembangan anak ini juga diikuiti dengan perkembangan bahasanya. Hal ini sejalan dengan aliran rasionalisme yang mengatakan bahwa perkembangan bahasa anak mengikuti suatu pola tertentu. Setiap pola perkembangan anak mempunyai tatabahasa  sendiri-sendiri pula, yang mungkin saja tidak sama dengan tatabahasa orang dewasa.           

Awal perkembangan bahasa pada dasarnya dapat diartikan sejak  mulai adanya tangis pertama bayi , sebab tangis bayi saja dapat dianggap sebagai bahasa  anak. Menangis bagi anak juga merupakan sarana mengekpresikan kehendak jiwanya.           

 Perkembangan bahasa berikutnya, secara berangsur-angsur akan mengikuti bakat serta ritme perkembangan yang alami. Akan tetapi, perkembangan tesebut akan dipengaruhi oleh lingkungan serta fungsi bahasa anak. Bahasa bagi anak juga berfungsi sebagai alat komunikasi, yakni untuk menyampaikan maksudnya kepada orang lain.           

 Setiap anak memperoleh bahasa pertama pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Pemerolehan bahasa dapat terjadi tanpa adanya pengajaran khusus. Gejala pemerolehan bahasa pada hakikatnya merupakan perkembangan psikologis yang luar biasa dalam diri anak. Mengenai pemerolehan bahasa semua anak mendapatkan bahasa pertamanya secara tidak sadar dengan jalan mendengar langsung dari lingkungannya. Pemerolehan tersebut berupa ujaran yang dapat didengarnya dari orang tua, para pengasuh, anak-anak yang lebih tua, teman sepermaian, televisi, radio, dan teman bermain.           

Pemerolehan bahasa di lingkungan sosial, pertama kali anak dapatkan dari lingkungan keluarga, terutama ibu dan pengasuh. Ketika berbicara dengan bayi, ibu biasanya menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam percakapan orang dewasa, misalnya dia menggunakan ujaran mamam, mimi, dan sebagainya.           

Seorang anak akan memperlihatkan apa yang diujarkan oleh lingkungan sosialnya dengan cara mengamati kemudian menirukannya. Pengamatan dan peniruan memegang peranan penting dalam menghasilkan bahasa tetapi tidak cukup untuk belajar bahasa. Anak secara aktif menyusun cara-cara untuk menggunakan bahasa itu dari apa yang dikatakan kepada mereka.            Ada beberapa faktor penting mengenai bahasa yang diujarkan anak. Yang pertama, bahasa lisan atau bahasa yang mereka dengar. Kedua, bahasa tak terkendali secara linguistik. Anak memperoleh bahasa tanpa dicerna terlebih dahulu. Bahasa dalam lingkungan anak tidak terkendali, dalam pengertian bahasa tersebut tidak tertata menurut tata bahasa yang sempurna. Bahasa yang dimiliki anak itu berkembang terus tahap demi tahap dan makin berdiferensiasi dengan perkembangan intelegensi dan latar belakang sosial budaya yang membentuknya ( Pateda, 1988: 42 ).           

Proses pemerolehan bahasa terjadi secara bertahap. Ujaran yang dimiliki anak  juga berkembang dengan makin bertambahnya usia anak tersebut dan akan mengalami perkembangan bahasa melalui tahap-tahap tertentu. Yang lebih menarik anak tidak hanya mempunyai kemampuan untuk meniru yang pernah mereka dengar tetapi anak juga bisa mengujarkan sesuatu dengan kata-kata yang dihasilkannya sendiri. Biasanya kata-kata itu tidak memiliki arti yang sulit untuk dimengerti oleh orang lain. Setiap orang mengalami proses tesebut dan menguasai bahasa ibunya, tetapi tidak seorang pun yang ingat apa yang terjadi selama proses itu berlangsung.           

Selama lebih kurang dua dekade, masalah pemerolehan bahasa mendapat perhatian yang sangat besar. Menurut Tarigan ( 1985 ) pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin rumit atau teori-teori yang masih terpendam. Senada dengan pendapat di atas Marjusman ( 1993: 20 ) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak-anak secara tidak sadar, implisit, dan informal. Kedua pendapat di atas memperlihatkan bahwa pemerolehan bahasa pada anak merupakan suatu prestasi yang paling menakjubkan. Proses pemerolehan bahasa tidak mengenal adanya guru, waktu, dan tempat khusus tetapi terjadi secara alamiah.           

Kadang kala kita sebagai orang tua atau orang yang sudah dewasa jarang memperhatikan bagaimana seorang anak menguasai bahasa dan maknanya. Kita hanya menganggap proses tersebut terjadi secara alami saja. Pada hal dalam kenyataan, masalah ini sangat rumit. Sering kali kita sukar memahami apa yang dia katakan, karena pada umumnya anak mengganti bunyi-bunyi tertentu dengan bunyi-bunyi yang lain.            Berdasarkan uraian di atas, nampaknya perkembangan pemerolehan bahasa anak merupakan suatu kajian  yang menarik untuk “dipergunjingkan” oleh kita semua, termasuk bagi kaum bapak-bapak yang kadang-kadang jarang memperhatikan masalah ini. 

Batasan pembahasan
Banyak ranah, aspek, dan komponen bahasa yang bisa diteliti dari anak sehubungan perkembangan pemerolehan bahasanya, mulai dari fase pralinguistik samapai  fase linguitik. Begitu pula yang menyangkut dengan anak sebagai makhluk individu yang menyimpan berbagai misteri tentang bagaimana bahasa bisa diperoleh anak, baik secara alami maupun belajar.

Para ahli menomori perkembangan linguistik nampaknya bersifat sewenang-wenang dan berbeda-beda dari pengarang ke pengarang. Kalau memperbandingkan pandangan-pandangan tertulis tahap-tahap pemerolehan, hendaknya kita lebih memusatkan  perhatian pada karakteristik tahap-tahap yang beraneka ragam itu daripada kepada sistem penomoran yang dipakai oleh setiap pengarangnya. Sebagaimana kita dapat berkata bahwa seorang bayi berada pada tahap merangkak, kemudian tahap berjalan, maka kita pun dapat berkata bahwa seorang bayi berada dalam tahap satu kata diikuti oleh tahap dua kata. Secara bertahap berjalan menyusul merangkak, tetapi jelas kedua tahap tersebut bertumpang tindih. Sama juga halnya dengan tahap-tahap perkembangan satu kata dan dua  kata. Kanak-kanak terus mempergunakan ucapan-ucapan satu kata setelah mereka mengembangkan keterampilan menggunakan ucapan-ucapan dua kata, tetapi ucapan-ucapan satu kata itu berkurang dalam frekuensi.Ada banyak hal yang bisa dikaji sehubungan dengan pemerolehan bahasa anak, baik dari segi fonologi, morfologi, sintaksis, maupun pragmatik. Masing-masing aspek ini bisa pula dikembangkan lagi menurut perkembangan urutan menurut kurun waktunya, mulai dari bulan pertama anak lahir sampai batas akhir proses pemerolehan bahasa yang menurut beberapa orang ahli berkisar enam tahun.

Pokok Bahasan
Begitu banyak persoalan yang menarik dalam proses pemerolehan bahasa anak yang dapat diungkapkan, diperbincangkan, atau diteliti. Ketertarikan itu tidak saja disebabkan karena menemukan sesuatu yang baru atau yang selama ini tidak teramati, tetapi juga karena memberikan sesuatu yang menggelitik pikiran dan bahkan membingungkan yang kadang-kadang tidak ditemukan rumus untuk menjelaskan dan menyelesaikannya.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis hanya memfokuskan pada masalah bentuk, jenis, fungsi, dan konteks ujaran anak pada fase holofrastik.

Tujuan Pembahasan
Makalah ini bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk, jenis, fungsi, dan konteks ujaran anak pada fase holofrastik. Dengan ini diharapkan  pemahaman tentang karakteristik bahasa anak pada fase holofrastik semakin jelas dan lengkap, sehingga ibu, bapak, kakak, pengasuh, atau siapa saja yang  hidup berdekatan dengan anak pada fase ini dapat lebih mudah memahami proses dan perkembangan pemerolehan bahasa anaknya.
Manfaat Pembahasan
Adapun manfaat pembahasan dari pembicaraan yang berkaitan dengan karakteristik ujaran anak pada fase holofrastik ini adalah sebagai berikut:1.      Sebagai pedoman  bagi orang-orang yang dekat dengan anak ( orang tua, pengasuh, saudara, dll )untuk memahami fungsi, bentuk, dan konteks ujaran-ujaran anak pada fase holofrasa.2.      Pengetahuan ini juga berguna bagi anggota masyarakat lainnya dalam memahami perkembangan bahasa anaknya.3.      Dengan memahami perkembangan pemerolehan bahasa anak, setidak-tidaknya orang telah memiliki pengetahuan tentang kriteria umum pemerolehan bahasa yang bisa dijadikan sebagai acuan atau pembanding terhadap pemerolehan bahasa anak yang tidak normal.4.      Membangkitkan kesadaran orang tua, terutama bapak-bapak, bahwa sebenarnya dia adalah bagian dari konteks yang ikut membina perkembangan pemerolehan bahasa anak yang selama ini jarang memperhatikannya. II. TINJAUAN TEORI 

Bentuk
Kridalaksana (1993: 28 ) menjelaskan ada beberapa macam pengertian yang berkaitan dengan bentuk dalam kajian linguistik, diantaranya  adalah bentuk: akrab, alergo, antara, asal, asing, asterisk, bebas, dasar, hormat, kanonis, kata, kembar, lemah, lento, prototipe istilah, purba, sulih, tegun, terikat, turunan I, turunan II,  dan verba infinit.Yang dimaksud dengan bentuk dalam judul pada makalah ini bukanlah semua bentuk-bentuk yang berkaitan dengan apa yang telah dikemukakan oleh Kridalaksana itu melainkan pengertian yang tertuju pada kata bentuk itu sendiri dalam  kajian lingustik. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa pengertian bentuk (form) itu adalah !) Penampakan atau rupa satuan bahasa; 2) Penampakan atau rupa satuan gramatikal atau leksikal dipandang secara fonis atau grafemis.Wujud dari bentuk ini dalam ujaran anak dalam fase holofrastik ada yang sempurna atau utuh dan ada juga yang tidak sempurna atau tidak lengkap.Contoh bentuk yang tidak sempurna itu seperti: [dah]  yang berarti “kuda”, [teteh] yang berarti  “kakak”, [tan] yang berarti “ikan”, dan [yam] yang berarti “ayam”. Sedangkan contoh bentuk sempurnanya yaitu kata-kata seperti: kuda, kakak, ikan,dan ayam.Kedua bentuk-bentuk itu  sering muncul dalam konteks ujaran anak. Pada masa pemerolehan bahasa apapun dan oleh anak manapun di dunia ini bentuk yang lebih dulu muncul dan dikuasai anak adalah bentuk tidak sempurna kemudian baru diiringi dan diselingi oleh bentuk sempurna.

Kelas atau Jenis Kata
Kelas dalam konteks formal  linguistik bermakana 1) Perangkat bahasa yang mempunyai sifat-sifat  tertentu, 2)  Perangkat unsur-unsur bahasa yang mempunyai fungsi tertentu dalam struktur yang lebih tinggi. Selanjutnya pengertian kelas ini berhubungan dengan pengkajian masalah bidang kategori yang berarti sebagai hasil pengelompokan unsur-unsur bahasa yang menggambarkan  pengalaman manusia. Di samping itu, bisa diartikan sebagai golongan satuan bahasa  yang anggota-anggotanya mempunyai  perilaku sintaksis dan mempunyai sifat hubungan  yang sama.Adapun kelas kata atau jenis kata yang dimaksudkan dalam makalah ini adalah pengertian yang berhubungan dengan apa yang dikatakan oleh Kridalaksa (1993: 104) yaitu golongan kata yang memilik kesamaan  dalam perilaku formalnya; klasifikasi atas nomina, ajektiva dan sebagainya itu diperlukan untuk membuat pengungkapan kaidah gramatika secara lebih sederhana. Ciri-ciri formal kelas kata berbeda dari suatu bahasa  ke bahasa lain; misalnya dalam bahasa Indonesia ditandai oleh [-tidak], dalam bahasa Inggris nomina  mempunyai penanda pluralis dengan genitif ”s”. Secara universal dan dipandang dari sudut semantik ada persamaan antara kelas  dalam pelbagai bahasa; misalnya nomina biasanya mewakili orang atau benda.

Konteks
Konteks adalah aspek-aspek linguistik fisik atau sosial yang kait-mengkait dengan ujaran tertentu. Konteks dapat juga dikatakan  sebagai pengetahuan  yang sama-sama dimiliki pembicara dan pendengar sehingga pendengar paham apa yang dimaksud dengan pembicara. Ada beberapa macam konteks yang terkait dengan permasalahan ini. Pertama, konteks budaya yaitu keseluruhan kebudayaan atau situasi nonlinguistik dimana sebuah komunikasi terjadi. Kedua, konteks sintaksis yaitu lingkungan gramatikal dari suatu unsur bahasa yang menentukan kelas dan fungsi unsur tersebut. Ketiga, konteks semotaktis yaitu lingkungan semantis yang ada di sekitar  suatu unsur bahasa, makna unsur bahasa. Keempat, konteks linguistis, yaitu  konteks yang memberikan makna yang paling cocok  pada unsur bahasa, konsep yang mencakup konteks sintaksis dan konteks semotaktis. Kelima, konteks situasi yaitu lingkungan nonlinguistik ujaran yang merupakan alat untuk memperinci ciri-ciri situasi yang diperlukan untuk  memahami makna ujaran. Dalam teori ini makna merupakan  hubungan yang kompleks antara ciri linguistik dari ujaran  dan ciri situasi sosial  ( Kridalaksana, 1993: 121 ).Wert dalam ( Yasin, 1984: 264 ) membagi konteks menjadi konteks linguistik dan konteks situasional ( konteks eksralinguistik ). Konteks situasional dibagi menjadi dua, yaitu konteks budaya dan konteks langsung. Sementara konteks linguistik dibagi menjadi konteks wacana dan konteks semiotik.Kemudian dia mengatakan bahwa konteks budaya adalah situasi budaya dimana ujaran terjadi yang ikut mempengaruhi cara-cara berbahasa yang diakibatkan oleh kepribadian, sikap, dan tingkah laku. Konteks langsung dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti setting, partisipan, bentuk bahasa, topik pembicaraan, dan fungsi tindak tutur. Konteks linguistik adalah pertanda-pertanda yang dapat memberikan petunjuk tentang hubungan antara pertanda-pertanda tersebut dengan aspek-aspek bahasa yang ada di sekitarnya. Konteks wacana lebih banyak dibicarakan  dalam konteks linguistik. Selanjutnya konteks semantik  lebih banyak berkaitan dengan bidang sintaksis. Dalam makalah ini makna konteks lebih banyak dikaitkan dengan pengertiannya sebagai  faktor luar yang menetukan  fungsi komunikasi dari bahasa seseorang yang dapat mebantu memahami apa yang menjadi dasar tuturan tersebut.            Lingkungan sosial anak, terutama lingkungan keluarga ( orang tua, saudara, dan pengasuh ) mempunyai pengaruh terhadap kosakata yang dimiliki anak. Sedangkan anak yang tidak lengkap diasuh oleh kedua orang tuanya  akan menghadapi masalah. Keadaan itu bisa menghambat perkembangan bahasa anak dari yang sewajarnya. Hal ini mungkin dirasakan anak ada sesuatu yang kurang, yaitu kasih sayang, misalnya dari bapak. Anak tidak sepenuhnya merasakan konteks komunikasi dengan bapak. Penyerapan dan peniruan intonasi, gaya bicara, pilihan kata, dan ekspresi bapak kurang memberikan pengaruh terhadap proses pemerolehan bahasa anak. Secara tidak langsung, perkembangan pemerolehan bahasa anak berbeda dari perkembangan sewajarnya.

Pemerolehan Bahasa
Menurut aliran linguistik kontemporer, sifat keuniversalan bahasa tidak dapat dipisahkan dari pemerolehan bahasa. Setiap anak  dapat memperoleh bahasa mana pun karena adanya sifat keuniversalan bahasa. Karena anak memiliki kemampuan memperoleh bahasa mana pun, maka pastilah ada sesuatu yang memikat bahasa-bahasa ini secara bersama yang sifatnya universal. Tanpa sifat ini mustahillah manusia dari pelbagai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda dapat memperoleh bahasa yang disajikan kepadanya.Chomsky ( dalam Darjowidjojo, 2000: 19 ) mengatakan manusia memiliki apa yang dinamakan faculties of mind, yaitu semacam kapling-kapling intelektual dalam benak mereka. Sejak lahir anak sudah memiliki bekal kodrati dalam bentuk suatu mekanisme absrak yang dinamakan dengan language  acquisition device ( LAD ). Salah satunya dari kapling ini diperuntukan untuk pemakaian dan pemerolehan bahasa.Lebih lanjut dia mengatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat kodrati dan merupakan suatu proses instingtif yang berlanjut dan berjalan secara konstan dari waktu ke waktu dengan mengikuti jadwal genetik sesuai dengan prinsip dan parameter yang terdapat pada tatabahasa universal.Sebagian ahli yang sependapat dengan Chomsky pada mulanya berpendapat sama tentang perkembangan genetki anak, namun sesudah itu, tidak berasumsi bahwa prinsip-prinsip formal yang tersedia bagi anak adalah konstan dari masa ke masa. Mereka berpandangan bahwa prinsip-prinsip tertentu menjadi matang pada saat yang berbeda-beda sehingga tatabahasa anak dengan sendirinya berubah-ubah dari satu ke waktu lainnya. Karena itulah pandangan mereka dikenal dengan nama maturation theory yang sebenarnya merupakan teori diskontinuitas.Menurut Chomsky, lingkungan memang berpengaruh untuk menentukan macam bahasa yang akan dikuasai tetapi tidak berpengaruh terhadap pemerolehan itu sendiri. Sebagian orang memang berkeras pendapat akan adanya dikotomi antara kekodratan dan lingkungan, sementara ahli lain mengakui akan adanya saling pengaruh keduanya. Jika diteliti perkembangan jumlah literatur yang ada sampai saat ini dapat dikatakan bahwa kelompok nativis lebih dominan. Periode Pemerolehan Bahasa Anak

Masa Cooing atau Mendekut
Anak dapat mengujarkan bunyi-bunyi seluruh bahasa di dunia, namun anak hanya akan mengujarkan bunyi-bunyi bahasa ibunya saja. Bunyi-bunyi yang dihasilkannya dapat digolongkan sebagai bunyi-bunyi linguistik sebenarnya. Bunyi yang dikeluarkan bayi pada masa ini adalah bunyi-bunyi linguistik nurani ( semula jadi ) yang bersifat sejagat.

Antara umur dua bulan sampai lima bulan anak sudah mulai prangoceh ( cooing ) dan bunyi yang dikeluarkan adalah bunyi yang mirip vocal /i/ dan kemudian vocal /u/ yang didahului oleh konsonan belakang /c/, /g/, /x/, dan /k/. Adapun bunyi-bunyi yang dikeluarkan ini tidak berlangsung lama.

Masa Membabel
Anak mengoceh mengucapkan satu kata dengan pola KV, begitu juga pada anak yang pekak. Setelah masuk pada tahap berikutnya pada usia satu tahun, maka anak yang pekak berangsur-angsur akan berhenti bersuara. Menjelang umur tiga puluh minggu ( 7 bulan 2 minggu ) bunyi menjadi lebih lama dan lebih stabil karena rongga mulut sudah mulai melebar, pernafasan lebih kuat. Adpun bunyi-bunyi yang dikeluarkan anatara lain /o/, /p/ bilabial berciri nasal /m/ dan kombinasi /p/ dan /a/ menimbulkan suku kata /pa/ dan / ma/. Karena proses reduplikasi terdengarlah / papa/ dan  /mama/ bersifat universal dalam bahasa manapun yang belum mempunyai makna, tetapi orang dewasa memaknainya “ayah dan ibu”. Berikut apikodental /t/ dan velar /k/. Dengan munculnya bunyi kontras sehingga terbentuklah segi tiga vocal /a/, /i/, dan /u/.
Fase Holofrastik
Ada beberapa istilah yang dipakai oleh beberapa pengarang untuk menamai fase holofrastik ini seperti masa tahap satu, tahap satu kata,  tahap linguistik pertama, dan tahap holofrastik. Meskipun berbeda-beda namun apa yang dimaksudkan oleh mereka itu semuanya hampir sama, yaitu mengatakan tentang perkembangan pemerolehan bahasa anak yang berkisar akhir umur satu  setengah tahun sampai dua tahun. Perhitungan umur ini hanyalah perkiraan saja. Artinya, terdapat beberapa variasi lamanya tahap ini bagi kanak-kanak yang normal.

Menurut Tarigan ( 1984: 256 ) tahap satu kata mulai sekitar umur satu tahun, akan tetapi justru pada saat inilah tahap-tahap perkembangan lingustik berhenti dihubungkan dengan usia secara terpecaya. Artinya perkembangan pemerolehan bahasa anak tidak bisa lagi secara pasti dipetakan menurut pembagian kurun waktu karena mulai tahap ini pemerolehan bahasa anak menunjukkan variabelitas lamanya tahap satu  ini bagi kanak- kanak normal.

Ada beberapa aktivitas anak pada tahap ini yang cendrung berupaya mengumpulkan nama-nama benda dan orang yang ada di sekitarnya. Anak mencari dan menemukan:

1) Kata tindak seperti makan, datang, dan pergi.

2) Ekspresi-ekspresi sosial seperti hei dan helo.

 3) Kata-kata lokasional seperti di sni, di sana, dan di     atas.

 4) Kata-kata pemerian seperti panas, dingin, dan besar.

Sebagai tambahan terhadap perbedaan  dalam jenis kata-kata yaang dipakai oleh anak-anak pada tahap holofrastik ini adalah pembagian berdasarkan cara mereka memakainya. Dengan sejumlah kata yang relatif terbatas, seorang anak dapat mengekpresikan berbagai ragam makna dan relasi dalam berbagai konteks.Ada sesuatu yang sangat menarik dari perkembangan bahasa anak pada fase holofrasa ini adalah satu kata yang diucapkan  anak mempunyai multi makna. Dengan kat lain, satu kata yang diucapakan anak mewakili makna satu atau lebih kalimat. Pada masa ini anak mengerti banyak kata, namun dia belum bisa merangkai atau mengucapkan kata tersebut, sehingga yang keluar dari mulutnya hanya satu kata. Hal ini menunjukkan bahwa kata yang diserap oleh anak lebih banyak dari kata yang dikeluarkan oleh anak tersebut. Oleh karena itu,  apa yang dimaksud oleh anak hanya bisa dia sebut dengan sangat terbatas. Jadi, kalau dihubung-hubungkan antara teori dan kenyataan yang ada di lapangan sangat relevan.

Akhir Tahap Satu Kata
Kemampuan berbahasa anak pada akhir tahap satu kata adalah:

Anak dapat menggunakan nomina untuk:
a)  Memperkenalkan objek ( misalnya buku gambar permainan memberi     nama ).

b)  Menarik perhatian seseorang pada sesuatu, misalnya peda   ( menyatakan ada sepeda ).

c)  Menyatakan sesuatu yang diinginkan  misalnya tipi { menyatakan ingin  menonton}        

 2. Kadang-kadang ia memakai satu nomina untuk:

a)         Memperkenalkan atau menyatakan    seseorang yang melakukan                     sesuatu,  misalanya pa ( untuk menyatakan papa sedang makan ).

 b)         Menyatakan objek suatu tindakan ( misalanya minum untuk  menyatakan  permintaan air ).

c)         Menyatakan penerima ( misalnya seseorang yang menerima sesuatu   dari   anak  itu ).

d)        Menyatakan lokasi ( misalnya meja atau kotak sebagai tempat    melekukan  sesuatu ).

e)        Menyatakan orang yang ada hubungannya dengan suatu objek  (misalnya    papa dan mama).

Refleksi dari keadaan ini adalah pemakaian kata tunggal oleh anak  sangat perlu diketahui oleh orang dewasa agar ia dapat memberi interpretasi  makna yang tepat pada kata itu sesuai dengan maksudnya. Pemilihan situasi bagi anak dalam menyampaikan kata yang dipakainya ikut membantu ibu dan pengasuh dalam menafsirkan makna ujaran anak ( Tarigan, 1984: 15 ).

Ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase karena kanak-kanak menyatakan  keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkannya itu. Demikianlah kanak-kanak yang menyatakan susu dapat berarti: dia ingin minum susu, dia memberi tahu bahwa dia memiliki susu, dan dia melaporkan bahwa susunya diminum kucing atau tumpah.

Anak sampai umur lima belas bulan sudah memilki komprehensi yang sudah baik dan dapat menunjukkan apa yang dinamakan gigi, telinga, hidung, dan beberapa anggota tubuh lainnya namun dalam bidang produksi, kemampuan dia masih terbatas. Karena keterbatasan ini biasanya anak bersintaksis dengan satu suku kata dan sampai dengan umur tujuh belas bulan jumlahnya masih sangat terbatas. Mengingat struktur kata bahasa Indonesia yang dwi atau polisilabik, pertanyaan yang muncul adalah  suku mana yang akan dipakai: pertama, kedua, ketiga,  atau yang lain ( Soenjono, 2000: 124 ).

Kemampuan berproduksi anak mulai tampak menanjak pada umur delapan belas bulan. Yang menarik pada tahap ini adalah bahwa kata-kata dia sudah ada yang bersuku dua, disamping kata-kata eka suku seperti :

[dah]      “kuda”         [teteh]        “kakak”

[tan]       “ikan”                              [yam]         “ayam”

[net]       “monyet”                      [peda]         “sepeda”

[da]       “kuda”                               [nani]         “menyanyi”

Seperti halnya ujaran pada umumnya, wujud sintaksis atau bentuk katanya yang belum berbentuk suku kata atau kata yang bisa berterima  dan sederhana sekali, namun semantiknya sangat komplek.

Ujaran Satu Kata: Umur Satu Tahun
Kira-kira pada usia satu tahun seorang anak mulai menggunakan serangkaian bunyi berulang-ulang untuk makna yang sama. Pada usia ini anak sudah mulai mengerti  bahwa bunyi ujaran itu berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata-kata yang pertama. Periode ini boleh dikatakan “satu kata sama dengan satu frasa atau satu kalimat” yang berarti satu kata yang diucapkan anak  itu merupakan  yang lengkap, contoh: “mam” ( saya minta makan ), “pa” ( saya mau papa di sini ), “ma” ( saya mau mama disini ).Mula-mula kata itu diucapkan anak karena ada rangsangan di sekitarmya, namun ketika dia sudah berusia lebih dari setahun maka ujaran “pa” berarti juga dimana papa? Dan “ma”  dapat juga berarti  “gambar seorang wanita di majalah itu ada mama”. Kata-kata yang biasa terdiri dari satu suku kata ( yang urutannya bunyi konsonan dan bunyi vokal ) tidak ada artinya bagi orang dewasa, tetapi bagi anak usia ini mempunyai arti khusus. Hanya orang tua atau pengasuhnya yang mengetahui apa maksud anak itu dengan mengucapkan “ni” umpanya yang berarti mandi ( Sri, 1988: 71 ). Menurut pendapat beberapa peneliti bahasa anak, kata-kata dalam periode ini mempunyai tiga fungsi yaitu

 1) Kata-kata itu dihubungkan dengan prilaku  anak itu sendiri atau suatu keinginan untuk berperilaku, 

2) Untuk mengukapkan suatu perasaan, dan

3) Untuk memberi suatu nama kepada benda.

Dalam bentuknya kata-kata yang diucapkan anak-anak itu terdiri dari konsonan-konsonan yang mudah dilafazkan seperti ( m, p, s, k ) dan vokal-vokal seperti ( a, i, u, o ). Tetapi meskipun pengungkapan anak itu masih sangat terbatas, menurut penyelidikan yang telah dilakukan para ahli, seorang anak mampu memakai perbedaan-perbedaan bunyi ujar yang lebih banyak daripada yang sanggup diucapkan.

Ujaran Satu-Dua Kata: Umur dua Tahun
Dalam bahasa-bahasa barat seperti bahasa Inggris, ujaran satu kata adalah ujaran satu suku kata karena pada umumnya kata-kata dalam bahasa ini bersuku satu. Dengan demikian ujaran dua kata sebenarnya  adalah ujaran dua suku kata. Pengertian ini sangat penting untuk pemerolehan  bahasa Indonesia karena kebanyakan kata dalam bahasa ini bersuku dua. Jadi ujaran satu kata bahasa Indonesia sebenarnya bisa sma  dengan ujaan dua kata pada bahasa Inggris, meskipun tentu saja ada perbedaan lain.Kebanyakan buku tatabahasa Indonesia, termasuk Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia ( 1998 ), menyatakan bahwa tekanan kata pada bahasa Indonesia jatuh pada suku penultimat ( kedua terakhir ). Apabila suku penultimat itu berupa pepet (schwa), maka tekanan dipindahkan  ks suku terakhir. Jadi untuk kata “gajah”  tekana jatuh pada pada suku “ ga” dan bukan pada “jah”. Sementara itu salah satu strategi  yang dipakai oleh anak untuk memilih suatu bentuk adalah bahwa bentuk tadi memiliki tekanan yang primer.

Di sini tampak ada suatu kontradiksi. Kalau memang benar bahwa tekanan  kata pada bahasa Indonesia jatuh pada suku penultimat, maka anak akan memilih [ga] dan bukan [dah]. Akan tetapi kenyataan lainnya menurut Soenjono ( 2000 ) anak Indonesia seperti Echa ternyata memilih suku terakhir [dah]. Sementara itu,  salah satu strategi lain  yang dipakai anak adalah dengan memperhatikan unsur akhir pada kata. Salah satu prinsip universal yang diajukan oleh Slobin ( 1979: 108 ) adalah Pay attention to the ends of words. Dari segi kognitif manusia, apalagi anak kecil, akan lebih mengingat apa yang terakhir didengarnya. Dengan strategi semacam ini, eksplanasi untuk memilih suku akhir sebagai wakil dari seluruh kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya telah terjawab. Masalah yang timbul adalah  bahwa kenyataan ini tidak didukung oleh strategi lain yang mendorong dipilihnya suku yang memiliki nukleus pronomina. Karena fakta yang ada adalah bahwa anak memilih suku terakhir, maka yang perlu dikaji adalah  apakah benar bahwa tekanan dalam bahasa Indonesia jatuh pada suku penultimat.

Menurut goedmans ( 1999 ) setelah ia menggeluti masalah tekanan  dan aksen dalam bahasa Indonesia dalam jangka waktu yang lama serta melakukan eksperimen untuk pembuktiannya sampailah pada suatu kesimpulan bahwa tidak alasan apapun  untuk mengatakan bahwa tekanan dalam bahasa Indonesia selalu jatuh pada suku penultimat bila suku kata itu bervokal penuh. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa orang Indonesia dari pelbagai latar belakang  bahasa yang berbeda memiliki pola yang berbeda-beda pula.

Dalam bahasa Inggris ujaran yang berwujud dua suku pada umumnya merupakan ujaran dua kata karena pada umumnya kata bahasa Inggris terdiri dari satu suku. Pada bahasa Indonesia, ujaran SKDS ( satu kata dua suku ) merupakan ujaran satu kata, jadi tahap  SKSS (satu kata satu suku ) bukan merupakan dua tahap yang terpisah. Percampuran antara SKSS dan SKDS terus berlanjut dan pada umur dua puluh bulan pun ujaran anak masih banyak yang SKSS.Yang menarik dari ujaran SKDS ini adalah  bahwa bila kata asalnya bila memiliki lebih dari dua suku, maka anak selalu memilih dua suku yang terakhir kecuali untuk kata-kata yang reduplikatif  dengan vokal yang sama yang tentunya tidak dapat dipastikan  dua suku mana yang  dipilih. Tidak ada bentuk sepe atau badmin  untuk mewakili kata sepeda dan batminton. Pemilihan dua suku terakhir ini mungkin berkaitan dengan kenyataan bahwa sampai saat ini belum ada peneliti yang menemukan tekanan pada bagian depan dari kata yang trisilabik atau lebih. Dengan kata lain, tekanan condong untuk berada di suku-suku belakang. Karena itu, bila harus dua dari sekian suku yang dipilih oleh anak, maka suku terakhir  dan sebelum terakhirlah yang diambil. Karena itu, kata yang dipilih loleh anak untuk sepeda, sepatu, batminton adalah masing-masing [ peda ], [ patu ], dan [ batminton ].Ada dua strategi yang diikuti oleh anak dalam merealisasikan  ujaran satu kata yaitu 1) Pada tahap awal ( umur 17 bulan ) semua ujaran diwujudkan  dalam satu suku dan suku yang dipilih  adalah suku  terakhir, 2)  Pada tahap awal berikutnya( umur 18 bulan ) ujaran ada yang diwujudkan  dalam dua suku, dan dua suku ini adalah suku terakhir, tanpa memperhatikan apakah kata asalnya memiliki dua suku atau lebih. G.    Pengusaan Sintaksis AnakWujud kalimat yang dihasilkan anak berbeda dengan kalimat yang di dengarnya dari orang dewasa. Kalimat anak merupakan reduksi kalimat orang dewasa. Faktor utama yang menyebabkan adanya reduksi kalimat orang dewasa itu ialah  rendahnya batas ingatan ( memory span ) untuk melukiskan peniruan  dan batas rentang pemograman  ( programming span ) anak untuk menyusun kalimat. Perbandingan antara panjang ujaran hasil peniruan ternyata sama dengan panjang ujaran yang dihasilkan secara spontan  oleh anak yang sama. Semakin meningkat usia anak , semakin tinggi batas rentang ingatan dan rentang pemograman itu.Anak-anak mengembangkan gramatikal  kalimat yang dihasilkan melalui peniruan. Peniruan kalimat itu  dengan memahami  makna kata-katanya  secara keseluruhan, tetapi tidak termasuk memahami fungsi gramatikal unsur-unsur kalimat itu. Apabila sejumlah kalimat dalam pola yang sama  dipelajari barulah mungkin bagi anak  untuk mengenal fungsi gramatikal unsur-unsur kalimat itu. Bukti lain tentang peniruan sebagai produksi ujaran anak telah ditemukan  dalam penelitian tentang struktur sintaksis yang digunakan  anak-anak. Anak adalah peniru ciri-ciri prosidi yang ulung dan mereka memiliki kendali yang baik pada sistem pemberian  tekanan maupun intonasi. Seoramg anak usia dua tahun ketika  diminta untuk mengulangi apa yang didengarnya dari orang dewasa mengucapkan bentuk-bentuk seperti ”Bapak pergi kerja” kemudian mengulanginya dalam bentuk  ”Bapak kerja kantor.” Jelaslah bahwa anak itu memahami apa yang dikatakan oleh orang dewasa itu dan dia  mempunyai cara tersendiri untuk menyampaikan pesan itu.Menurut para ahli yang mengamati perkembangan bahasa anak pada masa pemerolehan bahasa, anak juga membuat  situasi organisasi fonologi yang lebih primitif dari suku kata. Satuan itu berupa kontur nada. Pada akhir periode berceloteh , anak sudah mampu mengendalikan  intonasi, modulasi  nada, dan kontur bahasa yang dipelajarinya. Pada tahap ini membuat bunyi seolah-olah dia mengucapkan kalimat-kalimat panjang dan orang dewasa merasa kesulitan  menangkap kata-kata dengan jelas. Tidak ada kata yang dapat ditangkap , kecuali hanya bunyi ocehan  dengan pertanyaan atau pernyataan.Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pandangan yang banyak diikuti oleh orang adalah bahwa pemerolehan bahasa mengikuti suatu proses yang bertolak dari suatu yang lebih  mudah kepada yang lebih sukar. Karena ltu, anak pada dasarnya memperoleh elemen-elemen bahasa dengan mengikuti graduasi kesukaran. Dalam bidang sintaksis, anak mulai dengan ujaran satu kata kemudian ujaran dua kata dan akhirnya ujaran tiga kata atau multikata. Meskipun ujaran satu kata secara sintaksis sangat sederhana, secaa gramatis ujaran ini  bermulti arah  karena makna dari ujaran tersebut hanya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi yang ada dan itu pun belum tentu bermakna tunggal.

III.  PEMBAHASAN

Klasifikasi Jenis dan Bentuk Ujaran Anak
Berdasrkan pendapat Nelson dalam ( Inggran. 1979: 192 )  jenis ujaran bahasa anak dapat dikelompokkan menjadi:

Special Nominal; kata-kata yang bersifat lepas.
Contoh:   /ma /            :    mama               / kan /           :    ikan  

                 / pa /              :    papa                  / bu /             :    ibu

General Nominal; kata-kata yang mengacu kepada benda umum.
Contoh:  / bil /             :    mobil               / da /             :    sepeda           

                 / mah /          :   lemah               / ni /              :    ini

                 / tu /              :    itu

Action Word; kata-kata yang mengacu kepada tindakan yang spesifik.
Contoh:  / cu /             :    susu

               / ndak au /    :    tidak mau           

                / atit /            :    sakit          

                / wauk /        :    bauk          

               / dah pai /     :    sudah sampai.

Modifiers; kata-kata yang mengacu kepada sifat  atau jumlah benda atau peristiwa.
Contoh:  / lu /              :    malu               / it /               :     pahit

               / das /            :    pedas

Personal Social; kata-kata yang mengekspresikan pernyataan efektif dan hubungan social.
Contoh:  / ya /              :     iya               / ndak /          :     tidak          

                /  dah /            :     sudah

            Pada umunya ujaran yang banyak muncul dari ujaran anak pada fase holofrastik adalah action word yaitu kata-kata yang mengacu pada tindakan spesifik. Di samping itu, ujaran anak kadang kala hanya mengulang apa yang diucapakan dan saat berbicara tidak sesuai dengan apa yang diucapkan. Contoh, “ mau kemana ?” Anak menjawab, “yaju”.

            Menurut Murny ( 2003, hal. 35 ) anak pada fase holofrasa ( umur 1—2 tahun ) lebih banyak mengucapkan kata yang langsung tertuju kepada aktivitas atau keadaan.

 Contoh:  / dak a’u /         :     tidak mau / atit /                :     sakit / atuh /              :      jatuh/ nakang /          :      nakal/ wauk /             :      bauk.            Ujaran yang keluar dari ucapan anak tidak selalu beupa aktivitas atau keadaan, bisa juga pelaku dengan aktivitas, tergantung pada konteks. Sedangkan unsur kalimat yang sering dihilangkan yaitu: pelaku, objek, dan kata penunjuk.            Lebih lanjut menurut Murny, kata aktivitas yang lain sering diujarkan anak pada fase ini adalah: 

 / atit ma /          :      sakit ma                / cu ma /           :      susu mama 

 / dah   pai /       :     sudah sampai .

Berdasarkan contoh-contoh di atas anak sudah dapat mengujarkan konsonan / b, d p, m, n, y / terutama konsonan / p / dengan baik, karena konsonan ini mudah dilihat alat bicara yang menghasilkannya. Sebaliknya konsonan velar, misalnya / g / dan frikatif labiodental dan apiko alveolar, misalnya / f,s / tidak dapat segera diujarkan karena alat bicara yang dihasilkannya tidak kelihatan dan belum sempurna. Di samping itu, anak sering kali menggantikan  satu konsonan dengan konsonan yang lain. Contohnya,  susu menjadi / cucu /, nakal menjadi / nakang /, bauk menjadi / wauk /, dan sakit menjadi / atit /.         

 Kecendrungan lain yang dilakukan anak yaitu dia sudah memahami sebagian kata-kata yang menunjukkan perbandingan.         

   Contoh: 

/ sar cil /           :       besar kecil            / das nis /          :       pedas manis

/ ik    run /        :       naik turun / nas ngin /        :       panas dingin           

Karakteristik lain yang ditunjukkan anak berkaitan dengan pemerolehan bahasa pada masa holofrasa adalah anak lebih cepat paham dan langsung mengerjakan daripada mengucapkannya.

       Contoh:  

a.       Ambil celana di kamar nak !

b.      Ambil sepatu nak !

c.       Ambil handuk nak !

d.      Tolong letakkan gelas ini nak !

            Secara umum dari contoh di atas semua anak dapat melaksanakan semuanya tanpa keliru. Artinya, anak bisa paham dengan kata: gelas, letakkan, sepatu, handuk. Ia sudah bisa membedakan antara baju dan celana, begitu juga gelas dengan sepatu daripada mengucapkannya. Jadi dapat juga dikatakan bahwa motorik anak secara keseluruhan lebih cepat berkembang dari perkembangan bahasanya.      

 Murny ( 2003 ) telah meneliti pula ujaran seorang anak yang bernama Dedek  pada fase holofrastik. Dari hasil penelitiannya ia menemukan contoh bentuk-bentuk ujaran anak sebagai berikut: 

1.      Bentuk Ujaran Satu Kata

Contoh:

[num]   “Dedek minum.”

[ci]        “Dedek tambah nasi.”

[mam] ”Dedek mau makan.”

[lampu]”Hidupkan lampu!”

[cing] ” Kucing ke sini.”  

[kek]   ”Pakaikan baju!”

[puk]    “Dedek mau kerupuk.”

[mi] “ Ini baju Dedek.”

[nakang] “Kakak itu nakal.”

[bek]  “Itu kambing.”

[dodok] “Dedek mau duduk.”  

 [yatu]  “Dedek pakai sepatu.”

[yaju]   “Baju Dedek cantik.”

[nana]      “Celana Dedek basah.”

[auh] “Rumah kakak jauh.”

[atuh]   “Dedek jatuh, mama !”

2.      Bentuk Ujaran Dua Kata

Contoh:

[atit ma]              ”Kaki Dedet sakit mama.”      

[ndak ’au]          ”Dedet tidak mau ikut.”

[ngin ma]          ”Dingin mama.”

[dah pai]             ”Kita sudah sampai.”

[ndak dadak]      “Abang tidak ada.”

[pat uci]              ”Dedek mau ikut ke tempat nenek Uci.”

3.      Bentuk Ujaran Tiga Kata

Contoh:

[mi ? cu ma]       “Dedek mau minum susu, mama.”

Makna Fungsi dan  Konteks Ujaran Anak
Makna fungsi dalam konteks pemerolehan bahasa anak adalah kegunaan ujaran yang disampaikan oleh anak. Berdasarkan konteks situasi, tuturan tersebut ada yang terjadi di dalam rumah, di halaman, atau di tempat-tempat lain. Bentuk adalah bunyi atau ucapan yang dikeluarkan oleh anak. Bentuk yang dikeluarkan anak itu terdiri dari atas dua, yaitu bentuk lengkap dan bentuk tidak lengkap.Konteks adalah keseluruhan yang melatari ujaran itu, seperti orang ( bayi, ibu, bapak, pengasuh, dll ), tempat ( kamar tidur, ruang makan, teras, dan ruang lainnya ), suasana ( dingin, panas, gembira, tenang, dsb ).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Murny ( 2003 ) terhadap salah seorang anak yang bernama Dedek pada fase holofrastik adalah ditemukannya tiga buah fungsi ujaran dalam beberapa konteks, yaitu:
Fungsi Memberi Informasi
Konteks 1,

Dalam sebuah percakapan  anatara seorang anak yang bernama Dedek dengan seorang kakak yang kos di rumahnya. Suatu sore anak itu dan ibunya sedang duduk di ruangan keluarga sambil istirahat sambil menikmati minum teh dan makanan kecil beserta buah segar dan juga sambil menonton siaran televisi, tiba-tiba ia berujar “ii ?’’ Dari pembicaraan tadi terlihat bahwa anak mengedipkan matanya dan langsung meletakkan kembali jeruk itu ke atas meja. Kebetulan ada mahasiswa yang bertanya, “ Manis jeruknya Dek ?” Lalu dia menjawab “ii ?’’ yang berarti pahit. Jadi anak juga belum bisa membedakan rasa pahit dengan asam. Dari konteks di atas  maka akan terlihatlah fungsi ujaran anak yaitu untuk memberikan informasi.

Konteks 2,

Pukul 16.00 Wib. Sore hari, Dedek minta main ke luar rumah   karena sore itu banyak anak bermain sepeda di jalanan Tiba-tiba seorang anak menyerukan kata ”sapi” dan dia kelihatannya bingung. Dari situasi itu terlihat bahwa dia belum pernah melihat sapi. Kemudian kakak mengajak Dedek  untuk melihat sapi yang sedang makan  rumput. Sampai di sana, ” apa itu Dek ?” Dijawabnya ”pi”. Dari konteks di atas terlihatlah bahwa fungsi ujarannya adalah memberi informasi.

Konteks 3,

Suatu sore, Dedek sedang bermain mobil-mobilan  di depan rumahnya sedang ibunya menyapu sampah pohon jambu yang ada dekat jalan  itu.  Tiba-tiba dia melihat Dedek menangis. Rupanya ia terpeleset. Dari kejadian ini terlihat bahwa ia merengek dan dari ekspresi wajahnya menampakkan ia kesakitan, kaki dan tangannya bergores luka. Sesampai di rumah, ibunya mengoleskan obat betadin, Dedek menangis dan menyebut ”auh-auh”. Dari konteks di atas terlihat adanya fungsi ujaran anak untuk memberi informasi.

Konteks  4,

Pagi hari, kira-kira jam 08. 00 Wib. Seorang ibuk duduk di depan wartel sambil menjaga anaknya. Tiba-tiba anak itu berujar ”bum-bum.” hal itu menunjukkan bahwa dia ingin mengatakan bahwa itu mobil. Dari pembicaraan itu terlihat bahwa anak ingin memberitahukan bahwa itu mobil. Dari konteks ini terlihat bahwa fungsi ujarannya sebagai memberi informasi.

Fungsi Pernyataan


Konteks 1,

Percakapan antara Dedek dengan  anak mahasiswa  terjadi pada suatu sore, ketika anak kos ramai-ramai menonton telivisi di rumahnya. Pada waktu itu, dia juga ikut menonton dan dipeluk oleh salah seorang mahasiswa. Ada salah seorang anak kos ingin medekati ia dan minta disayang, ”Sayang kakak, Dek !” Terus dia menjawab, ” wauk. ” Dari pembicaraan di atas terlihat dari ekspresi wajahnya dia lagi senang duduk dengan kakaknya yang satu ini dan marah kalau diganggu oleh kakak yang lain sehingga dia merasa kesal dan Konteks menyatakan kakak yang lain bau. Dari konteks di atas, terlihatlah bahwa fungsi ujaran anak tersebut adalah  sebagai pernyataan. 

Konteks 2,

Percakapan ini terjadi ketika pagi hari kira-kira jam 08.00 Wib. antara pengasuh dengan seorang anak. Suatu ketika saat anak telah selesai mandi  lari ke dalam kamar dan sambil berujar  ”mi”  dan menunjuk ke sebuah keranjang baju. Dari konteks ini, terlihat adanya percakapan antara dia dengan pengasuhnya. Pengasuh bertanya, ” Mana bajunya, Dek ?” Ia  menjawab ”kak” artinya ini baju kakak sambil memegang sebuah baju bertuliskan ”Batman”, tetapi yang bisa diucapkan anak hanya satu kata yaitu ”mi” . Kemudian si kakak segera memakaikan baju pilihan anak itu. Dari ekspresi wajahnya terbayang anak puas karena kemauannya dituriti. Dari konteks di atas akan terlihat fungsi ujaran anak  sebagi pernyataan.

 Konteks 3,

Suatu sore yang cuacanya agak mendung Dedek dan kakaknya sudah mandi. Kemudian kakaknya bertanya, “ Kemana kita, Dek?” Tiba-tiba dia menjyahut “yatu” Dari konteks itu terlihat bahwa anak ingin dipakaikan  sepatu dan mengajak jalan-jalan. Setelah pengasuhnya memasangkan tali sepatunya, Dedek menarik tangan kakanya untuk segera pergi. Dari konteks di atas akan terlihat fungsi ujaran anak sebagai pernyataan.

 Konteks 4,

Pagi hari Minggu,  bapak dan  ibu Dedek akan pergi . Pengasuhnya kelihatan agak sibuk  mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan pergi. Anak itu sudah memakai baju dan sepatu. Tiba-tiba salah seorang anak kos berkata, ”Ganteng sekali, Dedeknya !” Dari ekspresi wajahnya kelihatan  bahwa dia ceria sambil berkata ”yaju” . Dari konteks itu terlihat bahwa dia membanggakan pakaian baju barunya, namun yang keluar dari mulutnya hanya satu yaitu ”yaju”. Hal ini menunjukkan bahwa anak itu merasa senang, apalagi dipuji dengan kata ganteng, namun yang Dedek tahu bahwa dia pakai baju baru. Dari konteks di atas terlihatlah bahwa fungsi ujarannya adalah sebagai pernyataan.

3.      Fungsi Permintaan

Konteks 1,

Sore hari jam 14.00 Wib, seorang ibu dengan seorang anak sedang duduk di ruangan tamu. Waktu itu Dedek berujar ”mi?” cu ma”. Dari pembicaran itu terlihat bahwa anak itu merengek dan menunjuk-nunjuk ke atas meja di situ diletakkan kaleng susu. Dari ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat haus. Hal itu menunjukkan bahwa anak itu mau minum susu, kemudian ibu bergebas meninggalkan  anaknya utuk membuatkan susu. Akhirnya anak menampakkan wajah yang ceria melihat ibunya membawa sebotol susu. Dari konteks di atas terlihat bahwa fungsi ujaran anak sebagai permintaan.

Konteks  2,

Percakapan antara ibu dan anak ini terjadi siang hari pukul 14.00 Wib. Ketika itu seorang ibu dengan seorang anak sedang duduk  di ruang tamu. Waktu itu  tiba-tiba Dedek yang sedang bermain bola menangis karena bolanya terlempar ke dalam kamar. Rupanya bola Dedek masuk  ke dalam salah satu kamar kakak kos, ”Ini bola Dedek?” Dedek menjawab ”iya”. Akhirnya dia menampakkan wajahnya yang ceria dan riang setelah bolanya dapat kembali. Dari konteks di atas akan terlihat fungsi ujaran anak sebagai permintaan.

Konteks  3,

Sore ketika jam 14.00 Wib. terjadi percakapan antara seorang anak dan kakak. Saat itu secara tiba-tiba anak berujar ”num.” Dari pembicaraan itu terlihat bibirnya merah kepanasan dan keringatnya bercucuran. Dia merengek dan menunjuk ke cangkir yang terletak di atas meja. Hal ini menunjukkan bahwa anak itu minta diambilkan air minum. Setelah melihat kakaknya datang membawakan segelas air barulah dia menampakkan wajah yang ceria. Dari konteks di atas nampaklah bahwa fungsi ujarannya adalah sebagai perminttaan.

Konteks   4,

Pukul 10.00 Wib. Pagi, Dedek bermain di halaman  bersama kakaknya, tiba-tiba liwat penjual minyak tanah keliling. Kebetulan ibunya juga sedang kehabisan minyak. Waktu itu, ibu memanggil “minyak” , dari dalam Dedek ikut-ikutan memanggil “nyak” . Dari pembicaraan itu terlihat bahwa anak ingin memberitahukan kepada ibunya bahwa ada orang berjualan minyak. Dari konteks di atas terlihat fungsi ujaran sebagai permintaan.

Konteks  5,

Pukul 08.00 Wib. Seorang ibu dan seorang anak berada di dapur. Waktu itu, tiba-tiba anak masuk ke dapur dan berujar “ puk ma” Dari pembicaraan itu terlihat bahwa anak yang sedang asyik main di luar lari ke dapur karena mendengar ibunya lagi meggoreng kerupuk. Hal itu menunjukkkan bahwa anak sudah paham  dengan apa yang namanya kerupuk. Dari ujaran yang terlihat dalam konteks itu terlihat  ujaran anak sebagai permintaan. IV.   Simpulan dan SaranA.     Simpulan

Dari berbagai ujaran anak yang berumur 18 bulan, tahap satu kata, yang dikemukakan oleh beberapa orang peneliti dan pengamat perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga fungsi bahasa pada bahasa anak, yatu:

1) Fungsi permintaan,

2) Fungsi pernyataan,

3) Memberi informasi.

Disamping itu, ditemukan juga beberapa bentuk perilaku berbahsa anak berupa penghilangan pelaku aktivitas, objek, pelaku pemilik, pelaku perbuatan, pelaku kata majemuk, kata majemuk, kata sapaan, kata penunjuk objek, pelaku aktivitas, objek, keterangan tempat, kata ganti objek, dan keterangan tempat.

            Ditemukan juga kelompok kata-kata yang berhubungan dengan usia ( bapak , ibu, anak, kakak ), jenis kelamin ( laki-laki: bapak, perempuan: ibu ), tempat ( halaman, dalam rumah, di dapur, kamar depan, ruang keluarga, teras rumah, ruang makan ), aktivitas ( bermain, berkumpul, bepergian ).

            Berdasarkan  pandangan beberapa ahli linguistik, kuantitas pemerolehan  bahasa anak dari segi bentuk ujaran  dapat dikelompokkan menjadi:

1) Ujaran satu  kata ( +75 % ), 

2) Ujaran dua kata ( +  22,5 % ), dan ujaran tiga kata ( + 2,5 % ).

Selain itu dapat juga dikatakan bahwa anak lebih sering menggunakan ujaran yang tidak lengkap dan cendrung mengujarkan suku kata terakhir.

            Yang tidak kalah menariknya adalah bahwa anak pada fase holofrasa menggunakan  satu kata untuk mengungkapkan beberapa makna, seakan-akan anak adalah bagian masyarakat bahasa yang mempunyai potensi individual dan social bahasa dalam membentuk dan mengembangkan makna kata suatu bahasa. Pada masa ini, orang tua atau pengasuhnya sebenarnya adalah penerjemah atau penginterpretasi bahasa yang ulung dan luar biasa. Dengan ujaran satu kata anak, yang terdiri dari suku kata terakhir, yang kadang-kadang bunyinya pun tidak karuan, tapi orang tua atau pengasuh dapat menerjemahkan ujaran itu yang terjadi pada berbagai macam konteks komunikasi.

Pada umumnya kaum ibu  dan pengasuh lebih mengerti bahasa anak bila dibandingkan dengan kaum bapak. Kenyataan ini disebabkan kaum bapak lebih banyak berada di luar rumah. Pada hal di samping faktor personal lawan bicara, konteks sosial bahasa,  faktor budaya, dan lain sebagainya, faktor keseringan berdekatan dengan anak juga berpengaruh terhadap intensitas intuisi dan pemahaman  terhadap perkembangan pemerolehan bahasa anak. Jadi disitulah letek kelebihan ibu dan pengasuh bila dibandingkan dengan bapak dalam memahami, mempengaruhi, dan membina proses perkembangan bahasa anak.
Saran-saran
Dari uraian singkat tentang perkembangan pemerolehan bahasa anak pada fase holofrasa, penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

Jadikanlah tulisan ini jadi acuan bagi para ibu ( orang tua ) dan pengasuh anak dalam memahami dan membina pemerolehan bahasa anak pada fase holofrasa.
Jika seorang bapak ingin ikut mewarnai kepribadian anak  umumnya dan proses pemerolehan bahasa anak khususnya, maka  perbanyaklah kuantitas bergaul atau berkomunikasi dengan anak. Karena kuantitas berkomunikasi dengan anak berpengaruh terhadap pemerolehan bahasanya  dan  kemampuan bapak dalam memahami dan menginterpretasi ujaran anak yang multi makna.
Pilihlah kelompok kata dan kalimat yang baik dan bermakna atau yang sesuai dengan aspek kehidupan yang diinginkan, karena semuanya itu berpengaruh terhadap perkembangan pemerolehan bahasa serta kepribadiannya.
Kepada para peneliti psikolinguistik, telitilah lagi pemerolehan bahasa anak dalam aspek-aspek dan bentuk-bentuk lainnya yang masih banyak dan yang tak kalah menariknya.
 DAFTAR KEPUSTAKAAN 

Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo  Persada.

 Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian teoritik. Jakarta: PT Rineka Cipta. Dalyono, M. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono ( ed ). 1991. Pelba 4, Linguistik Neurologi, Pertemuan  Linguistik Lembaga Bahasa Atmajaya Keempat. Yogyakarta: Kanisius.

_________ 2000. Echa, Kisah Pemeroleham Bahasa anak Indonesia. Jakarta:            Grasindo.

_________ 2003. Psikolinguistik. Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta:              Yayasan Obor Indonesia. Djajasudarma, T. Fatimah.

1993. Metode Linguistik, Ancangan Metode Penelitian   dan Kajian. Bandung: PT Eresco.

Djojosuroto, Kinayati dan M.L.A. Sumaryati. 2004. Penelitian Bahasa dan Sastra. Bandung: Nuansa.
Goedemans, Rob dan Ellen van Zanten. 1999. “ Stress and Accent in Indonesia.” Disajikan di The Third  Symposium on Malay / Indonesian Linguistic,   Amsterdam, 24—25 August, 1999.
Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: Mandar Maju.
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Pt Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun. 2006. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada.

Miles, Matthew dan A. Michael Huberman. 1992. Analisi Data Kualitatif. Terjemah: Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitan Indonesia. 
Moeleong, Lexy J. 1993. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mukhtar dan Erna Widodo. 2000. Konstruksi ke Arah Penelitian Deskriptif.  Yogyakarta: Avyrouz.
Murny. 2003. Fungsi, bentuk, dan Konteks Ujaran Anak Pada Fase Holofrasa.  Padang: PPS UNP.
Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-Aspek Psikolinguistik: Yogyakarta: Kanisius.
 Prayitno. 2004. Buku Panduan Penulisan tesis dan Disertasi. Padang: PPS UNP.
 Pradopo, Rahmat Djoko et al. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:  Adipura.
Purwo, Bambang Kaswati ( ed ). 2006. Kolita 4, Konfrensi Linguistik Tahunan Atmajaya: Tingkat Internasional. Jakarta: Atmajaya.

 Subyakto-N, Sri Utari. 1988. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Depdikbud,  Dirjen Dikti, PPLPTK.
Sudaryanto. 1992. Metode Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
 Sudjan, H. Nana. 2002. Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi. Bandung: Sinar  Baru Algensindo.
Suryabrata, Sumadi. 2004. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tarigan, Hendri Guntur. 1984. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.
 _________1988. Pengajaran Pemorelahan Bahasa. Jakarta: Depdikbud, Dirjen             Dikti,  PPLPTK. 
Waluyo, Herman J. 1992. Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra. Surakarta:  Sebelas Maret University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: