Kewajiban-K ewajiban Akademis

July 17, 2011

 

 

 

Kewajiban-K ewajiban Akademis

Para Dosen Universitas

 


Erzuhedi

 

I.  PENGANTAR

 

            Menurut Shils (1993:71—90) bahwa kewajiban-kewajiban akademis para dosen terhadap pengetahuan dan mahasiswa dijelaskan sebagai berikut ini:

 

A. Kewajiban Pengetahuan

            Kewajiban dosen yang utama dalam bidang pengetahuan adalah kewajiban terhadap kebenaran dalam bidang yang diajarkan atau ditelitinya. Beberapa hal yang harus dilakukannya ketika menyampaikan kebenaran itu adalah:

1.      Bekerja keras untuk memecahkan permasalahan secara tepat, untuk tidak mudah percaya, membuat penilaian secara bertanggung jawab, dan untuk mendisiplinkan diri.

2.      Membuat penilaian secara bertanggung jawab.

3.      Dosen hendaknya menjelaskan sisi yang kabur dan tak pasti dalam  perkuliahan.

4.      Memiliki kejujuran dan kerendahan hati mengenai apa yang benar dan apa yang tidak benar pada saat itu, apa yang betul-betul kontroversial dan apa yang memang tidak diketahui.

5.      Dosen di samping hormat kepada metode dan aturan penelitian, mempunyai kewajban untuk  menolak dominasi prasangka-prasangka akademis yang sedang berlaku menyangkut apa yang boleh diteliti.

6.      Dosen hendaknya tidak menyingkapkan hasil-hasil penelitiannya apabila ia sendiri belum puas  atas usahanya membuat hasil penelitian itu sedapat    mungkin masuk akal.

           

     Yang Harus Dihindari Dosen dalam Menjalankan Kewajiban  terhadap Pengetahuan

Ada beberapa hal yang harus dihindari dosen dalam memenuhi kewajibannya terhadap pengetahuan, di antaranya adalah:

1.      Seorang dosen yang secara sengaja mengajarkan kepada para mahasiswanya anggapan-anggapan yang keliru dan tanpa dasar sambil mengatakan bahwa itu  semua merupakan pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya, jelas-jelas menyimpang dari kewajiban utamanya, tidak peduli apakah ia bermaksud untuk memikat hati penguasa atau untuk merong-rongnya, tidak peduli apakah ia terdorong untuk menyenangkan hati pendengarnya atau bersikap sembrono saja.

2.      Mengemukakan sebagai kebenaran apa yang sesungguhnya tidak lebih dari sebuah opini yang belum terbukti atau sebuah hipotesis yang masih tentatif (belum tentu), merupakan pengingkaran terhadap kewajiban seorang dosen.

 

B. Kewajiban kepada Para Mahasiswa

1.      Universitas bukanlah sebagai lembaga penelitian semata tetapi ia adalah juga lembaga pengajaran.

2.      Postulat bahwa universitas merupakan suatu lembaga yang kewajiban utamanya ialah penggalian dan pengajaran kebenaran-kebenaran tidak  melarang para dosen untuk menyatakan keyakinan etis dan politisnya di depan  para mahasiswa.

3.      Dosen harus hati-hati agar dalam memaparkan bidang keilmuannya ia tidak jatuh ke dalam dogmatisme.

4.      Kesetiaan seorang dosen terhadap kewajiban  mengajarnya ditunjang oleh kesungguhan para  koleganya dalam melakukan pengajaran masing-masing.

5.      Para mahasiswa tidak hanya perlu diajar tetapi mereka juga perlu dinilai dan harus dinilai secara adil  oleh para penguji.  

6.      Dosen tidak seharusnya    menganggu dan  mengacau pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan administrasi mahasiswanya.

7.      Dosen  tidak boleh menyalahgunakan wewenang yang diperolehnya walaupun dalam bidangnya ia mempunyai banyak  pengetahuan dibandingkan dengan para       

     mahasiswanya.

 

C. Beberapa Penyakit yang Harus Dihindari Dosen

Beberapa penyakit yang harus dihindari dosen adalah 1) galat atribut, 2) keyakian irasional, 3) ketidakpekaan akan umpan balik, 4) menghentikan pengawasan (kontrol), dan 5) mendominasi pembicaraan.

 

II.                  PEMBAHASAN

 

Pada bagian ini, ada tiga pokok permasalahan yang akan dibahas sehubungan dengan topik kewajiban-kewajiban akademis para dosen di universitas atau perguruan tinggi. Walaupun kewajiban itu bisa ditinjau dari segi administratif, sosial, dan akademis, namun makalah ini hanya akan membahas pada kewajiban akademis dosen terhadap pengetahuan dan mahasiswa, tidak termasuk terhadap masyarakat. Hal ini sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Bapak Prof. Dr. Jamaris Jamna, M.Pd. dan Bapak Dr. Ramalis Hakim, M.Pd. kepada saya.

 Menurut Shils (1993) kewajiban-kewajiban dosen itu meliputi kewajiban: 1) pengetahuan, 2) mahasiswa, 3) generasi-generasi para dosen, 4) para kolega, 5) para dosen dalam hal pengangkatan akademis, 6) terhadap universitas mereka sendiri, dan 7) masyarakat. Banyak kewajiban para dosen yang biasa dibicarakan namun ditegaskan sekali lagi bahwa dalam makalah ini hanya akan membahas bagian nomor satu dan dua saja serta ditambah satu lagi dengan topik “beberapa penyakit yang harus dihindari dosen  ketika mengajar di universitas”.

 

A. Kewajiban Pengetahuan

      Kewajiban dosen yang utama dalam bidang pengetahuan adalah kewajiban terhadap kebenaran dalam bidang yang diajarkan atau ditelitinnya.Menurut Shils (1993:73) bahwa menentukan sebuah kebenaran mungkin sangat sukar. Apa yang dianggap benar sehubungan dengan topik tertentu memang dapat diubah, namun perubahan-perubahan itu tidak boleh asal-asalan saja. Perubahan-perubahan itu diatur oleh tradisi dari bidang itu sendiri,  biarpun tradisi itu juga berubah setiap kali ada penambahan atau revisi terhadap pengetahuan tentang suatu topik tertentu. Ada kekeliruan para dosen sehubungan dengan ini, yaitu ada bidang luas yang samar-samar yang tentangnya tidak mungkin diperoleh pengetahuan yang terpercaya. Bidang-bidang ini sangat menggoda dosen untuk mengikuti kecondongan hatinya sendiri dan bukannya mengikuti kesangsian intelektualnya. Bidang-bidang yang kelabu atau kabur, sejauh bidang-bidang itu penting, merupakan bidang yang memerlukan penelitian baru, dan penilaian dari rekan sejawat yang berkualitas sama, baik dari universitas sendiri maupun dari kalangan terpelajar lain, dibutuhkan agar sang dosen itu mampu memberikan yang terbaik. Banyak pengajaran harus diberikan dalam bidang-bidang yang kabur ini, dosen wajib membuat mereka menyadari adanya ketakpastian-keakpastian itu.

            Allah Swt. berfirman dalam (Q.S.7:181) :

       Artinya,

 

Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak (kebenaran), dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.

 

     Dari ayat Al-Quran di atas dapat diketahui bahwa dosen adalah orang yang Allah Swt. ciptakan sebagai orang yang dipilih untuk menyampaikn kebenaran (hak) dan dengan kebenarannya itu diharapakan dia dapat berlaku adil terhadap pengtahuan yang didalaminya. Artinya, dosen tidak memanipulasi, menyelewengkan, dan menyembunyikannya. Mestinya, dia hendaklah berlaku objektif, menggunakan ilmu untuk kemanfaatan, dan menyampaikannya kepada mahasiswa maupun masyarakat.

    Menurut Shils (1993:72) mengatakan bahwa seorang dosen yang secara sengaja mengajarkan kepada para mahasiswanya anggapan-anggapan yang keliru dan tanpa dasar sambil mengatakan bahwa itu  semua merupakan pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya, jelas-jelas menyimpang dari kewajiban utamanya, tidak peduli apakah ia bermaksud untuk memikat hati penguasa atau untuk merong-rongnya, tidak peduli apakah ia terdorong untuk menyenangkan hati orang lain atau sekedar bersikap sembrono saja.

     Beberapa hal yang harus dilakukannya ketika menyampaikan kebenaran itu adalah:

 

1.      Bekerja keras memecahkan permasalahan secara    

      tepat, tidak mudah percaya.

           Shils (1993:72) megatakan dosen hendaklah bekerja keras untuk menilai secara tepat terhadap segala fenomena atau permasalahan yang terjadi, baik di lingkungan akademis maupun masyarakat, tidak mudah percaya, dan mendisplinkan diri terhadap keputusan yang dianggapnya benar.

     Contoh,

           Para pejabat Indonesia pernah dahulu jika mengucapkan kata-kata yang berakhiran /-kan/ melafalkannya dengan /-ken/. Sebagai seorang dosen yang tugasnya mengajar dan meneliti tentu tidak mudah begitu saja percaya menerima kenyataan itu dan mengajarkan kepada mahasiswanya sebagai suatu kebenaran walaupun itu berkaitan dengan kekuasaan pemerintah. Dia harus melihat dan menilainya sebagai sebuah fenomena dalam bidang bahasa yang mesti dipecahkan dan dijelaskan kebenarannya. Jika sudah ditemukannya penjelasan yang kuat dan penilaiannya itu merupakan suatu kebenaran, maka dia harus mendispilnkan dirinya dengan kebenarannya itu meskipun harus bertentangan dengan pemerintah. Jadi, jika yang benarnya adalah /-kan/ buakan /-ken/ maka dia harus menggunakan yang benar dan mendisplinkan diri terhadapanya.

 

2.      Dosen hendaknya menjelaskan sisi yang kabur  

      dan tak pasti  dalam perkuliahan.

      Ada bebrapa hal yang yang kabur dalam sistem perkuliahan di univerrsitas. Kekaburan itu tidak saja terdapat dengan sebuah komponen administratif yang ada dalam sebuah sistem universitas tetapi  juga       terdapat dalam komponen yang lainnya, misalnya kurikulum. Tidak jarang silabus yang dikembangkan para dosen memuat materi perkuliahan yang mengandung sisi yang kabur atau tidak jelas. Dosen harus menjelaskanya secara jealas dan proporsional tanpa menutup-nutupi atau menghindarinya  dalam perbincangan akademik.

      Dalam proses pencapaian target kurikulum yang telah diprogramkan, para dosen juga harus menjaga etikanya dalam menyampaikan kebenaran. Etika itu tentu berujung pada konsekwansi moral atau  amoralnya dari suatu ketetapan atau kegiatan yang telah diputuskan. Walaupun ini merupakan sebuah dilema bagi para dosen namun ketika ia memutuskan sesuatu maka dia harus konsekwen dengan segala teori-teori dan program  yang telah dijalankannya seperti yang dikatakan oleh Strike (1984:32) bahwa

 

“We constructed this dilemma to illustrate the features of two major types of  ethical theories – those that decide the rightness or wrongness of an action in terms consequences and those that do not. We shal refer to this as consequentialist theories and nonconsequentialist theories, respectively.

 

       Menurut Shils (1993:73)  ada kekeliruan para dosen sehubungan dengan ini, yaitu ada bidang luas yang samar-samar yang tentangnya tidak mungkin diperoleh pengetahuan yang terpercaya. Bidang-bidang ini sangat menggoda dosen untuk mengikuti kecondongan hatinya sendiri dan bukannya mengikuti kesangsian intelektualnya. Bidang-bidang yang kelabu atau kabur, sejauh bidang-bidang itu penting, merupakan bidang yang memerlukan penelitian baru, dan penilaian dari rekan sejawat yang berkualitas sama, baik dari universitas sendiri maupun dari kalangan terpelajar lain, dibutuhkan agar sang dosen itu mampu memberikan yang terbaik. Banyak pengajaran harus diberikan dalam bidang-bidang yang kabur ini, dosen wajib membuat mereka menyadari adanya ketakpastian-ketakpastian itu.

      Contoh,

            Ketika dosen bahasa Indonesia menjelaskan kepada mahasiswa tentang adanya ketidakjelasan dan ketidakpastian tentang konsep pemerolehan bahasa menurut pandangan Skinner (1958) dan Chomsky (1965). Skinner berpendapat bahwa pemerolehan bahasa tidak lain hanyalah seperangkat  kebiasaan yang dipengaruhi lingkungan (nature), sedangkan Chomsky berpendapat bahwa    memperoleh kemampuan untuk berbahasa secara kodrati (nature) dengan adanya  piranti bahasa yang disebut dengan language acquisation device (LAD). Memang dalam perkembangan ilmu pemerolehan bahasa terdapat perbedaan pendapat yang tak jelas dan berseberangan di antara mereka berdua. Masing-masing mempunyai sisi kelemahan dan kekuatannya dan tidak toleran terhadap pandangan lainnya. Dosen harus menjelaskan hal-hal yang seperti ini kepada mahasiswanya.

 

3.      Memiliki kerendahan hati dan kejujuran (tidak

      bohong) menjelaskan mengenai apa yang benar

dan apa yang tidak benar yang bertalian dengan waktu, apa yang betul-betul   kontroversial dan apa yang memang tidak diketahui.

            Dosen harus membantu para mahasiswa untuk belajar membanding-bandingkan satu interpretasi dengan interpretasi-interpretasi lain yang saling bertentangan dan bersedia mengubah penilaian-penilaian mereka manakala diperoleh bukti-bukti dan alasan yang lebih kuat (Shils,1993:73).

Berkaitan dengan ini, Islam (al-Quan) mengatakan:  

 Artinya,

Allah Swt. Berfirman (Q.S.5:63), “Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu”.

 

                Dari ayat al-Quran di atas, dapat disimpulkan bahwa siapapun orangnya, terutama dosen, tidak boleh berbohong dan mengajarkan kebohongan kepada mahasiswanya. Larangan itu tidak saja ditujukan kepada  dosen yang beragama Islam tetapi juga Kristen.                           

      Contoh,

                 Ketika dosen bahasa Indonesia yang beragama Islam hendak menjelaskan tentang asal usul bahasa tertua di dunia, dia hendaklah dengan rendah hati dan tanpa merasa direndahkan, menjelaskan bahwa bahasa tertua di dunia itu bukanlah bahasa Arab (pen. al-Quran) melainkan bahsa Ibrani yang notabene digunakan dalam penulisan kitab suci Injil asli (dalam perjanjian lama). Selanjutnya dia juga hendaklah dengan jujur menjelaskan bahwa perbedaan pandangan itu memang di kalangan para ahli linguistik historis terdapat penjelasan yang kotroversial dan belum diketahui dengan pasti mana yang benarnya secara keilmuan.

 

4.      Dosen mempunyai kewajban untuk  menolak

dominasi Prasangka-prasangka akademis yang sedang berlaku  menyangkut apa yang boleh diteliti.

     Shils (1993:74) mengatakan bahwa apabila ada suatu pokok bahasan yang “tidak populer” untuk diteliti maka dosen, seorang ilmuan atau cendikiawan boleh saja dengan tekun menelitinya, sejauh ia mematuhi metode ilmiah atau metode penelitian akademis. Dosen harus mempertahankan haknya untuk bebas meneliti apa saja yang dianggapnya penting.

      Contoh,

           Dalam pengajaran bahasa Indonesia terlihat dari kenyataan bahwa walaupun di kalangan akademis memandang penelitian yang berkaitan dengan pengaruh membaca terhadap keterampilan berbicara di beberapa sekolah sudah banyak di teliti dosen lain dan telah mengasilkan hipotesis-hipotesis yang telah teruji kebenarannya namun dia tetap saja melakukan penelitian lanjutannnya meskipun tidak populer lagi. Dia boleh saja melakukan itu selagi masih dalam kerangka ilmiah, apa lagi jika dia merasa yakin bahwa apa yang akan ditelitinya membawa perubahan-perubahan yang berarti dalam kajian  yang tidak dianggap populer itu. Sebelum ini  dari beberapa penelitian telah terungkap bahwa keterampilan membaca memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan berbicara tetapi dari penelitian awal yang dia lakukan terlihat di suatu sekolah yang memiliki sumber bacaan minim namun kemampuna berbicara siswanya bagus. Kenyataan ini tentu perlu di jelaskan dan menuntut kelanjutan  penelitian. Apa yang terjadi? Tidak ada salahnya jika pertanyaan ini mesti dijawab dengan penelitian.

 

5.      Dosen hendaknya tidak menyingkapkan hasil-hasil  

      penelitiannya apabila ia sendiri belum puas atas

usahanya membuat hasil penelitian itu sedapat mungkin masuk akal.

Jika dosen telah merasa puas dengan hasil penelitiannya, maka ia wajib menerbitkannya sedemikian rupa sehingga para kolega dapat mempelajari dan menelaahnya. Kewajiban terhadap pengetahuan hanya dapat dipenuhi melalui penelitian dan publikasi “terbuka”, ketertutupan bertentangan dengan kewajiban etis para dosen. Barangkali ada situasi-situasi luar biasa yang membuat hasil-hasil penelitian tertentu yang dilakukan oleh seorang dosen atau ilmuan tertutup, umpamanya dalam sebuah proyek yang disponsori oleh pemerintah yang dinyatakan rahasia sesudah konsultasi antara sang ilmuan yang melakukan penelitian itu dengan pejabat pemerintah yang berwewenang. Namun hal yang semacam ini harus dilihat sebagai kekecualian (Shils,1993 :75).

      Contoh,

            Dalam sebuah penelitian tindakan kelas, seorang dosen bahasa Indonesia telah menemukan bahwa keterampilan mengarang mahasiswa bahasa Indonesia dapat ditingkatkan dengan metode pembelajaran copy master, namun dia belum mau menyingkapkan hasil penelitiannya itu sebelum dia lakukan beberapa siklus lagi serta dengan menggunakan teknik trianggulasi. Setelah dia merasa puas dan mengangap hasil penelitiannya sebagai sesuatu yang bisa diterima akal maka barulah  menyingkapkannya dalam forum terbuka.

           Apabila dalam hasil penelitannya menyangkut dengan kredibilitas sebuah instansi pemeritah, misalnya instansi di lingkungan pendidikan, maka hasil penelitan itu boleh saja tidak dipublikasikan setelah berkonsultasi dengan dosen itu dan pihak-pihak yang terkait. Hal itu dilakukan barangkali disebabkan adanya maksud-maksud tertentu atau sesuatu yang bersifat rahasia.

          

6.  Dosen hendaknya melakukan penelitian. Jika

dosen sedikit melakukan riset, bahkan tidak melakukannya  sama sekali,  maka wajib baginya mengikuti  secara seksama hasil-hasil penelitian dalam bidang keilmuannya.

      Contoh,

           Dosen bahasa Indonesia hendaklah senantiasa melakukan penelitian di samping mengajar. Jika tidak sempat melakukan penelitian sama sekali, maka hendaklah mengikuti kegiatan seminar-seminar yang berkaitan dengan jurusannya secara aktif, seperti seminar bahasa dan satra Indonesia yang diadakan oleh Fakultas bahasa dan Seni UNP dan Universitas Bung Hata tiap tahun.

     

Yang Harus Dihindari Dosen terhadap Kewajiban Pengetahuan

Ada beberapa hal yang harus dihindari dosen dalam memenuhi kewajibannya terhadap pengetahuan, di antaranya adalah:

1.      Seorang dosen yang secara sengaja mengajarkan kepada para mahasiswanya anggapan-anggapan yang keliru dan tanpa dasar sambil mengatakan bahwa itu  semua merupakan pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya, jelas-jelas menyimpang dari kewajiban utamanya, tidak peduli apakah ia bermaksud untuk memikat hati penguasa atau untuk merong-rongnya, tidak peduli apakah ia terdorong untuk menyenangkan hati para pendengarnya atau sekedar bersikap sembrono saja.

     Salah dalam melakukan penelitian atau pengajaran secara tidak sengaja adalah wajar tetapi jika meksud untuk menipu maka tidak dapat dimaafkan.  Buchori (2001: 35) mengatakan:

 

Anyone searching for truth is bound to make  mistakes before he or she discovers something that satisfies his or her criteria of “truth”. Why? Perhaps because, as George Duhammel said in Le Notaire Du Havre (1933),”…error is the rule, truth is the accident of error”.

     There is a big difference, however, between ordinary mistakes, i.e. mistakes  that can be forgiven, and mistakes that  are unforgivable. In science, this unfogivable mistake is called “fraud” or misconduct with the intent to deceive”.

 

     Dari pendapat Buchori itu dapat disimpulkan bahwa seseorang yang mencari kebenaran tidak tertutup kemungkinan berbuat kesalahan sebelum ia menemukan kriteria kebenaran yang dapat memuaskannya. Bahkan menurut George Duhammel seperti yang dikutip oleh Buchori tersebut  mangatakan bahwa kesalahan adalah sebuah aturan, kebenaran adalah sebuah kejadian dari kesalahan. Artinya, dalam mencari kebenaran,  orang tak luput dari berbuat kesalahan.

     Walau bagaimanapun ada perbedaan besar  antara salah yang sebenarnya dapat dimaafkan dengan yang tidak dapat dimaafkan. Dalam sains, kesalahan yang tidak bisa dimaafkan disebut dengan “fraud” yang mengarah kepada penipuan.

Contoh,

     Seorang dosen bahasa Indonesia telah mengatakan kepada mahasiswa program kependidikan yang sejurusan dengannya bahwa pembelajaran bahasa Indonesia tidak perlu lagi diberikan kepada siswa di sekolah menengah, dan kalaupun diajarkan anggaplah sebagai progam tambahan saja. Dia  beralasan bahwa tanpa belajar bahasa Indonesia pun orang tetap akan bisa berbicara. Secara sepintas apa yag yang dikatakan dosen itu memang benar tetapi dia lupa dan keliru bahwa dalam pengajaran bahasa Indonesia, siswa tidak hanya belajar berbicara tetapi juga menulis dan lainnya. Kemampuan menulis tidak  saja dibutuhkan oleh siswa atau orang yang tertarik kepada bahasa Indonesia saja tetapi juga oleh para ahli lain yang memerlukan keahlian itu untuk menyampaikan ilmunya secara tertulis. Pernyataan ini mestinya tentu tidak keluar dari seorang dosen sekalipun hanya sekedar berkelakar atau sembrono menggoda pemerintah atau orang lain.

 

2.      Mengemukakan sebagai kebenaran apa yang sesungguhnya tidak lebih dari sebuah opini yang belum terbukti atau sebuah hipotesis yang masih tentatif (belum tentu), merupakan pengingkaran terhadap kewajiban pengetahuan seorang dosen, sama seriusnya dengan pengingkaran berupa kesengajaan mengemukakan proposisi yang salah sebagai proposisi yang benar atau mengesampingkan bukti baru yang menyangsikan apa yang sebelumnya   dianggap benar.

Contoh,

           Seorang dosen bahasa Indonesia mengemukakan kepada mahasiswa program kependidikan yang sejurusannya dengannya  bahwa keteramapilan berbicara erat kaitannya dengan kemampuan berfikir. Selanjutnya, dia mengatakan bahwa siswa-siswa yang kurang aktif berbicara dalam kelas hakikatnya memilik kemampuan berfikir yang lemah.  Pada hal hipotesi itu masih bersifat tentatif, meskipun dia mencontohkan beberapa orang mahasiswanya yang berasal dari program studi bahasa Indonesia pada umumnya yang memilki nilai tinggi adalah mereka yang aktif berbicara dalam kelas.   

 

B. Kewajiban Kepada ParaMahasiswa

1.      Universitas bukanlah sebagai lembaga penelitian semata tetapi ia adalah juga lembaga pembelajaran . Dalam sebuah universitas, kegiatan pengajaran sama penting dengan kegiatan meneliti.

    Menurut FX. Soedarsono (2001:2) mengatakan bahwa dosen itu hendaknya sama-sama melakukan kedua kegiatan tersebut sehingga dalam prosesnya dosen dan mahasiswa dapat mencapai perbaikan, peningkatan, dan perubahan pembelajaran yang lebih baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara obtimal. Jadi, tujuan-tujuan pembelajaran di perguruan tinggi itu dapat sebagai media untuk menjadikan manusia itu beraktivitas sehingga berkontribusi terhadap pemfungsian seorang individu dalam masyarakat dan itu dapat diperoleh melalui pembelajaran segaimana yang dikatakan oleh Gagne (1988:39) “Educational goals are those human activities that cotribute to the functioning of a society (including the functioning of an individual in the society) and that can be acquired through learning. Kewajiban ini juga dikuatkan oleh Soenjono (1991:11) yang mengatakan bahwa tenaga kependidikan bertugas menyelenggarakan  kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan / atau memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan.

Contoh,

     Dosen bahasa Indonesia tidak saja sibuk dengan melakukan penelitian bahasa dan sastra Minang, mentawai dan lainnya saja tetapi harus juga mengajarkan ilmunya dalam mimbar-miombar kuliah di lingkungan akademis.

     Seorang dosen yang bisa menjalankan fungsi pengajaran dan penelitian secara maksimal tentu berpotensi menjadi guru besar sehingga bisa meningkatkan jabatan akademikanya di perguruan tinggi. Sebelum itu, tentulah terlebih dahulu dia harus menjadikan dirinya sebagai dosen yang yang memiliki kualitas pengajaran yang bagus, antusias, keterampilan organisasi yang bagus, hubungan yagn baik dengan kolega dan mahasiswa, tanggap terhadap masyarakat, serta berkeinginan bekerja keras terhadap tugas rutin sebagaiman yang dikatakan Tucker (1991:106) bahwa:

 

A great teacher has generally better chance of becoming a good academic manager, because the qualities of good teaching – empathy, enthusiasism, good organizational skills, rapport with colleagues and students, a public presence and a willingness to work hard at repetiitive task.

 

2.      Postulat bahwa universitas merupakan suatu lembaga, yang kewajiban utamanya ialah penggalian dan pengajaran kebenaran-kebenaran yang serius tidak  melarang para dosen untuk menyatakan  keyakinan etis dan politisnya di depan  para mahasiswa.

Menurut Shils (1993:79)  hal ini memang berarti bahwa para dosen harus menghindarkan kesan bahwa pernyataan-pernyataan etis atau politis mereka merupakan pernyataan-pernyataan ilmiah, ini juga berarti bahwa mereka tidak boleh membiarkan apa yang mereka kemukakan sebagai kebenaran yang ditentukan oleh cita-cita dan simpati etis serta politis mereka. Para dosen juga harus menghindarkan diri diskriminasi atas diri mahasiswa berdasarkan cita-cita dan simpati etis serta politis para mahasisiwa sendiri. (Tidak perlu dikatakan lagi bahwa, bagi para dosen, diskriminasi dalam menilai mahasiswa berdasarkan seks, agama, warna kulit atau kelas sosial sama sekali bertentangan dengan etika akademis.

Satu-satunya jaminan langsung bagi dosen agar mereka memenuhi kewajiban untuk mengajarkan apa yang benar dan penting kepada para mahasiswa ialah kesungguhan mereka dlam menjalankan tugas, keyakinannya pada pengetahuan yang diajarkannya dan keyakinan bahwa kebenaran tetang bidang keilmuannya memang layak diketahui dan diajarkan. Ketaatan terhadap  kewajiban ini hanya dapat tumbuh dari keteguhan nurani dan keyakinan atas manfaat aktivitas intelektual yang digelutinya.

Contoh,

     Seoran dosen jurusan bahasa dan sasta Indonesia simpati dan menjadi pendukung kuat terhadap sebuah partai politik, misalnya Partai Demokrat, maka dia boleh saja menyatakan  keyakinan etis dan politisnya itu di depan  para mahasiswa.

 

3.      Dosen harus hati-hati agar dalam memaparkan bidang keilmuannya ia tidak jatuh

ke dalam dogmatisme atau secara tidak wajar berusaha menanamkan pengaruh kepada para mahasiswanya dengan menuntut mereka agar menjadi pendukung pandangan  metodologis dan substantif tertentu. Menyerah pada godaan dogmatis berarti tidak setia pada kewajiban untuk mengkomunikasikan kebenaran (Shils 1993:80)  .

Contoh,

    Seorang dosen bahasa Indoneia yang apresiatif terhadap penelitian kualitatif dalam kajian bahasa dan sastra harus hati-hati untuk tidak menanamkan kepada mahasiswanya bahwa aspek kajian itu hanya baik jika dilakukan melalui penelitian kualitatif, bukan dengan  kuantitatif, pada hal bisa juga dengan kuantitatif dengan hasil yang baik. Penelitian tentang pengaruh karya sastra terhadap pembaca tidak saja bisa dilakukan dengan jenis penelitian kualitatif malahan dengan kuantitatif justru dirasa lebih tepat. Jadi, dosen bahasa Indonesia yang cendrung suka dengan penelitian kualitatif janganlah terlalu melebihkan kesukaannya itu dengan merendahkan yang satunya lagi atau sebaliknya.

4.      Kesetiaan seorang dosen terhadap kewajiban  mengajarnya ditunjang oleh kesungguhan para  koleganya dalam melakukan pengajaran masing-masing.

     Integritas  intelektual dan performan seorang dosen bukan hanya terletak pada persolan kekuatan watak tetapi juga merupakan fungsi dari lingkungan pergaulan seorang dosen di universitas. Dalam soal intelektual, sebagaimana di bidang-bidang lain, kesadaran moral saling memperkuat satu sama lain. Karena itu komunitas akademis menunjang etika akademis dalam pengajaran. Sikap sseorang dosen yang peka terhadap kewajiban moralnya mempengaruhi sikap para koleganya terhadap kegiatan pengajaran mereka sendiri. Kepekaan seorang dosen terhadap kewajibannya dipertajam oleh kesadaran akan kekuatan kepekaan moral itu dalam diri para kolega. Salah satu cara tidak langsung untuk menjaga agar para dosen tetap mempunyai kepekaan yang tinggi dalam hal kewajiban terhadap para mahasiswa adalah melalui sikap hati-hati dalam proses pengangkatan  dosen baru, sehingga dapat dihindari masuknya calon-calon dosen yang tampaknya melalaikan kewajiban mengajarnya (Shils, 1993:84).

Contoh,

           Keseriusan dan keberhasilan seoran dosen bahasa dan Satra Indonesia dalam mengajar tentu dipengaruhi dan ditunjang juga oleh staf pengajar lainnya, tidak saja dosen dari jurusan sama tetapi juga dari jurusan lannya, seperti bahasa Inggris, matematika, IPS, dan termasuk Filsafat.

 

5.      Para mahasiswa tidak hanya perlu diajar. Mereka juga perlu dinilai dan harus      dinilai secara adil oleh para penguji.  

     Penilaian  ini menurut Shils (1993:85)  penting karena akan mempengaruhi kesempatan para mahasiswa dalam studi mereka selanjutnya dan kemungkinan mereka diterima dalam karier professional. Penilaian mempengaruhi pula sikap para mahasiswa terhaddap studi dan diri mereka sendiri. Penilaian yang adil sangat dibutuhkan baik oleh masyarakat maupun oleh masing-masing mahasiswa. Juga tidak kurang penting adalah kesembronan dipihak penguji dalam menjaga standar penilaian yang stabil hal ini sukar dikontrol.

      Selanjutnya dia mengatakan bahwa di beberapa universitas, baik lingkungan maupun tradisi menghargai pertemuan antara dosen dan para mahasiswa di luar ruang kuliah atau laboratarium serta  kesediaan dosen dalam menyediakan waktu untuk mahasiswa berdiskusi dengannya, baik di ruang kuliah maupun di laboratarium haruslah di sambut baik. Karena itulah makanya, hubungan informal antara dosen dan mahasiswa tetap dibina. Tetapi hubungan itu mengandung bahaya-bahaya tertentu. Salah satu bahayanya adalah bahwa dalam hubungan semacam itu sang dosen mungkin saja cendrung untuk lebih suka pada bebrapa mahasiswa dengan pada mahasiswa-mahasiswa lain, memberi mahasiswa-mahasiswa yang disukainya lebih banyak kesempatan untuk berdiskusi di kelas atau dalam seminar. Beberapa bahaya jika hubungan antara dosen dengan para mahasiswa terjalin rapat adalah terjadinya  diskriminasi dalam penilaian dan terjadinya relasi seksual.

Contoh,

     Dalam perkuliahan, seorang dosen bahasa Indonesia mestilah melakukan penilaian terhadap mahasiswanya. Walaupun cara menilai itu dapat dilakukan dengan bermacam-macam, namun hendaklah dilakukan dengan secara adil dan objektif. Dalam memberikan penilaian ini,  dia hendaklah hati-hati supaya tidak terjerat dengan  relasi seksual. Relasi itu tentu  mengandung bahaya-bahaya tertentu. Salah satu bahayanya adalah bahwa dalam hubungan semacam itu sang dosen mungkin saja cendrung untuk lebih suka pada bebrapa mahasiswa daripada mahasiswa-mahasiswa lain, memberi mahasiswa-mahasiswa yang beralasi itu dengan niali lebih tinggi di banding yang lainnya.

 

6.      Sebagai kewajiban terhadap para mahasiswa, para dosen seharusnya     mendorong mahasiswa cepat menyelesaikan pendidikannya, tidak menganggu  serta mengacau pelaksanaan penelitian dan administrasinya.

Contoh,

           Dosen bahasa Indonesia seharusnya memberikan motivasi dan  teknik atau kiat tertentu kepada mahasiswanya agar cepat menyelesaikan perkuliahan maupun penelitian dan jika perlu dengan senang hati meminjamkan sesuatu yang sangat diperlukan mahasiswanya, seperti meminjamkan buku-buku asing yang diperlukan untuk mendukung teori-teori penelitian yang sulit ditemukan di pustaka atau toko buku.  Sebaliknya, tidak selayaknya jika ada seorang dosen bahasa Indonesia yang justru mempersulit proses perkuliahan atau penelitian yang sedang dijalankan oleh mahasiswanya seperti dengan jarang datang ke kampus atau tidak menaati jadual konsultasi yang telah disepakati bersama sehigga mahasiswa sulit dalam menyelesaikan perkuliahannya, bahkan tidak jarang terjadi seorang mahasiswa terlambat diwisuda gara-gara hanya terlambat dalam mendapatkan tanda tangan seorang dosen.

 

7.      Dosen  tidak boleh menyalahgunakan wewenang yang diperolehnya walaupun  dalam bidangnya ia mempunyai banyak  pengetahuan dibandingkan dengan para mahasiswanya. Bagaimanapun juga satu yang jelas, pengajar wajib untuk tidak  menggunakan ruang kuliah sebagai tempat   meraih pendukung bagi pandangan     

      politik ataupun bagi partai politiknya.

                 Mestinya dosen menyembunyikan keyakinan politik dan moralnya dan pernyataan menyangkut preferensi etis dan politis dihindari dalam pengajaran universitas, karena hubungan dosen dan mahasiswa di aula tempat  kuliah tidak memungkinkan para mahasiswa mengkritik pernyataan dosen itu. Sebenarnya dosen harus membiarkan mahasiswa bebas untuk membuat keputusan politiknya sendiri.

     Pengajar yang mengungkapkan penilaian sosial dan politisnya perlu berusaha untuk menjelaskan bahwa ia sedang mengungkapkan penilaian sendiri dan perlu menerangkan dengan sejelas mungkin perbedaan antara apa yang didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang dikaji secara cermat dan sudut pandang politik atau moral apa yang dipakainya untuk menilai situasi (Shils,1993:90). 

      Contoh,

     Seorang dosen bahasa Indonesia yang sudah bergelar profesor, doktor, master, dan yang tidak diragukan lagi kemampuan akademiknya. Disamping itu, dia juiga aktif dalam partai politik tertentu, misalnya Partai Keadilan sejahtera (PKS) namun ia tidak boleh menggunakan ruang kuliah untuk meraih dukungan dari mahasiswa bagi partai politiknya.

 

C.  Beberapa Penyakit Dosen yang Harus Dihindari

 

  1. Galat Atribut

Tresna (1988:77) menjelaskan bahwa ada suatu prilaku dari dosen yang harus dihindari sehubungan dengan kegiatannya di universitas yaitu apa yang disebut dengan galat atribut (sifat menyalahkan). Cara ini ialah kecendrungan untuk menyalahkan  apa-apa yang di luar kita untuk masalah kita sendiri. Dosen yang tidak memperoleh bantuan atau kerja sama dari mahasiswa akan menyalahkan mahasiswanya, fasilitas sekolah, waktu, cuaca, atau sifat mata pelajaran itu sendiri. Apa yang tidak tampak ialah kekurangan atau tanggung jawab diri sendiri untuk tiadanya keikutsertaan mahasiswa. Dosen tidak pernah bertanya, “Mengapa saya membosankan kelas? Tindakan apa yang telah saya lakukan, yang menghalangi interaksi? Bagaimana hubungan saya dengan kelas terganggu?”

Keccendrungan menyalahkan situasi luar ini tidak sepenuhnya salah. Memang ada juga di antaranya yang ditemukan di lapangan namun tentu memerlukan adanya introspeksi diri dan analisis lingkungan. Mengabaikan salah satu akan terjadi galat pertimbangan. Untuk mengatasi masalah ini ajukanlah pertanyaan ini: “Bagaimana prilaku saya (dosen) dan berbagai aspek situasi menggiur ke dalam masalah ini? Bagaimana meningkatkan minat, partisipasi, dan keterlibatan?”   

Contoh,

     Dosen bahasa Indonesia menyebarkan angket penelitian yang harus dijawab oleh mahasiswanya, akan tetapi setelah dianalisisnya hasil agket itu, ternyata hasilnya  tidak memuaskan lalu secara serta merta tanpa mengoreksi diri mengatakan bahwa penyebabnya adalah  mahasiswa, fasilitas sekolah, atau hal lannya. Pada hal, jika ia mau bersikap arif maka akan diketahuinya bahwa penyebab kegagalannya mungkin disebabkan selama ini dia kurang apresiatif dan kooperatif dengan mahasiswanya sehingga angket yang diisi tidak direspon dengan serius oleh mahasiswanya.

 

  1. Keyakian Irasional

Salah satu keyakinan yang mengendalikan prilaku dosen ialah keyakinan irasional. Keyakinan itu bercirikan pikiran-pikiran yang tidak logis  dan berlebih-lebihan. Keyakinan irasional tampak pada pernyataan bernada ekstrim dan mutlak seperti mengandung kata-kata “semua, setiap, selalu, harus perlu, wajib, dsb”.

Keyakinan irasional mencegah dosen untuk menyelidiki ide lebih lanjut untuk melibatkan diri.

Ada beberapa gambaran yang mencerminkan keyakinan itu, di antaranya:

 

  1. Generalisasi berlebihan:

          Contoh,

 Pernyataan dosen bahasa Indonesia akan berbunyi seperti berikut: “Ah, metode pengajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis mahasiswa bahasa Indonesia dengan teknik copy master tidak jalan. Saya telah mencobanya di ruang kuliah, ternyata terjadi malapetaka. Teknik ini yang semula hanya dimaksudkan sebagai langkah awal untuk meningkatkan ketampilan menulis mahasiswa namun jusru digunakan untuk meng-copy master karya tulis orang lain”. Mahasiswa disuruh menulis karya tulis oleh dosen, tetapi salah seorang telah membuatnya dengan  meng-copy master karya orang lain. Kenyataan ini mungkin ada satu-satu terjadi di kalangan mahasiswa.  Akan  tetapi terlalu berlebihan untuk menggeneralisasikannya secara keseluruhan.

 

      b.   Menggambarkan bencana:

          “Saya memeras otak berusaha membuat suasana kuliah bahasa Indonesia agar sangat menarik. Tetapi tidak sedikit pun mahasiswa meresponnya. Saya berfikir sungguh-sungguh bahwa saya ini gagal total sebagai dosen bahasa Indonesia”.

 

      c.   Berfikir Negatif

“Saya bukan dosen bahasa Indonesia yang baik. Keterampilan saya sebenarnya ialah menulisdan mengarang bukan mengajar di depan ruang kuliah ini. Saya merasa kurang yakin berdiri di depan mahasiwa. Saya yakin bahwa mereka mengetahui kelemahan saya ini. Biarlah terima saja nasib ini”.

 

  1. Ketidakpekaan akan Umpan Balik

     Tresna (1988:90) mengatakan bahwa orang sering cendrung tidak peka akan umpanbalik bila ada hal yang berlawanan dengan konsep dirinya. Ia bukan bertanya bagaimana inforamasi yang diterima itu menyangkut dirinya, tetapi mengacuhkannya, mengubahnya, atau memutarbalikkannya sehingga menjadi sesuai degan keinginannya. Dosen yang tidak peka dan yakin bahwa pekerjaannya sopan atau layak, mungkin akan mengabaikan tindakan yang sebenarnya berlawann dengan keyakinannya. Berita tentang ketiadaan minat siswaa akan ditolaknya atau siswa dipersalahkannya. Adalah diragukan bahwa prilaku ini akan membantu melindungi konsep dirinya.

                  Orang sering mengabaikan yang jelek perihal kelakuan mereka tetapi membesar-besarkan pa yang apa yang dilakukan baik. Hal ini akn mengurangi kesediaan untuk mencari pengalaman baru danmengarahkan hidup kita kea rah yang lebih baik. Orang akan cendrung melakukan kebiasaan lama, daripada mengubah kelakuannya yang kurang baik. Demikialah diperoeh masalah gaya belajar yang terbatas.

Agar umpan balik bekeerja sebagaimana mestinya kita harus berfikiran erbuka, bersedia menelaah apakah adfa hubungannya dengan massalah pelajaran di kelas.. Terutama bila umpan balik itu amat khusus dan menyangkut prilaku kita yang dapt kita ubah. Prilaku yang mudah diamati lebih dahulu diperhatikan kesediaan untuk berubah dan keterbukaan akan saran-saran orang lain amat diperlukan agar umpan balik itu efektif.

Contoh,

          Seorang dosen bahasa Indonesia telah ditugaskan mengajar di sebuah lokal tertentu namun ketika dia akan memulai perkuliahannya di dalam lokal ternyata tak ada seorang pun mahasiswa di dalamnya. Menurut informasi yang berkembang bahwa mahasiswa tidak mau mengikuti perkuliahan dengannya karena dia banyak menyulitkan mahasiswa. Mahasiswa menilai bahwa dosen itu sering terlambat datang ke kampus. Jika datang, jarang yang tidak marah-marah  kepada mahasiswa di dalam perkuliahan. Selain itu, dia juga cendrung tidak logis dan subjektif dalam memberikan peneliaian kepada mahasiswa bahkan sudah banyak  mahasiswa yang gagal atau mendapat nilai sangat rendah dengannya. Mestinya dia harus peka terhadap keadaan itu dan bisa menjadikannya sebagai umpan balik dalam memperbaiki dirinya di masa yang akan datang. Jadi, tidak mengacuhkan, mengubah, atau membalikkannya sehingga   menjadi sesuai dengan keinginannya.

 

  1. Menghentikan Pengawasan (kontrol)

Persolan pengawasan lingkungan dan penggunaan kekuasaan mempunyai peranan penting dalam rancangan prosedur kelas. Dosen juga berusaha untuk memelihara pengaruhnya, misalnya menggunakan metode dan proses tertentu dalam merancang kelas. Dosen juga mengatur sistem penilaian, menerapkan aturan kehadiran, menentukan prasarat format dan pola, menentukan topik makalah, menetapkan batas waktu penyampaian tugas-tugas, mematuhi kebijakan ujian, dan banyak lagi. Siswa amat sedikit pengaruhnya dalam menetapkan aturan-aturan yang berlaku untuk kelas (Tresna 1988:94)  

Agar diperoleh partisipasi siswa, perlu ada perubahan dalam penggunaan waktu kelas. Siswa perlu diberitahu untuk partisipasi di kelas. Prosedur pengajaran perlu memperhatikan kebutuhan siswa agar dapat belajar lebih efektif. Bila kesediaan dosen untuk mengatur kembali pembagian waktu ini, maka partisipasi siswa akan terhambat. Keengganan menghentikan pengawasan oleh dosen juga merupakan salah satu sebab pengaturan waktu kembali tidak dapat berjalan.

     Dosen juga berusaha untuk memelihara pengaruhnya, misalnya menggunakan metode dan proses tertentu dalam merancang perkuliahan.   Keengganan menghentikan pengawasan oleh dosen   juga merupakan salah satu sebab perkuliahan kembali  tidak dapat berjalan.

Contoh,

    Seorang dosen bahasa Indonesia yang sudah banyak memiliki gelar akademik dan mengajar di beberapa perguruan tinggi, baik dalam kota maupun luar kota bahkan luar provinsi. Dengan kesibukannya yang padat itu dia boleh saja merancang perkuliahan dengan metode dan proses tertentu, misalnya dengan pemberian tugas atau modul pembelajaran akan tetapi jika suatu saat dia menghentikan pengawasan karena kesibukannya yang semakin banyak tentu perkuliahan yang telah dirancang tidak akan berjalan dengan lancar.

 

5. Mendominasi pembicaraan

                 Centra (1982:61) mengatakan:

 

“The lecture is the most traditonal and, considaring all its forms, the mostly widely used approach to instruction. It is also the most critized because  of its teacher-center nature and general misuse at all levels of education. The type of lecture can range from a formal extended presentation, used primarily in high school and college large-group sessions, to informal explanations used at both elemetary and secondary levels. A major characteristic   of all lecturer, though, is that the teacher engeges primarily in one-way communication and thus dominates classroom verbal activity. Although the time periode of a lecture may range from several minute to over an hour, the student’s role is mainly a passive one with 80-90 percent of verbalizations being teacher-talk.

The vast majority of lectures are use for the purposes of introducing, informing, demonstrating, and summarizing.”

 

     Seorang dosen yang sangat tradisional adalah secara sangat luas dan terlalu mempertimbangan segala kondisi dirinya dalam pendekatan pengajaran. Keadaan itu sangat dikritik sebab secara umum dan alamiah pengajaran yang berpusat pada guru adalah tidak tepat (salah penggunaan) pada semua level atau jenjang pendidikan. Tipe seorang dosen dapat diukur dari sebuah penyajian pengembangan formal, digunakannya secara utama di sekolah tinggi atau kampus dalam bagian kelompok yang besar, penjelasan-penjelasan informal digunakan pada kedua level dasar dan menengah. Karakteristik utama dari seluruh dosen dalam hal pemikiran adalah dia secara utama mengembangkan pola komunikasi satu arah dengan demikian dia mendominasi kelas dengan aktivitas verbalnya (ceramah). Walaupun waktu perkuliahan seorang dosen mungkin telah dijarakkan beberapa menit dari satu jam lebih, namun keberadaan siswa secara utama menjadi orang yang pasif  80—90 persen akibat dari pembicaraan  hanya didominasi oleh dosen. Mayoritas seorang dosen itu dalam pembicaraan hanya untuk tujuan perkenalan, pemberitahuan,  penjelasan, demonstrasi, dan penyimpulan.

              Dari pendapat centra tersebut dapat disimpulkan bahwa mestinya seorang dosen itu jangan terlalu mendominasi pembicaraan di ddalam ruang kuliah sehingga mahasiswa pasif saja. Seorang yang sangat tradisional itu adalah menganggap seluruh bentuk-bentuk yang dimilikinya, secara dalam dan luas menggunakannya dalam pendekatan pengajaran. Suatu kritikan yang sangat tajam ditujukan kepada seorang dosen apabila dia mengajar terlalu berpusat kepadanya. Secara umum dan alamiah keadaan itu salah diterapkan pada semua jenjang pendidikan. Mestinya dalam perkuliahan, dosen itu mendominasi pembicaraan hanya untuk tujuan perkenalan, pemberitahuan,  penjelasan, demonstrasi, dan penyimpulan. 

 

III. SIMPULAN

 

Mengajar di perguruan tinggi atau universitas memiliki intensitas yang tinggi dalam bidang pengetahuan dan penyebarluasannya. Dosen tidak saja dituntut untuk memilik kedalaman dalam bidang objek material keilmuannya tetapi juga memiliki berbagai variasi metode, teknik, dan etika akademik dalam menyampaikannya kepada para mahasiswa.Untuk memperoleh dan menyampaikannya kepada para mahasiswa, mereka haruslah berpegang kepada ketentuan-ketentuan akademis universitasnya.

Kewajiban umum dosen dalam bidang pengetahuan ialah  melakukan penelitian yang dapat diterbitkan,  baik di kalangan akademis maupun masyarakat umum. Sedangkan kewajiban utamanya terhadap pengetahuan adalah meyampaikan kebenaran dalam bidang yang diajarkannya atau ditelitinya. Dalam menjalankan kewajibannya terhadap pengetahuan, dosen boleh melakukan berbagai penelitian yang meliputi yang keilmuan yang digelutinya. Dalam konteks akademis dan demi untuk mengembangkan keilmuannya, dia boleh melakukan apa saja tanpa terikat dengan nilai-nilai sementara menurut sebagian pendapat lain mengatakan harus terikat dengan nilai-nilai. Hal itu biasanya bergantung kepada visi dan misi serta tujuan yang diemban oleh univesitas yang bersangkutan.

Kepada mahasiswa, para dosen di samping melakukan penelitian, dia juga harus mengajar di dalam kampus sebagai mana layaknya proses belajar mengajar. Jadi dia tidak melulu sibuk mengadakan penelitian, namun pembinaan  pikiran dan watak mahasiswa terhadap melakukan penelitian harus dibina juga dalam pengajaran. Pengajaran bukan sekedar pengalihan sekumpulan pengetahuan, teoritis ataupun faktual yang penting saja, namun harus bertujuan untuk menyampaikan pemahaman tentang kebenaran-kebenaran fundamental dalam bidang itu serta metode-metode dan teknik-teknik penelitian dan pengujian yang khas dalam bidang bersangkutan.

Ketika dosen menyampaikan  keilmuannya kepada para mahasiswa, hendaklah ia ia tidak jatuh dalam dogmatisme serta mempengaruhi siswanya untuk menjadi pendukungnya. Terbelenggu dengan sebuah dogmatisme berarti dosen tidak setia pada kewajiban untuk mengkomunikasikan kebenaran.

Eksistensi seorang dosen dalam mengajar ditunjang oleh kesungguhan para koleganya dalam melakukan pengajaran masing-masing. Terpeliharanya integritas  intelektual bukan hanya persolan kekuatan watak pribadi saja tetapi juga merupakan fungsi dari lingkungan pergaulan seorang dosen dengan yang lainnya  di universitas.

Dalam memberikan penilaian kepada para mahasiswa, dia hendaklah berlaku adil, objektif, dan sedapat mungkin menekan faktor subjektifitas . Adalah berbahaya jika hubungan antara dosen dengan para mahasiswa terjalin rapat sehingga mengakibatkan terjadinya  diskriminasi dalam penilaian, relasi seksual, dan beberapa akibat buruk lainnya.

Dosen tidak boleh menyalahgunakan wewenang yang diperolehnya walaupun dalam bidangnya ia mempunyai banyak pengetahuan dibandingkan para mahasiswanya serta menggunakan kelebihannya itu untuk mendapatkan dukungan  partai politiknya.

Beberapa Penyakit  yang harus dihindari dosen dalam pengajarannya adalah 1) galat atribut, 2) keyakinan irasional, 3) ketidakpekaan akan umpan balik, 4) menghentikan pengawasan, dan 5) mendominasi pembicaraan. Keyakinan Irasional meliputi: a) generalisasi berlebihan, b) menggambarkan bencana, c) dan berfikir negatif.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Bloomfield, Leonard. 1933. Language. New York: Holt,

Rinehart.

Buchori, Mochtar. 2001. Before and after Reformasi.

Jakarta: The Jakarta Post in Cooperation with The Asia Foudation.

Centra, John A. 1982. Determining Faculty Effectiveness.

London: Jossey-Bass Publishers.

Chomsky. 1965. Aspects of the Theory of Syntax. Cambridge: MIT Press.

Dardjowidjojo, Soenjono. 1991. Pedoman Pendidikan

Tinggi. Jakarta: Gramedia Widia sarana Indonesia.

Echols, John M. dan Hassan Shaddily. 1995. Kamus Inggris Indonesia.

Jakarta:Gramedia.

Gagne, Robert Mills. at al. 1988.  Principles of 

Instructional Design. Tokyo: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.

Hamidy, H. Zainuddin (Penyusun).1982. Al-Quran:

askah Asli, Terjemahan, Keterangan Lengkap 30

Juz. Jakarta: Widjaya.

Kasih, Ekawahyu dan Aziz Suganda. 1999. Pendidikan

Tinggi Era Indonesia Baru:Sebuah Konsep Upaya

Praktis Peningkatan Pemerataan dan Kualitas.

Jakarta: Grasindo.

Sastrawijaya, Tresna. 1988. Proses Belajar Mengajar di

Perguruan Tinggi.Jakarta: Depdikbud Dirjendikti PPLPTK.

Shils, Edward. Tanpa tahun. Etika Akademis. Terjemahan

oleh Parsudi Suparlan. 1993. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Skinner, Burhus. 1958. Verbal Behaviour. New York:

Appleton Crofts.

Strike, Kenneth A. 1984. The Ethics of Teaching. New

York: Teacher CollagePress.

Prayitno. 2004. Buku Panduan Penulisan tesis dan

Disertasi. Padang: PPSUNP.

Soedarsono, FX. 2001. Mengajar di Perguruan Tinggi:

Aplikasi PenelitianTindakan Kelas. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.

Tucker, Allan and Robert A Bryan. 1991. The Academic

Dean Dove, Dragon, and Diplomat. New York: American Council on Education/Macmillan Series on

Higher Education.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KARAKTERISTIK UJARAN ANAK PADA FASE HOLOFRASIK

March 15, 2008

Erzuhedi

I.  PENDAHULUAN 

Latar Belakang Pembahasan
Pertumbuhan dan perkembangan manusia membutuhkan waktu yang panjang serta terdiri dari atas fase-fase yang memiliki ciri-ciri tersendiri. Di antara fase-fase itu, fase pertumbuhan awal atau pertumbuhan anak-anak merupakan fase yang paling banyak mendapat sorotan karena mengandung arti penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia pada masa selanjutnya. Bahkan para ahli ilmu jiwa perkembangan seperti Charlott Buhler dalam ( Simanjutak, 1984: 19 ) menganggap tingkat perkembangan anak pada fase ini sangat penting sehingga mereka berpendapat bahwa fase perkembangan anak pada masa ini menentukan corak dan kualitas manusia pada saat mereka menjadi dewasa, baik dalam aspek fisik, psikis, maupun sosial.          

Read the rest of this entry »

IKHTISAR MATERI KULIAH

March 4, 2008

gambar53.jpg

IKHTISAR TOPIK:

LANDASAN  ILMIAH  ILMU  PENDIDIKAN   

BY   ERZUHEDI      

   PENDAHULUAN       

      Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang paling mendasar bagi manusia dan prosesnya sudah dimulai sejak manusia masih berada dalam kandungan ibunya. Menurut sebagian ahli tarbiah Islam, malahan persiapannya sudah dimulai sejak jauh sebelumya, yaitu saat penentuan dan pemilihan pasangan perkawinan. Rasulluh Saw. menyampaikan kepada umatnya, jika memilih jodoh maka lihatlah agama, keturunan, dan kecantikannya. Jika semua kriteria  itu ada maka utamakanlah agamanya.  Ini artinya, bahwa pembinaan kepribadian dari seorang anak itu sudah dimulai dari sejak pemilihan bibit (keturunan) dari pasangan calon ibu dan bapak yang akan memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

            Begitu pentingnnya pendidikan (baca: ilmu) ini sampai-sampai Islam menyatakan bahwa untuk menuntutnya sudah diperintahkan sejak dia masih berada dalam ayunan sampai ke liang lahat. Allah Swt. sangat memuliakan orang yang berilmu. Bahkan kedudukan orang berilmu dalam perspektif Islam adalah berbeda, orang yang berilmu lebih tinggi dari orang yang bodoh. Allah Swt. berfirman:

Artinya,(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Q.S.39:9).             

           Dari ayat Al-Quran di atas, dapat disimpulkan bahwa orang berilmu adalah termasuk orang yang beruntung karena dia bisa menerima pelajaran (berilmu) serta beribadah kepada Allah Swt. Yang beruntung itu bukan yang berilmu saja tetapi disamping berilmu juga taat beribadah kepada-Nya. Orang musyrik banyak yang berilmu tinggi namun mereka bukanlah orang yang beruntung karena tidak taat kepada Allh Swt.            Orang alim mengatakan bahwa ilmu yang Allah Swt. berikan kepada manusia ini hanya sedikit saja dari ilmu yang dimiliki-Nya. Ibarat seekor burung yang mencelupkan patuknya di lautan lalu setetes air yang tergenang di dalamnya, itulah ilmu yang ada di dunia dan lautan adalah ilmu yang dimiliki Allah Swt. Jika diibaratkan dengan hitungan, maka dari seratus persen ilmu yang dimilik Allah Swt. hanya satu persen yang diberikan kepada manusia. Yang setetes dan yang satu persen itulah yang dipelajari dan didalami manusia.            Yang satu persen itu sejak dulu hingga sekarang belum tuntas dipelajari orang bahkan masih banyak lagi yang belum ditemukan dan dikembangkan. Untuk itulah berbagai penelitan telah dikembangkan dalam banyak dan ragamnya. Dalam pengembangannya tentu saja wahana yang paling tepat adalah melalui pendidikan. Melalui pendidikan dibentuk dan dikembangkanlah segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah kehidupan, mulai dari masalah yang bersifat mendasar sampai ke yang menyeluruh dan komplek.            Untuk mewujudkan pendidikan itu dilihatlah masalahnya dari berbagai latar belakang dan sudut pandang keilmuan yang menjadi landasannya. Hadirnya mata kuliah Landasan Ilmiah Ilmu Pendidikan untuk jurusan bahasa Indonesia program pascasarjana Uneversitas Negeri Padang pada semester tiga sangat memberikan pengaruh yang positif terhadap penambahan wawasan mahasiswanya dalam mengenal landasan ilmiah pendidikan secara mendalam dan menyeluruh. Dengan demikian itu, silabus perkuliahan yang telah disusun dan dikembangkan dalam perkuliahan ini sangat berguna bagi mahasiswanya.        

     Berikut ini adalah topik-topik perkuliahan yang terdapat dalam silabus tersebut:1.   Bidang Ilmu dan Kajian Dasar-Dasar Pendidikan2.   Antropologi dan Pendidikan3.      Kebudayaan dan Pendidikan.4.      Kebudayaan dan Kepribadian.5.      Transmisi Budaya dan Perkembangan Institusi Pendidikan6.      Pendidikan dan Perbuhan SosialBudaya: Modernisasi dan Pembangunan.7.      Negara, Politik, dan Pendidikan.8.      Pendidikan dalam Masyarakat Modern dan Sederhana.9.      Ilmu Pendidikan dalam Perspektif  Filsafat.10.  Kebudayaan sebagai Isi Pendidikan.11.  Sistem Nilai dalam Kehidupan Manusia.12.  Hakikat Manusia.13.  Hakikat Masyarakat. 14.  Pendidikan dan Nilai-Nilai Budaya.15.  Kurikulum dan Guru dalamPerspektif Budaya.Tugas akhir mata kuliah ini, mahasiswanya  membuat bentuk ikhtisar ataupun ringkasan dari materi itu. Apapun bentuk penjelasannya, intinya  adalah mahasiswa memahami bagian-bagian topik serta hubungan dan kaitan masing-masingnya. Setelah memahami semua topik di atas, saya menyimpulkan bahwa inti dari semuanya adalah permasalahan yang berkaitan dengan:

1.      Filsafat,   2. Budaya,  3. Pendidikan,  4. Poloitik        5. Manusia  6. Kepribadian   7. Masyarakat   8. Negara.

Masing-masing topik itu tidaklah bersifat lepas atau terpisah sama sekali akan tetapi saling berkaitan dan berhubungan, baik langsung maupun tidak langsung. Hubungannya tidak saja memberikan pengaruh tetapi juga sebaliknya, sehingga terdapat hubungan timbal balik. Pengaruh yang diberikan atau diterima oleh masing-masingnya tidak sama akan tetapi berbeda dari kualitas maupun kuantitasnya. Bagian manakah yang terlebih dahulu menciptakan atau memberikan pengaruh terhadap masing-masingnya? Di kalangan para ahli budaya dan pendidikan terdapat perbedaan yang bertolak belakang dari masing-masing dalam memberikan jawabannya.  Pendidikan   memiliki landasan ilmiah dari perspektif filsafat, budaya, politik, manusia, kepribadian, masyarakat, dan negara. Terlepas dari perbedaan pendapat antara para ahli yang mengatakan bahwa agama bagian dari budaya atau berdiri sendiri, yang jelas adalah rekomendasi agama terhadap pendidikan menjadi salah satu landasan yang cukup kokoh dan kuat bagi suatu pendidikan. Bahkan pendidikan dalam konteks mencari ilmu, wajib hukumnya menurut Islam.            Dari perspektif filsafat dapat dikatakan bahwa pendidikan mempunyai latar belakang dan landasan keilmuan yang bersifat menyeluruh dan komplek. Dalam kajain filsafat dibicarakan aspek pendidikan yang berkaitan dengan masalah yang hakiki dari kehidupan pribadi, masyarakat, negara, dan  manusia; tidak saja wujud lahiriah tetapi juga batiniah. Bahkan tiga ranah dalam kehidupan yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotor adalah bagian esensial dari dasar, proses, dan pencapaian hasil pendidikan. Walaupun memahami pendidikan dari sudut pandang filsafat membutuhkan ruang cukup besar, yang jelas adalah dasar falsafah yang dianut oleh suatu negara jelas mewarnai konsep, kebijakan, dan politik suatu negara dalam mengembangkan pendidikan.Tidak itu saja, pendidikan jelas berkaitan pula dengan kebudayaan dan politik yang dianut suatu negara. Secara makro kebudayaan banyak menumbuhkan, mempengaruhi, serta membentuk pribadi dan masyarakat yang berbudaya dengan corak dan karakteristik yang khas sehingga melahirkan fariasi dan bentuk-bentuk masyarakat yang merupakan ciri dan sekaligus menjadi modal budaya dari suatu negara. Dalam pengembangannya tentu pendidikan sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh arah dan  kebijakan serta politik suatu negara. Dengan demikian, politik yang dijalankan suatu negara memberikan pengaruh terhadap pengembangan pendidikan, baik langsung maupun tidak langsung.Demikianlah gambaran umum dan kaitan dari masing-masing topik perkuliahan Landasan Ilmiah Ilmu pendidikan ini, untuk lebih rincinya akan dibahas pada bagian berikutnya. 

I K H T I S A R 

I.          KEBUDAYAAN DAN PENDIDIKAN 

Latar Belakang filosofis dan sosial Budaya dari Pendidikan

 Latar Belakang Filosofis dari Pendidikan         

    Imam Barnadib (1990:7) menjelaskan bahwa ilmu pendidikan atau pedagogik adalah ilmu yang membicarakan masalah-masalah umum pendidikan, secara menyeluruh, dan abstrak. Pedagogik selain bercorak teoritis juga bersifat praktis. Untuk yang teoritis diutarakanlah hal-hal yang bersifat normatif, yaitu menunjuk kepada standard nilai tertentu; sedangkan yang praktis menunjukkan bagaimana pendidikan itu harus dilaksanakan.       

     Pedagogik sebagai ilmu pokok dalam lapangan pendidikan  supaya dapat memenuhi persyaratan landasan konsep dan fungsinya, sudah barang tentu memerlukan landasan-landasan yang berasasal dari filsafat atau setidak-tidaknya mempunyai hubungan dengan filsafat. Landasan-landasan yang berasal dari filsafat akan melahirkan pemikiran-pemikran yang teoritis mengenai pendidikan dan berbagai pemikiran pendidikan memerlukan penerangan dan bantuan penyelesaian dari filsafat.            Pendidikan merupakan salah satu aspek penting kehidupan yang bersifat kompleks dan menyeluruh serta memerlukan berbagai macam keterkaitan dan bantuan dari displin ilmu lain dalam mewujudkannya. Oleh karena itu, pendidikan perlu dilihat secara komprehesif dan totalitas. Untuk mewujudkannya tentu filsafat sangat dibutuhkan kehadirannya. Dengan berfikir filsafat, berbagai persoalan yang menyangkut dengan pendidikan diharapkan bisa diselesaikan sesuai dengan masalah pendidikan yang bersifat kompleks. Dengan demikian dapat pula dikatakan  bahwa pendidikan pada awal dan  proses perkembangannya  memerlukan pertimbangan dan pemikiran dari filsafat yang bersifat mendasar, teliti, dan teratur.       

     Menurut Theodore Brameld  (1958), perkembangan dan perubahan dalam lapangan pendidikan menimbulkan tantangan agar para pendidik mempunyai sikap tertentu yang bersendikan pada filosofis. Sikap tertentu itu, yang lazim dianut  adalah konservatif, bebas, modifikatif, regresif atau radikal rekonstruktif.             Sikap-sikap di atas dalam penjabarannya mengenai pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Menghendaki pendidikan yang pada hakikatnya progresif serta tujuan pendidikan hendaklah diartiakan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus.
  2. Menghendaki pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang tinggi dan hakikki kedudukannya dalam kebudayaan. Nilai-nilai ini hendaklah yang sampai kepada manusia melalui sivilisasi dan yang telah teruji oleh waktu.
  3. Yang menghendaki agar pendidikan kembali kepada jiwa yang menguasai abad pertengahan karena jiwa abad pertengahan telah merupakan jiwa yang menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tata kehidupan yang telah ditentukan secara rasional.
  4. Yang menghendaki agar anak didik dapat dibangkitkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan daan teknologi. Dengan penyesuaian seperti ini anak didik akan tetap berada dalam suasana aman dan bebas. Menurut Theodore Brameld (1958) mengatakan bahwa visi-visi filosofis tersebut tidak sepenuhnya utuh atau kompak karena komponen-komponen yang membentuknya tidak sepenuhnya bersendikan pada satu corak. 

Latar Belakang Sosial Budaya dari Pendidikan     

        Kebudayaan sebagai hasil budi manusia, dalam berbagai bentuk dan manifestasinya, dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku, melainkan selalu berkembang dan berubah. Maka dari itu, pendidikan sebagai usaha manusia yang mrupakan refleksi dari kebudayaan, dapat diperkirakan memiliki sifat-sifat yang sejiwa dengan kebudayaan tersebut.            Corak-corak baru dari kebudayaan dan peradaban manusia, yang telah mendasari dan menjiwai sejarah manusia selama ini mengantarkan manusia ke dalam zaman modern dan ultramodern. Untuk zaman ini, pendorong-pendorong utamanya  adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dua lapangan ini, karena sifatnya yang dapat dianggap sebagai unsur-unsur potensial yang menimbulkan “revolusi” dalam peradaban manusia, dengan sendirinya dapat dianggap potensial pula dalam pensdidikan (Manan,1990:24).          

  Kebudayaan disampaikan oleh satu generasi ke generasi berikutnya serta dari satu kurun waktu ke kurun waktu berikutnya. Dari perspektif generasi muda, kebudayaan dipelajari oleh generasi muda dari generasi-generasi sebelumnya. Jadi, ada proses penyampaian kebudayaan (transmision of culture) dan ada proses pemerolehan kebudayaan (the acquisition of culture). Satu generasi mengajarkan atau memindahkan kebudayaan dan generasi yang lain atau berikutnya belajar dan menerimanya. Penyampaian kebudayaan mencakup proses belajar dan mengajar, karena itulah pemahaman tentang hakikat kebudayaan sangat penting sekali artinya bagi orang-orang yang bergerak dalam dunia pendidikan khususnya dan orang-orang yang terlibat dalam pembuat kebijaksanaan pendidikan pada umumnya.        

    Hubungan Antara Kebudayaan dan Pendidikan          

 Pendidikan, baik yang bersifat formal, informal, maupuan nonforal mendapat pengaruh dari kebudayaan yang ada dalam masyarakat. Di sekolah, para siswa menerima warisan budaya yang telah dipersiapkan dan dirancang dalam  kurikulum. Dalam lingkungan keluarga, anak-anak mendapatkan pengalaman budaya langsung dari orang tua, adik kakak, sanak saudara, pengasuh, dan orang-orang yang dekat dengannya. Di lingkungan, dia mendapat pengaruh budaya dari masyarakat tempat tinggalnya. Bahkan berkat kemajuan teknologi  sekarang ini, anak-anak mendapatkan pengaruh budaya dari berbagai belahan  dunia melalui internet dan media global lainnya.Di sekolah, bukan berarti anak-anak menerima warisan budaya saja, tetapi menciptakan bentuk-bentuk budaya baru melalui anak-anak yang cerdas dan proaktif walaupun kualitas dan kuantitasnya lebih rendah jika dibandingkan dengan ketika budaya mempengaruhi pribadinya.       

     Dari kenyataan yang ada nampak bahwa kebudayaan perlu dikembangkan dengan cara pendidikan. Anak muda tidak akan matang secara budaya  tanpa ditunjukkan bagaimana menjadi dewasa.  Anak-anak juga menyadari bahwa teknik kedewasaan  mesti dipelajari dari orang dewasa. Masyarakat paham  bahwa penyampaian kebudayaan mereka tidak dibiarkan  terjadi secara kebetulan saja.          

  Sebagai salah satu sektor dalam jaringan besar kebudayaan, pendidikan beraksi terhadap peristiwa-peristiwa di bagian-bagian lain kebudayaan dan pada kesempatannya mempengaruhi peristiwa-peristiwa itu sendiri. Kebudyaan yang maju memicu pendidikan untuk menghasilkan spesialisasi pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi. Akibatnya siswa mesti belajar lebih banyak, baik untuk menguasai keahliannya dan untuk memahami kebudayaan sebagai suatu keseluruhan           

 Untuk menjamin bahwa pendidikan akan mencapai tujuan-tujan yang diakui, diperlukan antropolog untuk mengatakan dimana pertentangan yang telah diinternalisasikan dari kebudayaan yang berlawanan dengan usaha-usaha guru. Karena tugas utama pendidik adalah untuk mengekalkan hasil-hasil prestasi kebudayaan, pendidikan pada dasarnya bersifat konservatif. Namun sejauh pendidikan bertugas menyiapkan pemuda-pemuda untuk menyesuaikan diri kepada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan di luar kebudayaan, pendidikan telah merintis jalan untuk perubahan kebudayaan. Dapatkah pendidikan melakukan lebih dari itu? Dapatkah pendidikan melatih generasi yang akan datang tidak hanya dalam menyesuaikan diri kepada keadaan sekarang tetapi juga memulai perubahan tertentu pada kebudayaan? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu harus memperhatikan kekuatan-kekuatan  yang ada dalam kebudayaan yang berpengaruh terhadap menjadikan sekolah sebagai ujung tombak perubahan budaya mesti mempertimbangkan kekuatan-kekuatan yang menentang sekolah. 

Tiga Pandangan Tentang Kebudayaan yang  Terkait dengan Pendidikan        

    Jika akan digunakan penemuan antropologi  untuk kepentingan pendidikan, maka harus diajukan dulu suatu pertanyaan  pokok. Jenis realita apakah yang dimiliki oleh kebudayaan? Pertanyaan ini dijawab dengan tiga cara:

  1. Menurut pandangan superorganis, kebudayaan adalah  realitas super dan ada di atas dan di luar pendukung individunya dan kebudayaan punya hukum-hukumnya sendiri.
  2. Dalam pandangan konseptualis, kebudayaan bukanlah suatu entitas sama sekali, tetapi sebuah konsep yang digunakan  antropolog untuk menghimpun/meunifikasikan  serangkaian fakta-fakta yang terpisah-pisah.
  3. Dalam pandangan para realis, kebudayaan adalah kedua-duanya, yaitu sebuah konsep dan sebuah entitas empiris. Kebudayaan adalah sebuah konsep sebab ia bangunan dasar dari ilmu antropologi. Kebudayaan merupakan entitas empiris sebab konsep ini menunjukkan cara sebenarnya fenomena-fenomena tertentu diorganisasikan.                                                                                                                                                                                                          

Pandangan Superorganik tentang Kebudayaan

Pandangan superorganik tentang kebudayaan adalah:

1.      Inti pandangan superorganik adalah  bahwa kebudayaan merupakan sebuah kenyataan sui generis, karena itu mesti dijelaskan  dengan hukum-hukumnya sendiri. Meskipun adalah benar bahwa faktor-faktor tertentu – teknologi dan ekonomi umpamanya – mungkin menjadi sumber utama pertumbuhan kebudayaan, tetapi itu tidak berarti bahwa kebudayaan dapat direduksi menjadi teknologi dan ekonomi. Menurut Emile Durkheim (1961), kebudayaan terdiri dari fakta-fakta sosial dan representasi kolektif  yaitu cara berfikir, bertindak, dan merasa yang bersifat independen dan berada di luar individu.

2.      Menurut pandangan superorganik  prilaku manusia ditentukan secara budaya. Anggaplah bahwa individu memungkinkan adanya  kebudayaan (karena supaya ada, kebudayaan harus punya pendukung), namun itu tidak berarti bahwa individu menjadi sebab prilakunya sendiri seperti halnya pelaku sebuah sandiwara (tanpa sebuah pelaku sebuah sandiwara hanya akan merupakan sebuah skrip) memutuskan apa yang harus mereka pertontontokan. Kebudayaan mengontrol kehidupan anggotanya sebagaimana halnya sebuah sandiwara mengontrol kata-kata dan perbuatan aktor-aktor.  

Pandangan Superorganik dan Pendidikan           

 Pandangan superorganik mempunyai tiga implikasi terhadap pendidikan:

1.      Pendidikan ialah sebuah proses melalui mana  kebudayaan mengontrol  orang dan membentuknya sesuai dengan tujuan kebudayaan. Menurut L. White (1949):  Pendidikan merupakan alat yang digunakan  masyarakat melaksanakan kegiatannya sendiri dalam mengejar tujuannya. Demikianlah selama masa damai, masyarakat didik untuk damai, tetapi bila bangsa sedang berperang, masyarakat mendidik anggotanya untuk perang…. Bukan masyarakat yang mengontrol kebudayaan  melalui pendidikan; malah sebaliknya, pendidikan formal dan informal, adalah proses membawa tiap-tiap generasi baru ke bawah pengontrolan sistem budaya.             Untuk jelasnya, kebijakan pendidikan ditentukan oleh individu-individu,  tetapi individu-individu hanya alat melalui mana kekuatan-kekuatan budaya  mencapai tujuannya.  

2.      Lebih jauh, jika kebudayaan menentukan prilaku anggota-anggotanya kurikulum mesti dikembangkan atas kajian langsung dari keadaan kebudayaan  sekarang dan masa depan. Kurikulum mesti meliputi gagasan-gagasan, sikap-sikap, dan keterampilan-keterampilan yang memungkinkan individu-individu menjadi pendukung yang paling efektif dari kekuatan-kekuatan budayanya.

3.      Pandangan superorganik juga berimplikasi pada pengawasan pendidikan  yang ketat dari pemerintah untuk menjamin bahwa guru-guru menanamkan  dalam diri generasi muda gagasan-gagasan, sikap-sikap, dan keterampilan-keterampilan yang perlu bagi kelanjutan kebudayaan.

 Kritik terhadap Pandangan Superorganik

  1. Menurut F. Boas (1940) mengatakan bahwa kebudayaan  tidak bergerak sendiri tetapi merupakan ciptaan individu-individu yang hidup bersama. Kebudayaan bukan sebuah entitas yang mistis.
  2. Pandangan superorganik boleh dikritik karena memisahkan kebudayaan  dari manusia yang membangunnya.
  3. Orang juga bisa berkeberatan bahwa individu pada satu pihak, dan kebudayaan dilihat sebagai superorganik pada pihak lain, tidak bisa dibandingkan, dan karena itu, kemudian tidak bisa berinteraksi. Karena dengan cara bagaimanakah secara empiris dapat ditentukan bahwa realitas superorganik masuk ke dalam kehidupan seseorang dan membentuk prilakunya.
  4. Keberatan utama adalah bahwa walaupun kebudayaan menentukan banyak dari bentuk dan isi dari prilaku individu, kebudayaan tidak menentukan prilaku secara keseluruhan.
  5. Tidak dapat disangsikan, bahwa kebudayaan adalah superorganis dalam arti bahwa kebudayaan berumur panjang dan sebagian besar bertanggung jawab dalam membentuk prilaku manusia. Tetapi kebudayaan bukan sebuah  satuan yang independen, punya sebab sendiri,  dan punya arah sendiri. 

Pandangan Kaum Konseptualis tentang Kebudayaan         

 Umumnya antropolog Amerika menganut apa yang dinamakan  pandangan konseptualis tentang kebudayaan. Mereka mengatakan bahwa kebudayaan adalah  konsep atau konstruk seorang antropolog. Apa yang diamati orang tidak pernah kebudayaan seperti itu saja tetapi banyak bentuk-bentuk prilaku yang dipelajari dan dipakai bersama dengan benda-benda hasil produksi mereka. Dari sini pikiran mengenai kebudayaan diabstraksikan.            Menurut kaum konseptualis, pada akhirnya semua kebudayaan mesti diterangkan secara sosial psikologis. Dalam kata-kata R. Linton (1936), “kebudayaan ada hanya dalam fikiran individu-individu yang membentuk suatu masyarakat”. 

Pandangan Kaum Konseptualis tentang Pendidikan

            Karena mereka memandang kebudayaan sebagai kualitas prilaku manusia dan bukan entitas yang berdiri sendiri, para pengikut konseptualis setuju dengan pandangan bahwa anak-anak  harus mempelajari warisan budaya sesuai dengan perhatiannya. Anak-anak harus membangun gambaranya  sendiri tentang kebudayaan berdasarkan pengalamannya sendiri asal dia mengetes pengalaman belajar dengan pengalaman belajar orang lain dan asal saja dia mencapai  suatu gambaran yang objektif tentang kebudayaan.

 Pandangan Golongan Realis tentang Kebudayaan      

      David Bidney (1959) mempertahankan bahwa kebudayaan adalah sebuah konsep dan sebuah realitas.  Para realis dan konseptualis setuju untuk menolak determinisme budaya yang penuh. Meskipun peristiwa-peristiwa budaya di masa lalu dan sekarang membatasi apa yang dapat dilakukan oleh anggota satu budaya pada waktu-waktu tertentu, namun demikian, kata Kluckhohn (1959), kebudayaan tidak mengikuti logika yang kaku dari dirinya sendiri. Ada waktu-waktu  dimana suatu masyarakat menentukan nasibnya sendiri.            Juga sebab-sebab langsung dari perubahan sosial adalah ketidaksesuaian individu dengan budaya yang ada. Pada waktu ketidakpuasan meluas beberapa individu yang kreatif dapat menciptakan sebuah pola budaya baru, yang dengan cepat akan disetujui oleh yang lain. Dengan demikian,  asal dari perubahan sosial adalah ketegangan dan ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu-individu tertentu. Bilamana ketidakamanan  cukup kuat dan meluas, pola baru akan mengecambah pada beberapa individu yang kreatif yang secara perlahan-lahan ditiru oleh seluruh anggota masyarakat. 

Pandangan Golongan Realis dan Pendidikan

Kaum realis menghendaki sistem pendidikan yang akan melatih individu-individu untuk menimbang dan mengubah kebudayaan mereka berdasarkan nilai-nilai dasar mereka. Banyak pendidik tradisional ingin mencapai tujuan ini dengan mendidik generasi muda tentang apa yang dianggap kebenaran dan nilai yang permanen, dengan menggunakan nilai-nilai ini generasi muda dapat mengatakan perubahan sosial apa yang harus mereka bantu, hindari, atau gerakkan.

 II.           KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN

Keterpaduan Kebudayaan dan Kepribadian

Keterpaduan antara kebudayaan dan kepribadian pada  hakikatnya dapat dilihat dari peran masing-masingnya terhadap seseorang. Kita tidak dapat memahami dangan baik prilaku individu tanpa mempertimbangkan latar dan komponen budaya. Sebaliknya kita juga tidak dapat memahami institusi  budaya tanpa adanya pengetahuan tentang individu-individu yang turut serta di dalamnya.

            Pengkajain kepribadian dan kebudayaan bermula dari psikoanalisis yang mengarahkan perhatian antropologi pada tiga faktor penting. Ketiga faktor penting yang dimaksud adalah 1) kesan mendalam yang ditinggalkan pada masa kanak-kanak pada struktur kepribadian orang dewasa, 2) status orang tua dan guru sebagai agen budaya, dan 3) kenyataan bahwa proses enkulturasi merupakan faktor utama pembentuk kepribadian (Manan,1988:41).

            Gabungan dari antropologi dan psikoanalisis memunculkan pernyataan bahwa  metode pengasuhan anak dalam kebudayaan tertentu akan mempengaruhi atau membentuk struktur pokok kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai pokok kebudayaan. Umumnya orang tua tidak menyadarinya bahwa metode yang ditetapakan dan mengasuh anak sebenarnya mengarahkan anak tersebut untuk berprilaku menurut nilai-nilai kebudayaan dalam kelompoknya.

            Walaupun pengalaman pada masa kanak-kanak mungkin sebagai peletak dasar kepribadian orang dewasa, pengalaman tersebut tidak membentuk kepribadian secara keseluruhan. Seperti yang diungkapkan psikoanalisis, anak berkembang aman dan penuh penyesuaian pada saat orang tuanya mengasuhnya penuh kasih sayang dan dalam batas-batas yang diizinkan, tetapi anak hanya menerima dasar-dasar bagi orang dewasa yang penuh penyesuaian. Tetapi berubahnya daya penyesuaian anak bergantung pada pengalaman masa depannya.

            Menurut Manan (1989:42) dalam kajian terhadap kebudayaan dan kepribadian, ada tiga pendekatan tradisional yang digunakan. Ketiga pendekatan tersebut adalah 1) pendekatan konfigurasi, 2) pendekatan rata-rata, dan 3) pendekatan sosialisai.

            Bennedict (1934) mengatakan bahwa konfigurasi (bentuk atau wujud) dasar sebuah kebudayaan dapat dikorelasikan dengan tipe kepribadian tertentu. Karena itu, pendekatan ini mempengaruhi pengambilan, pertumbuhan, dan perubahan banyak elemen yang berada dalam satu kebudayaan. Ia mendalihkan satu kepribadian untuk tiap kebudayaan.

            Kardiner (1939) menganggap bahwa kepribadian sebagai dasar bukan sebagai tipe psikologis yang dicocokkan dengan nilai-nilai dominan kebudayaan, melainkan dibangun di atas disposisi bawah sadar tertentu yang dibentuk oleh institusi pertama kebudayaan, seperti cara pengasuh anak organisasi keluarga. Disposisi ini tetap selama hidup dan diproyeksikan kepada orang dan situasi lain. Disposisi ini juga diproyeksikan ke dalam institusi-institusi kebudayaan tingkat kedua, seperti seni, hukum, pemerintah, dsb.

            Menurut Reisman dalam Manan (1989:44) mengemukakan karakter tentang individu bahwa kepribadian orang dewasa ditentukan oleh pola sosialisasi sewaktu masa kanak-kanak dan remaja yang mencerminkan tuntutan kebudayaan. Hal ini bisa terlihat dalam berbagai masyarakat ada kecendrungan anak untuk tidak menginternalisasikan nilai-nilai  orang tuanya secara kuat melainkan mengambil standar-standar dari teman sebayanya.

            Suatu aktivitas budaya tidak hanya mencerminkan suatu motif budaya yang telah ditanamkan, tetapi mungkin juga mewujudkan motif-motif subjektif. Satu atau beberapa motif mungkin bisa menggerakkan beberapa kegiatan yang secara budaya diperbolehkan. Artinya, prilaku dalam suatu peran tidak hanya didorong oleh tuntutan peran itu sendiri, tetapi mungkin juga oleh serangkaian motif. Jadi kepribadian sesorang juga didasari oleh motif-motifnya.

            Sejauh mana tipe kepribadian mempengaruhi perkembangan kebudayaan atau sebaliknya sejauh mana kebudayaan mempengaruhi kepribadian, seperti menerima atau menolak inovasi? Seorang yang sewaktu kanak-kanak dididik dengan sangat keras mungkin akan menolak perubahan ke arah yang tidak ditentukan dalam kebudayaan, tetapi mungkin menerima perubhan tertentu yang menurut kebudayaan adalah wajar. Oleh sebab itu, kita hendak memahami efek perubahan kebudayaan terhadap kepribadian, termasuk perubahan yang mungkin diperkenalkan oleh pendidik. Artinya, kita hendaklah mengetahui sejauh mana belajar di masa depan dapat mengubah kepribadian dan sejauh mana kepribadian telah terbentuk sebelumnya.

 III.    TRANSMISI BUDAYA DAN PERKEMBANGAN INSTITUSI   PENDIDIKAN                           

 Sebelum menjelaskan transimisi budaya dan perkembangan institusi pendidikan, maka akan lebih baik terlebih dahulu dijelaskan tentang wujud kebudayaan. Koentjaraningrat dalam Imran Manan (1989: 26) mengemukakan tiga wujud kebudayaan, yaitu :

a.       Wujud kompleks ide-ide

Wujud ini ada dalam pikiran anggota suatu masyarakat atau telah dituangkan dalam berbagai media, maka akan ditemui dalam berbagai media cetak atau media elektronik. Dalam masyarakat, wujud ideal kebudayaan ini dinamakan adat atau tata kelakuan. Kebudayaan ideal ini berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Wujud ideal ini berbentuk nilai, hukum dan peraturan-peraturan.

b.      Wujud kompleks aktivitas kelakuan berpola

Wujud ini adalah tingkah laku nyata yang berpola yang dapat diamati dalam aktivitas-aktivitas anggota-anggota masyarakat yang berinteraksi, berhubungan, dan bergaul berdasarkan tuntutan nilai, norma, peraturan atau adat istiadat tertentu. Kelakuan berpola ini dinamakan sistem sosial yang secara konkrit dapat diamati, didokumentasi, dan difilmkan

c.       Wujud benda-benda hasil karya manusia

Wujud ini berupa hasil karya anggota-anggota suatu masyarakat dan semua benda-benda yang mempunyai makna dalam kehidupan suatu kelompok atau suatu masyarakat.

 Transmisi Budaya dan Pendidikan

Tranmisi budaya adalah penyampaian kebudayaan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Dalam penyampaian ini muncul beberapa istilah yaitu:

1.      Enkultasi, menurut Heskovist dalam Manan (1989:30) enkulturasi adalah proses perolehan kompetensi budaya untuk hidup sebagai anggota kelompok. Sedangkan enkulturasi menurut Hansen dan Gillin dalam (Manan,1989:30) adalah proses perolehan keterampilan bertingkah laku, pengetahuan tentang standar-standar budaya, dan kode-kode perlambangan seperti bahasa dan seni, motivasi yang didukung oleh kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan menanggapi ideoligi dan sikap-sikap. Jadi, enkulturasi adalah proses ketika individu memilih nilai-nilai yang dianggap baik dan pantas untuk hidup bermasyarakat, sehingga dapat dipakai sebagai pedoman bertindak.

2.      Sosialisasi, Sujarwa (2005:9) mengatakan sosialisasi adalah proses penyesuaian diri individu ke dalam kehidupan kelompok dimana individu tersebut berada, sehingga kehadirannya dapat diterima oleh anggota kelompok lain.

3.      Internalisasi, menurut Surjawa (2005:19) internalisasi adalah suatu proses dari berbagai pengetahuan yang berada di luar dari individu masuk menjadi bagian dari diri individu.

4.      Pendidikan, Hansen dalam Manan (1989:31) mengatakan pendidikan adalah usaha yang disengaja dan bersifat sistematif untuk menyampaikan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan, kebiasaan berpikir, dan bertingkah laku yang dituntut harus dimiliki oleh pelajar.

5.      Persekolahan, masih menurut Hansen, persekolahan adalah pendidikan yang dilembagakan.

 Perkembangan Institusi Pendidikan

Perkembangan persekolahan tergantung kepada faktor-faktor, antara lain kemampuan suatu masyarakat untuk membiayai sistem persekolahan, kemungkinan orang tua membebaskan anak-anaknya dari pekerjaan produktif menolong orang tua, perhatikan dari kelompok-kelompok tertentu dalam mengawasi penguasaan pengetahuan dari ketarampilan tertentu dan dalam memberi kesempatan kepada generasi muda menguasainya untuk menjamin kesinambungan masyarakat dan kelestarian  pengetahuan.

Kebudayaan di dalam suatu masyarakat atau bangsa memiliki arti dan fungsi tersendiri bagi anggotanya, antara lain:

1)      Untuk memenuhi kebutuhan pokok tertentu manusia.

2)      Memproduksi dan mendistribusikan barang-barang dan jasa.

3)      Menjamin kelestarian biologis .

4)      Dapat menciptakan suasana tertib dan memberikan motivasi kepada para anggotanya untuk bertahan hidup.

 IV.     PENDIDIKAN DAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA:  MODERNISASI DAN PEMBANGUNAN 

Perubahan Sosial Budaya  

   Faktor pendorong terjadinya perubahan sosial ada yang berasal dari masyarakat itu sendiri dan ada pula yang di luar masyarakat, ada yang sadar dan ada pula yang tidak sadar. Menurut Murdock (1965) berbagai fenomena yang menjadi faktor penyebab timbulnya perubahan sosial budaya adalah:

         Petumbuhan atau pengurangan jumlah penduduk

         Perubahan lingkungan geografis

         Perpindahan ke lingkungan baru

         Kontak dengan orang yang berlainan budaya

         Malapetaka alam dan sosial seperti, banjir, gagal panen, perang, dsb.

         Kelahiran atau kematian seorang pemimpin

         Penemuan (invention)

Sistem sosial budaya menurut Spindler (1977) dibentuk oleh empat komponen yang berinteraksi sosial, lingkungan dan kebudayaan sendiri. Kontak langsung antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain akan menimbulkan perubahan pada keduanya. Perubahan dengan cara ini dinamakan akulturasi. Kontak budaya ini telah menyebabkan terdapatnya berbagai persamaan diantara berbagai kebudayaan. Berhubungan erat dengan akultrasi ini adalah, difusi ini tidak memerlukan kontak langsung tapi cukup dengan saluran komunikasi yang beragam menjadi perantara penyebaran gagasan-gagasan dari berbagai sumber.

 Modernisasi dan Pembangunan

Perubahan sosial setelah Perang Dunai Kedua didominasi oleh kedua konsep yaitu modernisasi dan pembangunan. Moderinasi dimulai dari zaman renaissance yang hakikat dari zaman ini adalah pengakuan bagi manusia untuk lebih bebas mengekpresikan kebutuhan-kebutuhannya baik di bidang intelektual, politik,  industri, dan agama yang kesemuanya membawa kemajuan bagi manusia itu sendiri.

Hasil akhir dari suatu pembangunan adalah meningkatkan kesejahteraan sosial dimana mayoritas penduduk hidup layak, cukup sandang pangan, pendidikan dan hiburan. Dinamika kehidupan yang berubah akan membawa dampak secara psikologis bagi penduduk. Sikap individualistis, kurangnya rasa empati terlahir dari sikap hidup yang mandiri. Proses hidup yang simultan dengan berbagai aspek yang berubah inilah yang disebut modernisasi.

Kalau kita cermati ciri-ciri dari masyarakat tradiosional yang telah berubah ke masyarakat modern, dalam hal pembangunan ekonomi lebih menitik beratkan pada bidang pelayanan dan teknologi tinggi, baik itu di bidang keuangan, pelayanan profesi, dan kemanusian (kesehatan, pendidikan, asuransi). Hal ini bisa kita lihat dari kemudahan-kemudahan layanan bagi masyarakat maju, akses komunikasi yang lancar menandakan kemajuan ini. Adapun atribut-atribut dari kepribadian orang   modern itu adalah:

1.      Terbuka terhadap pengalaman dan cara-cara baru.

2.      Siap untuk mengalami perubahan-perubahan.

3.      Sadar akan keragaman sikap dan pendapat disekitarnya.

4.      Mengetahui dunia yang luas.

5.      Lebih berorientasi kepada masa sekarang dan masa depan.

6.      Menyukai ketarampilan-keterampilan teknis

7.      Sadar dan menghargai harkat manusia.

8.      Berhasrat memajukan pendidikan dan pekerjaan.         

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    V.        NEGARA, POLITIK, DAN PENDIDIKAN 

N e g a r a

Negara adalah organisasi yang didalamnya ada rakyat, wilayah yang permanen, dan pemerintah yang berdaulat (baik ke dalam maupun keluar). Dalam arti luas, negara merupakan kasatuan sosial (masyarakat) yang diatur secara konstitusional untuk mewujudkan kepentingan  bersama. Ada beberapa teori yang menerangkan tentang terbentuknya  suatu negara, yaitu:

  1. Teori hukum alam. Pemikiran pada masa Plato bahwa manusia adalah  zoon politicon. Dari hakikat manusia seperti ini, terbentuklah berturut-turut: keluarga → masyarakat → negara.

2.     Teori ketuhanan : (Islam + Kristen) → segala sesuatu           dalah ciptaan   tuhan. 3.         Teori perjanjian (Thomas Hobbes, Jhon Locke, Montesquieu): negara terjadi karena adanya perjanjian masyarakat. Semua warga negara mengikat   diri  dalam suatu perjanjian bersama untuk mendirikan suatu organisasi  yang bisa melindungi dan menjamin kelangsungan hidup bersama.

Proses terbentuknya negara di zaman modern dapat berupa: 1) Occopati (pendudukan), 2) Fusi (peleburan), 3) Cessie (penyerahan), 4) Anexatie (pencaplokan), 5) Proclamation (proklamasi), dan 6) Seperatise (pemisahan). Menurut ahli kenegaraan Openhaimer dan Lauterpacht, suatu negara harus memenuhi syarat-syarat berupa: rakyat yang bersatu, daerah atau wilayah, pemerintah yang berdaulat, dan pengakuan dari negara lain.

Konvensi Montivideo pada tahun 1933 menyebutkan bahwa unsur-unsur berdirinya suatu negara antara lain: rakyat (penghuni), wilayah yang permanen, penguasa yang berdaulat, kesanggupan untuk berhubungan dengan negara-negara lain, dan pengakuan deklaratif.

Dari dua pendapat di atas, unsur rakyat, wilayah dan pemerintah yang berdaulat merupakan unsur deklaratif yang bersifat romalitas belaka demi memperlancar sekaligus memenuhi unsur tata aturan pergaulan internasional.

 P o l i t i k

Kata “politik” secara etimologis berasal dari bahasa Yunani politica, yang akar katanya adalah polis, berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yaitu negara dan teia, berarti urusan. Dalam bahasa Indonesia, politik dalam arti politics mempunyai makna kepentingan umum warga negara suatu bangsa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki. Politics dan policy memiliki hubungan erat dan timbal balik. Politics memberikan asas, jalan, arah, dan medannya, sedangkan policy memberikan pertimbangan cara pelaksanaan asas, jalan, dan arah tersebut sebaik-baiknya.

Dalam bahasa inggris, politics adalah suatu rangkaian asas (prinsip), keadaan, cara, dan alat yang digunakan untuk mencapai cita-cita atau tujuan tertentu. Sedangkan policy yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebijaksaan, adalah penggunaan pertimbangan-pertimbangan yang dianggap dapat lebih menjamin terlaksanannya suatu usaha, cita-cita atau tujuan yang dikehendaki. Pengambilan kebijaksanaan biasanya dilakukan oleh seorang pemimpin.

Politik secara umum menyangkut proses penentuan tujuan negara dan cara melaksanakannya. Pelaksanaan tujuan itu memerlukan kebijakan-kebijakan umum yang menyangkut pengaturan, pembagian, maupun alokasi sumber-sumber yang ada.

Perlu diingat bahwa penentuan kebijakan umum, pangaturan, pembagian, maupun alokasi sumber-sumber yang ada memerlukan kekuasaan dan wewenang (authority). Kekuasaan dan wewenang ini memainkan peran yang sangat penting dalam pembinaan kerjasama dan penyelesaian konflik yang mungkin muncul dalam proses pencapaian tujuan. Dengan demikian, politik memberikan hal-hal yang berkaitan dengan negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan umum, dan distribusi.

 P e n d i d i k a n

Apapun teori pembangunan yang dipakai dan apapun ideologi nasional suatu masyarakat, karena pembangunan direncanakan oleh manusia dan dilaksanakan oleh manusia, maka kualitas manusia menyangkut nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan. Kualitas manusia modern tercermin dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan jalan yang tersedia untuk meningkatkan kualitas manusia adalah melalui pendidikan.

Pengembangan pendidikan bertalian erat dengan rencana dan kemauan pemerintah, kemampuan ekonomi, dan penghargaan masyarakat terhadap ilmu dan teknologi. Dengan kata lain, terdapat saling hubungan antara berbagai unsur budaya dan institusi sosial dalam proses pengembangan nasional suatu masyarakat. Karena itu, pembangunan pendidikan selalu dilaksanakan sebagai bagian dari suatu pembangunan nasional yang dilaksanakan tahap demi tahap.

Untuk membicarakan dan menghubungkan pendidikan dengan masalah-masalah pembangunan serta pengunaan dari bermacam-macam teori perubahan sosial budaya yang dikemukakan dalam bab-bab terdahulu dan kaitannya dengan fungsi-fungsi dan masalah-masalah pendidikan yang kongkrit, maka teori Rostow (1965) yang menyangkut fungsi-fungsi masa persiapan lepas landas, akan dikaitkan dengan masalah-masalah pembangunan pendidikan di Indonesia.

 VI.     PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT MODERN DAN    SEDERHANA 

Kehidupan pendidikan kelompok masyarakat modern dan kelompok masyarakat sederhana, keduannya merupakan perjalanan panjang dalam hidup dan kehidupan sejarah manusia dalam membangun tren kehidupan sesuai dengan pengaruh zaman.

 Pendidikan Sederhana

Robert Redfiel dalam (Imran,1989:52) berpandangan bahwa masyarakat sederhana yang dikenal sebagai “folk society” sebagai bentuk ideal yang kira-kira mendekati yaitu masyarakat nonurban (termasuk orang Eskimo dan petani Mexico). Masyarakat ini adalah komunitas masyarakat yang kecil dan terasing, tidak mengenal huruf atau setengah melek huruf, homogen, sangat terintegrasi, bersifat konsensus dengan solidaritas kelompok yang tinggi dan pembagian kerja yang sederhana. Banyak perilakunya yang bersifat kekeluargaan, tradisional, dan relatif statis. Anggota-anggotanya cenderung bersifat “inward looking”.Terasing di pulau Sumatera memiliki karakter yang sama dengan orang Eskimo dan petani Mexico.

Zaman pencerahan dalam masyarakat sederhana merupakan cermin kehidupan kelompok masyarakat yang bersifat ilmiah. Mereka berkembang sejalan dengan kebutuhan hidup dan kehidupan yang dihadapi dan tanpa adanya inters dari pihak luar atau pihak asing. Berdasarkan  sudut pandang antripologi yaitu semakin beragam masyarakat yang dipelajari semakin ditemukan elemen-elemen yang sama dari suatu kelompok dengan kelompok lain yang ada.

Masyarakat sederhana sangat homogen, sebagian besar anggota-anggotanya memiliki pengetahuan dan perhatian yang sama dan biasa dengan pemikiran, sikap-sikap, dan aktivitas dari seluruh anggota masyarakat. Mereka memiliki rasa kebersamaan, senasib dan sepenanggunan, cara hidupnya dapat dikategorikan bagai tubuh yang apabila salah satu merasa sakit, maka yang lain ikut sakit pula.

Dari sudut pandang pendidikan bagi anak-anak, masyarakat sederhana menjadikan keluarga, kerabat, dan upacara-upacara adat sebagai agen pendidikan. Peran ibu sangat berarti dalam membentuk budi pekerti, membangun rasa hormat, dan saling menghargai. Nenek berperan dalam mengenal sanak famili dari keluarga yang mungkin sudah jauh dari keturunan. Upacara-upacara ada istiadat dijunjung tinggi dalam meneguhkan keyakinan, sehingga dapat dikatakan kehidupan kemasyarakat pada masyarakat sederhana banyak ditemukan kebahagiaan dan kenyamanan hidup.

 Pendidikan Modern

Masyarakat modern atau masyarakat industri dalam hidup dan kehidupannya memiliki permasalahan yang sangat kompleks, terspesialisasi, kepadatan penduduk, cenderung individualis, sosialisme kurang, dan banyak permasalahan lain. Kadang satu permasalahan memberi imbas terhadap permasalahan yang lain seperti kepadatan penduduk menimbulkan permasalahan lingkungan, permasalahan lingkungan berimbas pada permasalahan kesehatan dan lain-lain.

Jules Hendry (dalam Imran,1989:53) masyarakat industri modern bertumpu pada adanya pengetahuan berkembang dalam suatu masyarakat, ketidaktahuan cenderung meningkat pada individu-individu, karena mereka cenderung mengetahui lebih sedikit dari jumlah informasi yang ada. Hal demikian sangat dirasakan bagi guru-guru yang diharapkan mengajar untuk berbagai mata pelajaran.

Kompleksitas yang dari kebudayaan modern membuat mereka kurang sensitif dari dampak emosi massa bila dibandingkan dengan masyarakat sederhana. Suatu kepercayaan masyarakat modern yang paling fundamental dan punya efek paling jauh adalah kepercayaan akan kemajuan (progress). Bagi orang modern masa depan dengan sedikit pembatasan, bersifat terbuka. Dia percaya bahwa kondisi kemanusiaan, fisik, dan spritual melalui penggunaan sains terhadap alam dan hubungan kemanusiaan, dapat diperbaiki hampir-hampir tidak terbatas. Hal ini sangat berbeda bagi masyarakat sederhana yang memandang sesuatu tanpa adanya pengetahuan.

Terbentuknya masyarakat modern yang merupakan mata rantai panjang dari masyarakat sederhana berangkat dari empat faktor yaitu: 1) perkembangan agama yang lembaga 2) pertumbuhan dari dalam dan penaklukan dari luar akibat benturan logika, 3) pembagian kerja yang menuntut teknik khusus, dan 4) konflik dalam masyarakat yang mengancam nilai-nilai tradisional dan kepercayaan-kepercayaan yang menjurus kepada penggunaan pendidikan untuk menguatkan penerimaan warisan budaya.

Peran orang tua, kelurga, dan upacara-upacara dalam masyarakat sederhana dalam hal pendidikan terhadap anak-anak sangat kuat. Sehingga untuk segala hal yang terkait dengan pembentukan karakter dan anak-anak memperoleh pengetahuan secara langsung dari orang tua serta kaum kerabatnya.

Dalam hal ini tertentu seperti kuatnya rasa tanggung jawab anak-anak masyarakat sederhana lebih baik dan memiliki solidaritas yang tinggi dibandingkan dengan masyarakat modern. Hal demikian telah disebabkan  karena karakter masyarakat modern. Hal demikian lebih bersifat homogen dan suka berkelompok. Sedangkan pada anak-anak modern memiliki kecenderungan hilangnya rasa tanggung jawab, serta rasa kebersamaan yang mulai hilang. Masyarakat modern cenderung individulistis, hilangnya peran orang tua dalam hal pendidikan, walau dalam hal tertentu seperti kesungguhan akan sesuatu lebih baik, hal ini lebih disebabkan oleh faktor kompetisi/persaingan hidup yang semakin ketat.

 VII.    LMU PENDIDIKAN DALAM  PERSPEKTIF  FILSAFAT 

Ilmu pendidikan atau pedagogik adalah ilmu yang membicarakan masalah-masalah umum pendidikan secara menyeluruh dan abstrak. Padagogik memerlukan landasan yang berasal sari filsafat atau setidak-tidaknya mempunyai hubungan dengan filsafat. Bila filsafat melahirkan  pemikiran yang teoritis mengenai pendidikan maka pedagogik memerlukan bantuan penyelesaian dari filsafat. Dapat disimpulkan bahwa filsafat pendidikan ialah ilmu pendidikan yang bersendikan  filsafat atau filsafat yang diterapkan dalam usaha pemikiran dan pemecahan mengenai masalah pendidikan (Bernadib,1994:7).

 Konsep Filosofis Mengenai Pendidikan

Perkembangan dan perubahan dalam lapangan pendidikan menimbulkan tantangan agar pendidik mempunyai sikap tertentu yang telah bersendikan atas pendirian tertentu pula. Selanjutnya Bernadib (1994:24) mengatakan bahwa beberapa sikap mengenai pendidikan dapat dimuruskan sebagai berikut:

a.       Mengkehendaki pendidikan yang pada hakikatnya progresif.

Tujuan pendidikan yang telah diartikan sebagai rekontruksi pengalaman yang terus menurus. Pendidikan hendaklah bukan hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik untuk diterima saja, melainkan yang lebih penting dari pada itu adalah melatih kemampuan berfikir dengan memberikan stimulasi-stimulasi. Yang dimaksud dengan berfikir adalah penerapan cara-cara ilmiah seperti mengadakan analisa, mengadakan pertimbangan dan memilih di antara beberapa alternatif yang tersedia.

b.      Mengkehendaki pendidikan yang bersendi nilai-nilai yang tinggi dan hakiki kedudukannya dalam kebudayaan. Nilai-nilai ini hendaknya yang sampai kepada manusia, sivilisasi, dan telah teruji oleh waktu. Tugas pendidikan adalah sebagai perantara atau pembawa nilai-nilai yang ada di dalam lingkungan ke dalam  jiwa anak didik. Ini berarti bahwa anak didik itu perlu dilatih agar mempunyai kemampuan obsorbsi yang tinggi

c.       Menghendaki agar pendidikan kembali kepada jiwa yang menuntun manusia hingga dimengerti adanya menurut tata kehidupan yang telah ditentukan secara rasional. Aliran ini disebut esensialisme.

d.      Mengkehendaki agar anak didik dapat dibangkitkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan dan teknologi. Dengan penyesuaian seperti ini anak didik akan tetap berada dalam suasana aman dan bebas.

 Pandangan Filsafat Tentang Pendidikan

Secara sederhana filsafat pendidikan adalah nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan filsafat yang mendasari dan memberikan identitas (karakteristik) suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah jiwa, roh, kepribadian sistem pendidikan nasional, karenanya sistem pendidikan nasional wajarlah di jiwai, didasari dan mencerminkan identitas Pancasila, citra, dan karsa bangsa kita, atau tujuan nasional dan hasrat luhur rakyat Indonesia tersimpul di bangsa kita, atau tujuan nasional dan hasrat luhur rakyat Indonesia tersimpul di dalam pembukaan UUD 1945, sebagai perwujudan nilai Pancasila. Pada giliran sistem pendidikan adalah sebagai sistem, bertumpu dan di jiwai oleh suatu keyakinan, pandangan, dan filosofis tertentu.

Filsafat menjadikan manusia berkembang, mempunyai pandangan hidup yang menyeluruh secara sistematis, maka hal yang semacam ini telah dituangkan dalam sistem pendidikan. Penuangan pemikiran ini dimuatkan dalam bentuk kurikulum. Dengan kurikulum itu sistem pengajaran dapat terarah dan lebih dapat mempermudah para pendidik dalam menyusun pengajaran yang akan diberikan pada perserta didik. Usaha berfilsafat adalah usaha berpandangan menyeluruh dan sistematis yang diharapkan manusia itu dapat menguasainya, yang demikian adalah melalui prosesi ilmu pengetahuan, melalui proses ini manusia menugaskan pikirannya untuk bekerja sesuai dengan aturan-aturan dan hukum yang ada. Pertanyaan dewasa ini bila dikaitkan pendidikan merupakan pengarah dan berusaha untuk memperbaharui pendidikan tersebut dengan melalui pikiran yang sistematis.

Ilmu pendidikan atau pedagogik ditegaskan sekali lagi adalah ilmu yang membicarakan masalah-masalah umum pendidikan yang bersendikan filsafat atau filsafat yang diterapkan dalam usaha pemikiran dan pemecahan mengenai masalah pendidikan. Filsafat mendasari berbagai pemikiran mengenai pendidikan, sedangkan logika memberikan dasar pemikiran mengenai pengembangan kecerdasan.

 VIII.        KEBUDAYAAN SEBAGAI ISI PENDIDIKAN 

Dari berbagai pengertian kebudayaan yang telah disebutkan, jelaslah bahwa ilmu (knowledge) merupakan unsur kebudayaan. Pendidikan dan kebudayaan adalah salah satu hubungan antara proses dan isi. Pendidikan sebagai proses pengoperan kebudayaan, memuaskan program aktifitasnya pada pengoperasian, pengembangan atau pembinaan ilmu dan research (penelitian).

Kurikulum atau secara sederhana kita sebut dalam dunia pendidikan adalah “jalan” terdekat untuk sampai pada tujuan dan isi pendidikan. Sebaiknya tanpa isi pendidikan, tanpa kurikulum tidak ada proses pendidikan dan pengajaran. Karena itu, kurikulum adalah bagian yang amat penting di dalam pendidikan.

Hubungan antara tujuan pendidikan ialah hubungan antara tujuan dan isi pendidikan. Suatu tujuan baru akan tercapai bila pendidikan tepat dan relevan. Kurikulum yang demikian bergantung kepada tujuan pendidikan, dan sangat mengejutkan bila kita akan mengetahui bahwa mempelajari kurikulum pada hakikatnya sama dengan mencapai tujuan pendidikan itu. Dalam kenyataannya, sedemikian erat hubungan antara tujuan pendidikan dan kurikulum sehingga dapat dikatakan bahwa kurikulum tak lain dari pada tujuan pendidikan atau nilai-nilai yang termaktub dalam bentuk yang luas.

Oleh karena itu kurikulum menyangkut masalah-masalah nilai, ilmu, teori, skill, praktek, pembinaan sikap mental, dan sebagainya. Ini berarti kurikulum harus mengandung isi pengalaman yang kaya dengan pengalaman-pengalaman yang bersifat membina kepribadian.

Meskipun pada dasarnya tujuan pendidikan yang pokok (ultimate goal) itu tetap, namun ini tidak berarti bahwa kurikulum itu harus tetap. Kurikulum justru harus tetap berkembang, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat untuk apa pendidikan diselenggarakan. Dengan demikian kurikulum bersifat progresif, berkembang maju, dinamis. Oleh karena itu, kita selalu mengadakan evaluasi dan revisi kurikulum.

Pendidikan sebagai proses pengoperan kebudayaan, pembinaan manusia dalam arti mendewasakan dan membudayakan manusia, hubungan pendidikan dan kebudayaan adalah hubungan antara aktivitas dengan isinya. Tak mungkin ada aktivitas (pendidikan) tanpa isi (kebudayaan).

Pendidikan tidak hanya proses pengoperan kebudayaan sebab hubungan pendidikan dengan kebudayaan juga hubungan kausalitas dan teologis sekaligus sebab akibat dan hubungan tujuan karena dengan adanya pendidikan manusia kebudayaan. Dan dengan proses pendidikan itu pula manusia menuju suatu tingkatan perkembangan kepribadian agar manusia kreatif dan produktif dalam menciptakan kebudayaan. Secara teknis juga tujuan pendidikan adalah membudayakan manusia atau membina manusia supaya berkebudayaan.

Pendidikan baik sebagai lembaga maupun sebagai aktivitas memusatkan peranannya kepada pengoperan kebudayaan. Pendidikan berfungsi sebagai agent of social-reproduction atau sebagai transmission of culture. Atau sering dalam perguruan tinggi  disebut sebagai center of culture, pusat pembinaan kebudayaan. Sesungguhnya fungsi pendidikan yang demikian mengoper kebudayaan masih mempunyai tujuan yang lebih utama, yaitu untuk membina kepribadian manusia agar lebih kreatif dan produktif yakni mampu menciptakan kebudayaan.

Hubungan manusia terdidik dengan fungsi kebudayaan adalah suatu manifestasi peranan, bahkan hasil pendidikan mempunyai fungsi rangkap untuk kebudayaan. Pertama,  menciptakan kebudayaan yang belum ada, melalui pembinaan manusia yang kreatif. Kedua, mengoperkan kebudayaan (yang sudah ada) kepada ke genarasi demi generasi dalam rangka proses sosialisasi pribadi manusia.

Sebenarnya pendidikan, langsung dan tidak langsung terutama berfungsi untuk pembinaan kebudayaan. Pendidikan berfungsi baik sebagai mempertahankan kebudayaan yang ada sebagai warisan sosial, maupun untuk membina pribadi manusia pada gilirannya untuk mencipta budaya baru.

Setelah kebudayaan terbina sedemikian kaya (teknologi, filsafat, seni, dan sebagainya) manusia membuka skop kebudayaan baru, yakni penelitian dan penjelajahan ruang angkasa. Manusia tetap sibuk dalam kerangka alamiah, alam semesta, yang lebih bersifat materil.

Dengan beberapa unsur kebudayaan, seperti seni sastra, musik, teknik, dan sebagainya manusia kagum dengan ciptaannya. Manusia menikmati hasil karya manusia sesamanya. Relasi ini amat bersifat “egosentris”, manusia centris dan paling jauh “ alamiah centris”. Realita ini sebenarnya pada hakikatnya belum menunjukkan manusia pada taraf ideal yang sesuai dengan martabat manusia yang mengandung potensi-potensi rohaniah, potensi-potensi transendental.

 IX.     SISTEM NILAI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA 

Dalam suatu kebudayaan terkandung nilai-nilai dan norma-norma sosial yang merupakan faktor pendorong bagi manusia untuk bertingkah laku dan mencapai kepuasan tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Nilai dan norma senantiasa berkaitan dengan satu sama lainnya walaupun keduanya dapat dibedakan. Nilai dikatakan sebagai ukuran sikap dan perasaan seseorang atau kelompok yang berhubungan dengan keadaan baik buruk, benar salah, atau suka tidak suka terhadap suatu objek baik material maupun nonmaterial.

Menurut Pelkman (Soekanto,1983:162), nilai-nilai mengandung tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek efektif, dan aspek konatif. Aspek kognitif dapat dijabarkan lebih lanjut ke dalam aspek deskriptif dan aspek legitimasi.

1.      Aspek Kognitif, aspek kognitif mencakup komponen-komponen rasional seperti:

a.       Aspek deskriptif

      Aspek deskriptif dari nilai merupakan penggambaran dari hal-hal yang ideal, yang dianuti secara nyata atau tidak nyata oleh pribadi dan kelompok yang menganut nilai tertentu. Aspek ini dapat memberikan pengarahan bagi pribadi atau kelompok. Fungsinya sebagai tolak ukur orientasi bagi penganutnya sehingga pribadi atau kelompok senantiasa berusaha untuk menyesuaikan diri dengan nilai tersebut.

b.      Aspek legitimasi

      Aspek legitimasi dari nilai merupakan jawaban terhadap pertanyaan mengapa pribadi atau kelompok mengahargai sesuatu. Di dalam kehidupan bersama sehari-hari, biasanya seseorang merasakan bahwa penghargaan terhadap sesuatu hal tertentu, sebagian bersifat intrinsik sedangkan untuk bagian lainnya didasarkan pada nilai-nilai lainnya. Dengan mengadakan legitimasi secara horizontal dan vertikal akan dapat disusun suatu jaringan, dimana nilai-nilai terletak pada ikatan-ikatan jaringan tersebut.

2.      Aspek afektif

      Aspek afektif mencakup komponen-komponen emosional. Aspek afektif ini berhubungan dengan tingkat harapan-harapan yang tersimpul di antara nilai-nilai yang  sifatnya potensial. Apabila aspek kognitif memberikan batas-batas, aspek afektif memberikan dorongan. Dorongan itu dapat berasal dari dalam maupun dari luar. Dorongan dari dalam contohnya adalah adanya harapan-harapan manusia untuk menjadi lebih maju atau lebih baik dari kehidupan sebelumnya.

3.      Aspek konatif

      Ruang lingkup dari aspek konatif adalah perilaku yang mau dilakukan oleh pribadi atau kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan yang berasal dari nilai-nilai tertentu. Pribadi atau kelompok mempergunakan sarana penunjang untuk merealisasikan nilai yang dianutnya. Aspek ini tentu juga tidak terlepas dari aspek kognitif maupun aspek afektif dari nilai-nilai.

Didalam kehidupan manusia, pergaulan hidup manusia ini sebenarnya menganut pasangan nilai-nilai. Sesuai dengan aspek-aspek rohani dan jasmani yang ada pada manusia, manusia dibimbing oleh pasangan nilai-nilai spiritualisme dan nilai-nilai materialisme. Apabila manusia hendak hidup secara damai dalam masyarakat, seyogyanya kedua nilai yang merupakan pasangan tadi diserasikan. Akan tetapi, kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa nilai-nilai materialisme mendapat tekanan yang lebih berat dari pada nilai-nilai spiritualisme.

Disamping itu, juga terdapat pasangan nilai-nilai konservatisme dan nilai inovatisme. Konservatisme disebut sebagai kekolotan. Inovatisme disebut sebagai pembaharuan. Kedua nilai ini harus berjalan serasi dan beriringan karena secara hakiki manusia juga memerlukan pembaharuan disamping mempertahankan nilai-nilai yang ada. Setakat ini, kedua nilai ini sudah mulai tidak serasi. Ada sebagian masyarakat yang lebih menonjolkan konservatisme dan ada sebagian yang menonjolkan nilai inovatisme.

 X.        HAKIKAT MANUSIA 

Telah banyak para ahli dari berbagai macam disiplin ilmu telah mengkaji tentang hakikat manusia dan mereka telah memberikan pendapatnya dalam banyak hal dan berbagai macam ragam, namun dari kesemuanya itu dapat disimpulkan bahwa manusia itu adalah:

A.    Makhluk individu, bahwa manusia sebagai makhluk individu mempunyai cirri-ciri atau kekhasan tersendiri. Karena itu, manusia disebut sebagai makhluk yang unik. Individualisme manusia itu menampilkan sifat-sifat karakteristik yang khas unik, tidak ada kembarannya dari struktur kepribadian. Jadi terdapat keabsahan mengenai variasi dan perbedaan alami pada  setiap pribadi manusia. Pendidikan diharapkan dapat memberikan bantuan agar peserta didik mampu menolong diri sendiri.

B.     Makhluk  sosial, bahwa manusia sebagai makhluk sosial mempunyai sifat sosialis yang menjadi dasar dan tujuan dari kehidupan manusia yang sewajarnya atau menjadi dasar dan tujuan setiap anak dan kelompoknya. Setiap manusia hidup dan ingin hidup terus menerus di dalam kelompoknya. Dengan bermacam-macam variasi, manusia terlibat dalam kehidupan sosial setiap waktu. Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana tingkah laku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki tingkah laku individu lainnya. Tugas pendidikan mengembangkan semua aspek sosial, sehingga manusia sebagai makhluk sosial mempu berperan dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat.

C.    Makhluk psikofisik, bahwa manusia merupakan  totalitas jasmani dan rohani, setiap bagian tubuh dan kegiatan organisme yang biologis sifatnya pasti mengabdikan diri kepada aktivitas psikis, juga sebaliknya. Karena itu totalitas psikofisik ini harus dijadikan titik awal dari pemahaman kita mengenal pribadi peserta didik dan pribadi pendidik, juga menjadi titik tolak bagi semua kegiatan mendidik.

D.    Makhluk monodualis, bahwa manusia sebagai makhluk monodualisme tidak dapat memisahkan antara jiwa dan raga sebagai satu kesatuan dalam perkembangannya. Pendidikan yang diberikan peserta didik diharapkan seimbang  antara aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik. Melalui proses pendidikan peserta didik mendapatkan penglaman dan pengembangan kognitif, afektif, dan psikomomotorik. Upaya pendidikan adalah mengembangkan ketiga aspek tersebut secara harmonis sehingga manusia mampu memenuhi kebutuhannya.

E.     Makhluk bermoral, bahwa manusia yang normal pada intinya mampu mengambil keputusan susila dan mampu membedakan hal yang baik dan buruk. Selain itu juga mempu membedakan hal yang benar dan yang salah untuk kemudian mengarahkan hidupnya ke tujuan yang berarti sesuai dengan pilihan dan keputusan hati nurani dalam mempertimbangkan baik/buruk dan salah/benar.

F.     Makhluk berfikir/filosofis, bahwa ,manusia ini mempunyai akal dan budi. Akal digunakan untuk berfikir agar menjadi manusia yang berbudi. Manusia disebut juga dengan homo safiens yaitu makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Salah satu insting manusia selalu cenderung ingin mengetahui segala sesuatu di sekelilingnnya yang belum diketahuinya. Karena hasrat manusia itu untuk mengetahui sesuatu maka muncul ilmu filsafat. Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu fhilos yang artinya gemar dan Sophia yang artinya suka berfikir secara mendalam untuk mencapai kebijaksanaan dan pengetahuan.

G.    Makhluk berketerampilan, bahwa manusia telah mempunyai bakat dan minat masing-masing dalam mengembangkan keterampilannya. Tugas pendidikan adalah mengembangkan keterampilan yang ada pada masing-masing anak manusia. Pendidikan dijadikan sarana untuk mengarahkan peserta didik untuk berkarya dan bertanggung jawab sendiri. Peserta didik dapat mengembangkan ide-idenya sendiri, meneliti, berdialog, dan berdiskusi dengan keinginannya.

H.    Makhluk religius, bahwa manusia sebagai makhluk tuhan sekaligus mengandung kemungkinan baik dan jahat , sesuai dengan manusia itu sendiri sebagai makhluk tuhan. Manusia mempunyai nafsu-nafsu baik maupun jahat. Pendidikan diperlukan agar nafsu yang berkembang adalah nafsu yang baik.

 XI.     HAKIKAT MASYARAKAT 

Manusia di dalam kehidupan membutuhkan orang lain untuk berinteraksi, pergaulan dengan manusia lainnya akan mendatangkan kepuasan jiwa. Seseorang yang terkurung dalam sebuah ruangan yang tertutup sehingga dia tidak dapat mendengarkan suara orang lain atau tidak melihat orang lain, maka akan terjadi gangguan dalam perkembangan jiwanya. Naluri manusia untuk hidup dengan masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi. Suatu kesatuan masyarakat dapat memiliki prasarana yang memungkinkan para warganya untuk berinteraksi (Koentjaraningrat,1996:120).

Masyarakat merupakan kesatuan manusia yang saling berinteraksi, yang mempunyai ikatan-ikatan, seperti: 1) interaksi antar warga, 2) adat-istiadat, norma-norma, hukum, serta aturan-aturan yang mengatur, 3) kontinuitas dalam waktu (berkesinambungan), dan 4) rasa identitas yang kuat. Dengan memperhatikan keempat ciri  khas di atas, maka devenisi masyarakat itu ialah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengan sistem adat-istiadat tertentu yang sifatnya berkesinambungan dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama”.

Supaya hubungan antar manusia di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana diharapkan, maka dirumuskanlah norma-norma masyarakat. Mula-mula norma tersebut terbentuk secara tidak sengaja, namun lama kelamaan norma tersebut dibuat secara sadar.

            Unsur- unsur masyarakat dapat berupa:

1.      Komunitas, suatu kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah yang nyata dan berinteraksi secara berkesinambungan sesuai dengan suatu sistem adat-istiadat, dan terikat oleh rasa identitas komunitas.

2.      Kategori sosial, yaitu kesatuan manusia yang terjadi karena adanya suatu cirri atau kompleks cir-ciri objektif yang dapat dikenakan pada para warganya.

3.      Golongan sosial, yaitu kesatuan manusia yang memiliki cirri tertentu yang dikenakan pihak luar kepadanya. Memiliki identitas sosial, terikat oleh suatu sistem nilai norma, atau adat-istiadat tertentu.

4.      Kelompok, yaitu suatu kelompok jauh memenuhi syarat sebagai suatu masyarakat karena memiliki sistem interaksi antar anggota, adapt-istiadat, dan sistem norma yang mengatur interaksi, adanya kesinambungan, dan adanya rasa identitas yang mempersatukan semua anggota.

 XII.     PENDIDIKAN DAN NILAI-NILAI BUDAYA 

Konsep kebudayan dapat pula dipakai untuk mengkaji pendidikan karena pendidikan dalam arti luas adalah proses pembudayaan. Dalam arti praktis pendidikan dapat diartikan sebagai proses penyampaian kebudayaan, di dalamnya termasuk keterampilan, pengatahuan, sikap dan nilai-nilai, serta pola-pola perilaku tertentu. Dalam pernyataan itu terlihat bahwa pada hakikatnya pendidikan adalah proses penyampaian kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya atau proses pembudayaan manusia.

Dari konsep kebudayaan yang disampaikan itu dapat dinilai bahwa moral termasuk bagian dari kebudayaan, yaitu standar tentang baik dan buruk, benar dan salah, yang semuanya dalam konsep yang lebih besar termasuk kedalam bidang nilai. Adanya konsep seni dalam defenisi tersebut mengandung pula pengertian keindahan dan keburukan, keduanya juga termasuk bidang nilai. Dengan demikian transmisi budaya berarti pula transmisi nilai-nilai. Dan dalam pengertian yang umum dapat dikatakan bahwa pendidikan mencakup penyampaian pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai.

Karena begitu pentingnya kedudukan nilai dalam setiap kebudayaan, maka pemahaman tentang sistem nilai budaya dan orientasi nilai budaya tersebut sangatlah penting dalam konteks pemahaman perilaku suatu masyarakat.

Nilai budaya adalah konsepsi umum yang mempengaruhi perilaku yang berhubungan dengan alam, kedudukan manusia dalam alam, hubungan orang dengan orang dan tentang hal-hal yan diingini dan tidak diingini yang mungkin bertalian dengan hubungan antara orang dengan lingkungan dan sesama manusia.

Sistem nilai budaya ini menjadi pedoman dan pendorong perilaku manusia dalam hidup yang manifestasi konkritnya terlihat dalam tata kelakuan. Dari sistem nilai budaya terbentuk norma dan sikap yang dalam bentuk abstrak tercermin dalam cara berfikir dan dalam bentuk konkrit terlihat dalam bentuk pola perilaku anggota-anggota suatu masyarakat.

 XIII.        KURIKULUM DAN GURU DALAM PERSPEKTIF BUDAYA 

Pendidikan terdiri dari beberapa komponen di antaranya adalah kurikulum dan guru. Komponen kurikulum dan guru merupakan dua faktor yang mempengaruhi terjadinya perbedaan budaya yang dianut oleh peserta didik. Apa yang akan dicapai di sekolah ditentukan oleh kurikulum sekolah itu sendiri. Oleh sebab itu, pengembangan kurikulum sangatlah penting. Setiap guru merupakan kunci utama dalam pelaksanaan kurikulum. Disamping itu, guru juga seorang pengembang kurikulum.

Konsep kurikulum yang berlaku di Indonesia dilihat dari defenisi kurikulum yang terdapat dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 11, yang berbunyi “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

Defenisi diatas menjadi pedoman bagi konsep kurikulum pada setiap jenis pendidikan. Dengan demikian kurikulum dipandang sebagai rencana dan pengaturan kegiatan pembelajaran yang berwujud dokumen tertulis dan sekaligus sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Perwujudan dari kedudukan dan fungsi kurikulum seperti itu di masing-masing jenis dan jenjang  lembaga pendidikan tidak dilengkapi dengan seperangkat kurikulum.

Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan perserta didik dan kesesuaian dengan lingkungan. Kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi serta kesenian, kesesuaian dengan jenis dan hubungan yang erat antara pendidikan dan kebudayaan tidak perlu disangsikan lagi. Bahkan kita berpendapat bahwa pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Sedangkan kebudayaan sekaligus menetapkan identitas atau kepribadian bangsa, dan menetapkan ritme pembangunan bangsa. Oleh karena sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan maka sekolah haruslah merupakan pusat kebudayaan.

Pelaksanaan pendidikan berlangsung dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah. Di antara ketiga lingkungan pendidikan itu sekolah memegang peranan penting dalam pelaksanaan program pendidikan akulturasi, karena sekolah merupakan suatu lembaga yang dipolakan secara sistematis, memiliki tujuan yang jelas, kegiatan yang teratur, terdapat tenaga khusus yang mengelolanya, serta didukung dengan sarana dan dana yang terencana.

Untuk mendukung fungsi tersebut sekolah hendaknya memiliki cirri-ciri khusus, yaitu dapat meningkatkan mutu pendidikan serta sebagai pusat kebudayaan. Di samping kepercayaan yang lain, kualitas guru akan menentukan berhasil tidaknya usaha ini. Untuk itu, peranan guru dalam menciptakan sekolah sebagai pusat budaya adalah :

  1. Guru harus mampu membelajarkan anak didik.
  2. Guru menciptakan suasana demokratis.
  3. Guru hendaknya dapat menjadi teladan bagi anak didiknya dan orang-orang disekitarnya dalam rangka menciptakan sekolah sebagai pusat kebudayaan, dengan cara : gemar membaca, rajin dan tekun belajar, ingin tahu dan suka meneliti, bertaqwa, bermoral, berdisiplin, terampil dan sebagainya.
  4. Guru hendaknya mampu membangkitkan kesadaran pada anak didik untuk ingin selalu belajar dan belajar tidak berhenti sesudah mengikuti pendidikan formal di sekolah.
  5. Berkaitan dengan penjelasan di atas, guru perlu memiliki kemampuan dalam proses pembelajaan di samping kemampuan kepribadian dan kemasyarakatan. Kemampuan dalam proses pembelajaran disebut kemampuan professional.

 P E N U T U P 

            Setelah memahami topik-topik perkuliahan “Landasan ilmiah Ilmu Pendidikan” secara keseluruhan mulai dari awal sampai akhir, saya menyatakan bahwa semua topik yang telah dirancang dalam silabus perkuliahan sangat memberikan pengaruh yang berarti bagi para mahasiswa yang mengikutinya. Tidak saja  menambah dan memperluas wawasan tentang landasan dan dasar kuat tentang pendidikan tetapi juga sampai pada tahap hakikat dari sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan. Dengan demikian, para mahasiswa pada hakikatnya juga telah secara tidak langsung diperkenalkan dengan dasar dan cara pandang filsafat yang bersifat menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Ini tentu akan berguna bagi dunia pendidikan dalam memecahkan masalahnya yang bersifat kompleks.

            Sebagai feedback dari saya adalah sebaiknya materi perkuliahan ini juga diberikan kepada para calon guru atau guru yang belum pernah mengikuti perkuliahan ini, baik dari yang berlatar belakang program S1 maupun S2, agar mereka lebih paham lagi tentang pendidikan secara mendasar dan  menyeluruh.

            Di samping itu, rancangan untuk memberikan materi perkuliahan ini kepada calon guru dan guru-guru sekolah dasar adalah perencanaan yang perlu diwujudkan dan merupakan kebijakan yang perlu mendapat perhatian.  Dianggap perlu karena merekalah sebagai peletak dasar-dasar pendidikan. Adalah mustahil terbina bibit-bibit yang bernas dari siswa jika guru-gurunya tidak paham dengan hakikat pendidikan yang sebenarnya.

            Manfaatnya tentu bukan kepada guru saja tetapi juga kepada para pihak lain yang terkait dengan pendidikan, terutama kepada siswa yang memang perlu mengetahui kepentingan pendidikan sejak dari awal. Oleh karena itu, pemberian mata kuliah ini kepada para mahasiswa calon guru atau guru adalah pilihan yang sangat tepat sekali.

 DAFTAR RUJUKAN 

Adam, Don dan G M. Reagan. 1972. Schooling and Social Change. New  York: David Mc Kay Company.

 Arbi, Sutan Zanti. 1988. Pengantar kepada Filsafat

Pendidikan. Jakarta: P2LPTK.

Alwi, Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

Bennedict, H.G. 1934. Pattern’s of culture. Boston: Hougton

Mifflin C.

Bernadib, Imam. 1990. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Andi

Offset.

 Bidney, David. 1959. The Philosophical Presuppositions

Cultural Absolution. In Leo R. Ward (ed): Ethics and the Social Sciences. Cienses:University of   Notre Dame Press pp 52 – 53. 

Boas, F. 1940. Race, Language, and Culture. New York: The

Free Press.

 Brameld, Theodore. 1958. Philosophis of Education in Cultural

Perspective. New York: The Dryden Press.

Budiyanto. 2004. Kewarganegaraan SMA. Jakarta: Erlangga.

Depdikbud. 1957. Sekolah sebagai Pusat Kebudayaan. Jakarta:

Depdikbud Dikti.

_________ . 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

 Durkheim, E. 1961. Moral Education:Study in the Theory and

Application of the Study of the Education. New York: Free Press of Glancoe.

 Hamidy, H. Zainuddin (Penyusun).1982. Tafsir  Al-Quran:

Naskah Asli, Terjemahan, Keterangan Lengkap 30 Juz. Jakarta: Widjaya.

 Hunt, M.P. 1975. Foundations of Education, Social and

Cultural Perspective. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Jalaluddin dan Abdullah. 1997. Filsafat Pendidikan.

Yogyakarta: Gaya media Pratama.

 Joni, T. Raka. 1989. Antropologi Pendidikan: Suatu Pengantar. Jakarta: P2LPTK. 

Kardiner, A. 1939. The Individual and His society. New York:

Coumbia Universty Press.

Kartono, Kartini. 1992. Pengantar Ilmu Pendidikan. Bandung:

Mandar Maju.

 Kluckhohn, C. dan Murray H. A. 1959. Personality in Nature,

Society and Culture. New York: Alfred A. Knopt.

 Koentjaraningrat. 1990. Kebudayaan, Mentalitet, dan

Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

________ . 1996. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka

Cipta.

 Korotayev, Andrey. At al. 2006. Introduction to Social

Macrodynamic. Moscow: URSS.

Linton, R. 1936. The Study of Man. New York: Applenton

Century.

 Manan, Imran. 1989. Anthtropologi Pendidikan: Suatu Pengantar. Jakarta:  Depdikbud Dirjendikti PPLPTK.  

                 . 1989 Dasar-dasar Sosial Budaya Pendidikan.

Jakarta: Depdikbud Dirjendikti PPLPTK.  

                .1990.Sejarah Antropologi II . Jakarta: Rineka Cipta.

Murdock, G.P. 1965. How Culture Change, dalam Nordkog

(ed). Sosial Change. New York: Mc Grow Hill Book Co. Inc.

Poespowardoyo, Soerjanto. 1978. Sekitar Manusia. Jakarta:

Gramedia.

Soekanto, Soerjono. 1983.  Pribadi dan Masyarakat. Bandung:

Penerbit Alumni.

________ . 1990. Sosiologi Suatu Masyarakat. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

________ . 1992. Sosiologi Keluarga. Jakarta: ineka Cipta.

Spindler, L. 1977. Culture Change and Modernization. New

York: Rinchart and Winston.

 Sujarwa. 2005. Manusia dan Fenomena Budaya Menuu

Perspektif Moralitas Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sumarsono, S. 2001. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta:

Gramedia.

 Sabda, Syarifuddin. 2006. Desain Pembangunan dan

Implementasi: Model Kurikulum Terpadu IPTEK dan IMTAQ. Ciputat: Quantum Teaching.

 Syam, Mohammad Noor. 1988. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat  Pendidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional. 

Warsito, Tulus. 1999. Pembangunan Politik. Yogyakarta:

Bigraf Publishing.

 White, L. 1949. The Science of Culture: Study of  Man and

Civilization. Wringgis H.

Wiji, Suwarno. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.

Jogjakarta: Ar-Ruzz.

 Zanti, Arbi Sutan. 1988. Pengantar kepada Filsafat Pendidikan. Jakarta: P2LPTK.                                                                 

OBSESI MOCHTAR LUBIS DALAM NOVEL HARIMAU! HARIMAU!

January 8, 2008

https://erzuhedi.wordpress.com/?attachment_id=20

OBSESI MOCHTAR LUBIS

        DALAM NOVEL HARIMAU! HARIMAU![1]        

     Oleh: Erzuhedi  

      SMKN 9 PADANG

  Abstract

This research aims at finding and explaining Mochtar Lubis’obsession which is reflected on Harimau! Harimau! novel. The  method which is used in this research namely descriptive. Data in that novel be inventoried after that  analyzed such that with revert to appreciation of author’s psychology on literature as aspeck of it’s work base on analytic psychology theory. For collecting data taked technigue of literature study. The result of research is to reveal description Mochtar Lubis’obsession about leadership and marriage which is laid in that novel.

 Kata kunci: Obsesi Mochtar Lubis, Novel Harimau! Harimau!, Kepemimpinan dan Cinta Kasih 

Pendahuluan

Pada umumnya manusia memiliki obsesi, baik anak-anak maupun orang dewasa. Anak sekolah memiliki obsesi tentang mata pelajaran yang tidak disukainya. Mahasiswa memiliki obsesi tentang ujian yang akan dihadapinya. Pembunuh memiliki obsesi tentang kejahatan yang telah dilakukannya. Sastrawan memiliki obsesi tentang keadaan masyarakat, manusia, dan lingkungannya.

            Obsesi merupakan masalah kejiwaan yang begitu luas, kompleks, mengandung banyak misteri, dan hal-hal menarik sehinga selalu saja menantang manusia untuk mengadakan studi intensif terhadapnya. Luas dan kompleksitasnya tidak hanya disebabkan oleh tidak atau belum mampunya orang mengkuantifisir gejala-gejala obsesi; akan tetapi gejala-gejalanya juga bisa didekati dari bermacam-macam perspektif dan disiplin ilmu. Dokter, psikolog, pendidik, kritikus, politikus, dan lain-lain semuanya juga bisa menyajikan wawasan yang khas dan berbeda-beda mengenai obsesi.

            Keberadaan dan kepentingan obsesi berbeda bagi tiap-tiap orang.  Barangkali jika membicarakan obsesi orang biasa tentu kurang terlihat kepentingannya karena obsesinya lebih banyak dipengaruhi oleh kehidupan pribadinya. Tetapi jika membicrakan obsesi  seperti yang dimiliki  sastrawan, politikus, pemimpin masyarakat tentulah sangat besar terlihat kepentingannya. Karena obsesinya lebih banyak dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat, manusia, dan lingkungannya.

            Gejala obsesi dapat dilihat dari sikap, tingkah laku, dan hasil karya seseorang. Perbedaan wadah gejala obsesi menyebabkan terjadinya perbedaan cara memahami dan menyelidikinya.  Ada secara langsung menyelidiki orangnya seperti melalui wawancara dan ada pula secara tidak langsung seperti melalui penyelidikan hasil-hasil karya yang berupa film, sandiwara, karya sastra, catatan, dan sebagainya.

            Dipandang dari sudut pengajaran sastra penyelidikan terhadap obsesi yang tercermin dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari Mochtar Lubis sebagai sastrawan tidak terlihat kaitan dan kepentingannya. Tetapi jika ditujukan terhadap obsesinya yang tercermin dalam novel-novelnya perlu dilakukan. Karena keberadaan dan kepentingannya besar sekali, baik terhadap bidang pendidikan dan pengajaran sastra maupun terhadap bidang ilmu lainnya. Penyelidikan obsesi Mochtar Lubis melalui novelnya tidaklah perlu terlebih dahulu mempelajari data biografinya. Karena tujuannya bukanlah melihat hubungan obsesi yang terdapat di dalam dunia objektif (dalam diri Mochtar Lubis) dengan yang terdapat di dalam dunia imajinatif (dalam novel Mochtar Lubis). Bila hal ini dilakukan kecendrungannya tentulah ke arah studi proses kreatif pengarangnya. Sedangkan yang dimaksud dalam  penelitian ini bukanlah demikian. Tetapi studi tentang obsesi MochtarLubis yang tecermin dalam novel Harimau! Harimau! caranya tentulah dengan memahami dan menyelidiki novelya.

            Mochtar Lubis sebagai salah seorang sastrawan yang lebih peka dari masyarakat lingkungannya sering dapat melihat ketimpangan sosial dari manusia lainnya. Dia menyaksikan tingkah laku masyarakat yang kurang beres dan menyajikannya dalam sebuah kesaksian yang bernama karya sastra, agar masyarakat memahaminya dan mau mengubah atau memperbaiki ketidakberesan.

Dalam hal ini, tugas wartawan adalah sebagai saksi zaman, sedangkan perbaikan dan perubahannya terserah kepada masyarakat itu sendiri.

            Sebagai manusia yang peka  dan mampu melihat sesuatu di balik permukaan, dia lebih banyak bertugas sebagai radar bagi masyarakatnya. Barangkali dia dapat membuat perubahan sosial dengan karya-karyanya, tetapi bukan itulah tugas utamanya. Sebagai manusia yang peka dia mudah tergugah oleh ketidakberesan manusia sehingga dia mudah gelisah dan dicekam obsesi. Karena itu, dia mesti mengungkapkannya sebagai bahan pelepas beban kegilasahannya.

            Yang menjadi masalah sehubungan dengan itu, tentulah  perlu dipikirkan Apa obsesi pengarang dalam novelnya. Atau setidak-tidaknya memikirkan sesuatu ilmu yang menggunakan pendekatan dan metode yang relevan untuk tujuan tersebut.

            Kegilisahan yang ditampilkan Mochtar Lubis dalam novelnya tentulah dimaksudkan untuk dibaca, dipahami dan diambil manfaatnya. Dengan kata lain, untuk mendapatkan perhatian bersama. Tidak dapat dipungkiri lagi perhatian itu pun sudah lama dicurahkan orang. Ada yang menitikberatakan pada unsur intrinsik dan ada pula yang menitikberatkan pada unsur ekstrinsik

            Perhatian terhadap unsur  intrinsik beserta penerapan dan metode kerjanya telah banyak diterapkan oleh kritikus sastra. Sedangkan perhatian terhadap unsur ekstrinsik belum mendapat tempat. Muhardi (1985, hal. iii)  menjelaskan bahwa tidak mendapat tempatnya mungkin karena prinsip-prinsip cara kerjanya masih belum terpahami. Untuk itu, perlu kiranyan diadakan ancangan yang dapat  memperhatikan unsur ekstrinsik dengan cara yang mudah dipahami.

            Penelitian sebelumnya yang ada hubungannya dengan ini pernah dilakukan oleh Jawalis Murad. Murad (1982) meneliti aspek-aspek psikologi yang terdapat dalam novel Harimau! Harimau!, Maut dan Cinta, dan Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis dengan menggunakan pendekatan objektif. Dari hasil penelitiannya terungkap bahwa terdapat aspek psiklogi takut, asosiasi seks, dan impotensi dari ketiga novel tersebut. Selanjutnya dia mengatakan bahwa sebenarnya masih banyak lagi aspek-aspek psikologi dalam ketiga novel tersebut dan di dalam novel-novel Mochtar Lubis lainnya.

            Penelitian ini mencoba membuktikan apa yang dikatakan oleh Jawalis Murad tersebut. Yaitu meneliti aspek obsesi Mochtar Lubis yang terdapat dalam novel Harimau! Harimau!

            Pentingnya obsesi Mochtar Lubis yang tercermin di dalam novel Harimau! Harimau! diteliti karena pengaruhnya sangat dominan, baik terhadap kesemua novelnya maupun terhadap pengarang dalam proses penciptaan dan pembaca dalam proses apresiasinya serta terhadap pendidik dalam pengajaran sastra di sekolah.

Metode Penelitian

Hoggar yang dikutip oleh Muhardi (1989, hal. 44) mengatakan bahwa psikologi dapat bekerja sama dngan pendekatan ekspresif dalam mempelajari dan menyelidiki sastra paling kurang dalam tiga bentuk. Salah satunya menyelidiki sifat-sifat dan karakter psikologi pengarang melalui sastra sebagai aspek kerjanya.

            Tentang sifat-sifat dan karakter psikologi pengarang dan sastra sebagai aspek kerjanya tentu banyak sekali macam dan ragamnya. Tidak mungkin menyeidiki dan membicarakannya dalam keterbatasan waktu dan tempat. Dengan demikian, untuk memfokuskan penelitian ini maka diambil saja aspek obsesi Mochtar Lubis yang terdapat dalam novel Harimau! Harimau!

            Begitu banyaknya permasalahan kehidupan yang menjadi obsesi Mochtar Lubis di dalam novel-novelnya, maka rumusan penelitian ini adalah adakah obsesi Mochtar Lubis yang tercermin di dalam novel Harimau! Harimau! mengungkapkan permasalahan kehidupan tentang, perkawinan, cinta kasih, persahabatan, kepemimpinan, kekeluargaan, perjuangan, dan agama?

            Penelitian ini penelitian deskriptif dengan langkah-langkah pengumpulan data, pengklasifikasian data, kesimpulan, dan pelaporan. Pendeskripsian maksudnya menjabarkan data-data yang diperoleh dalam analisis dengan menggunakan langkah kerja pendekatan ekspresif.

Populasi dalam penelitian ini yaitu novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis yang terbit tahun 1975. Teknik sampel yang digunakan purposive sampling, keinginan mengambil sampel menurut tujuan penelitian.

            Data dalam penelitian ini karya sastra yang menampilkan konflik-konflik cerita yang dapat dianggap sebagai penggambaran obsesi pngarangnya. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dari observasi terhadap naskah dengan menggunakan langkah kerja penndekatan ekspresif. Langkahnya dengan mengobservasi langsung terhadap naskah, dengan membagi atas beberapa tahap. Sebelumnya, dilakukan terlebih dahulu pembacaan teks secermat mungkin. Pertama, inventarisasi, yaitu mengumpulkan semua permasalahan yang terdapat di dalam novel Harimau! Harimau! Kedua, identivikasi, yaitu  mengelompokkan dan membandingkan semua permaslahan yang sama ke dalam kelompok kajian teori. Ketiga, interpretasi, yaitu memberi makna dan pengertian terhadap permasalahan yang menggambarkan obsesi Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau! Keempat, pembuktian dan penyimpulan, yaitu menguji serta merumuskan makna dan pengertian dengan bagian teks fiksi, guna pengukuhannya. Kelima, yaitu menulis hasil kesimpulan berdasarkan kaidah penulisan ilmiah.

 Hasil Penelitian

Berdasarkan teori yang digunakan dalam penelitian ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan penelitian, maka dari hasil penelitian ditemukan dua permasalahan kehidupan yang merupakan penggambaran obsesi Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau! Untuk memudahkan pemahaman dan pencatatan terhadap kedua permasalahan tersebut , dirumuskan secara singkat pertama, permasalahan tentang kepemimpinan. Kedua, permasalahan tentang  perkawinan.

 Pembahasan Hasil PenelitianPermasalahan Tentang Kepemimpinan

Permasalahan tentang kepemimpinan yang merupakan penggambaran  obsesi Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau! Yaitu, lemahnya tugas kepemimpinan dalam kelompok. Pemimpin tidak mampu mengatur serta membina hubungan yang lebih baik dengan para anggota atau bawahannya. Begitu pula, dia tidak mampu melindungi anggota kelompoknya dari serangan lawan. Dia hanya mementingkan keselamatan dan kepentingan diri sendiri.

Adapun yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan demikian yaitu pemimpin bersifat lemah dan pura-pura. Kehebatan pemimpin hanya di mulut saja. Mulanya, memang dia dianggap sebagai pemimpin yang hebat dan berwibawa. Tetapi ketika dia dengan kelompoknya berada dalam suatu bahaya, dia tidak mampu menampakkan semuanya itu, sehingga anggota kelompok tidak hormat dan percaya lagi pada dirinya. Anggota kelompok berbalik menentang pemimpinnya.

Dalam novel Harimau! Harimau! ini yang menggambarkan permasalahan tentang kepemimpinan terlihat dari permasalahan yang dialami tokoh yang tergabung dalam kelompok pencari damar, yaitu pemimpim Wak Katok  dengan para bawahan atau anggota kelompoknya, Pak Haji Rahmad, Pak Balam, Sutan, Sanip, Talib, dan Buyung.

Wak Katok merupakan orang yang diangkat sebagai pemimpin oleh kelompoknya, kelompok pencari damar. Awalnya, dia diangkat sebagai pemimpin yang sangat dikagumi. Di kampungnya, dia juga menjadi pemimpin. Disamping itu, dia juga seorrang guru pencak, ahli sihir, dan dukun besar. Karena itu, seluruh anggota rombongan pencari damar dan seluruh masyarakat segan dan hormat kepadanya.

Tetapi ketika rombongan itu mencari damar dan berburu di suatu hutan, mereka bertemu dengan seekor harimau yang sedang lapar mengejarnya. Ternyata Wak Katok tidak dapat mengusir harimau dan melindungi anggota kelompok dari bahayanya. Bahkan dia hanya mencari perlindungan untuk dirinya sendiri dan membiarkan saja anggota kelompoknya diancam harimau. Ia tidak dapat menunjukkan kewibawaan dan ketegasannya sebagai pemimpin yang memiliki ilmu sihir, ilmu silat, dan dukun besar yang disegani.

Setelah anggota rombongan menyaksikan sikap pemimpinnya yang demikian, mereka menyadari bahwa yang dianggapnya selama ini salah sama sekali. Wak Katok bukanlah pemimpin yang gagah dan berani tetapi  lagaknya sajalah yang demikian.

Kemampuan seorang pemimpin membawahi bawahannya sangat tergantung kepada kewibawaannya. Yang paling menentukan untuk tegaknya kewibawaan yaitu sikap dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Pemimpin yang berwibawa tentulah senantiasa mampu melindungi dan menyelamatkan anggotanya dari segala macam bahaya. Bila perlu dialah yang lebih dulu turun untuk mengatasinya. Tetapi hal itulah yang tidak dimiliki oleh Wak Katok. Tidak salah jika para bawahannya tidak simpati dan percaya lagi pada kepemimpinannya atau berbalik menentangnya.

Bila keadaannya telah seperti demikian, tentu hubungan antara pimpinan dan bawahan berubah menjadi hubungan lawan dengan lawan serta jatuh- menjatuhkan. Akibatnya tujuan kelompok semula yang  telah direncanakan bersama-sama gagal mencapai tujuan. Begitulah yang terjadi antara pemimpin Wak Katok dengan para anggota bawahannya. Mereka terlibat dalam suatu perkelahian yang membawa pembunuhan. Itulah akhir dari permasalahan tentang kepemimpinan dalam novel Harimau! Harimau! Pemimpin yang lemah atau pura-pura tidak akan berhasil memimpin kelompoknya.

 Permasalahan Tentang Perkawinan

Permasalahan tentang perkawinan yang merupakan penggambaran obsesi Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau! yaitu tidak adanya kebahagiaan dalam perkawinan. Perkawinan diartikan sebagai sesuatu yang tidak perlu dikaitkan dengan dasar-dasar, nilai-nilai, dan norma-norma tertentu. Ia boleh saja dibentuk atau ditiadakan sekiranya kedua pasangan berkeinginan untuk itu. Jadi kehadiran lembaga perkawinan tidak ada artinya, tidak perlu adanya. Calon suami dan calon istri boleh saja membentuk suatu ikatan perkawinan jika mereka berdua berkeinginan untuk itu. Begitu pula terhadap pasangan suami istri, mereka boleh memutuskan ikatan perkawinannya jika mereka tidak bersesuaian lagi tanpa melalui suatu tatanan nilai-nilai atau norma-norma tertentu.

            Latar belakang atau penyebab tidak adanya kebahagiaan dalam perkawinan karena suami sudah tua dan “lemah”, suami sibuk dan lama berada di luar rumah dan keterbatasan perekonomian suami dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga.

            Akibat dari tidak adanya kebahagiaan dalam perkawinan dapat menimbulkan berbagai macam fenomena sosial. Baik yang berasal dari dalam diri, rumah tangga, maupun masyarakat. Dari dalam diri, seperti terjadinya berbagai macam gejala kejiwaan; berupa rasa benci, dendam, stress, dan sebagainya.Dari dalam rumah tangga, berupa pertengkaran, penyelewengan, dan sebagainya. Dari dalam masyarakat, lebih banyak lagi, di samping terbawa yang datang dari dalam diri dan rumah tangga, ditambah dengan sikap mengasingkan diri, meracuni diri, pemberontakan, dan sebagainya.

            Dari sekian banyaknya permasalahan tentang tidak adanya kebahagiaan dalam perkawinan, yang merupakan bagian akibat permasalahan dari obsesi Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau! yaitu timbulnya kebencian dan penyelewengan istri terhadap suami.

            Untuk memperjelas dan membuktikan tentang permasalahan perkawinan yang merupakan obsesi Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau! yaitu tidak adanya kebahagiaan dalam perkawinan. Perkawinan yang tidak menjanjikan kebahagiaan, malah kadang-kadang sebaliknya. Besar dan kecilnya kebahagiaan dalam suatu perkawinan tergantung dari dasar, tujuan, dan proses pelaksanaan. Jika diwudkan dengan latar belakang yang tegas, tujuan yang jelas, serta dengan proses yang mendalam maka semakin besarlah nilai dan arti kebahagiaan. Tetapi, jika sebaliknya maka semakin kecillah nilai dan arti kebahagiaan. Penyebab terjadinya permasalahan tentang tidak adanya kebahagiaan dalam perkawinan dalam novel Harimau! Harimau! yaitu tidak jelasnya dasar dan tujuan perkawinan yang sesungguhnya. Perkawinan bukanlah merupakan manifestasi dari kerelaan dan rasa saling membutuhkan tetapi dilatarbelakangi oleh keterpaksaan.

            Jika suatu perkawinan seperti demikian, sesudahnya banyaklah hal-hal yang dapat meruntuhkan kebahagiaan, yang pada mulanya tidaklah dapat dianggap sebagai penyebabnya. Yang termasuk pada kategori ini seperti usia. Faktor inilah yang menjadi penyebab kedua terjadinya permasalahan perkawinan dalam novel Harimau! Harimau! Suami sudah tua sehingga istri bosan dan benci pada tingkah dan perangainya. Sehingga puncak dari keadaan itu, akhirnya timbullah penyelewengan yang dilakukan oleh istri.

            Adapun tokoh cerita yang mendukung permasalahan ini, yaitu Siti Rubyah dengan Wak Hitam. Kedua tokoh ini tidak berbahagia dalam perkawinannya, terutama bagi Rubyah. Akibat dari perkawinan yang tidak membawa kebahagiaan, akhirnya menimbulkan sifat ketidaksetiaan pada diri Siti Rubyah. Dia tidak lagi menjadikan suaminya sebagai tempat untuk mencurahkan segala kasih sayangnya.

Karena Rubyah tidak mendapatkan layanan sebagai seorang istri dari Wak Hitam, suaminya maka timbullah di dalam dirinya usaha untuk mendapatkan hal itu dari Buyung dan Wak Katok yang singgah di ladangnya. Begitulah akhir dari permasalahan tentang perkawinan yang dialami oleh Wak Hitam dan Siti Rubyah.

 Simpulan dan Saran

Penelitian ini merupakan salah satu wujud dari kegiatan apresiasi dan kritik sastra yang menghubungkan sastra dengan psikologi pengarangnya. Hasil analisisnya menggambarkan obsesi Mochtar Lubis tentang permasalahan kepemimpinan dan perkawinan. Kedua permasalahan tersebut sangat berpengaruh terhadap penciptaan novel Harimau! Harimau!

            Hasil pembahasannya menunjukkan bahwa novel tersebut sangat baik untuk dibaca karena banyak sekali mengungkapkan permasalahan kejiwaan manusia perorangan, masyarakat, dan lingkungan zamannya. Kemudian banyak pula pengalaman dan pelajaran menarik yang dapat diambil manfaatnya.

Tindak lanjut dari penelitian ini, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut: pertama, kepada penelaah sastra disarankan untuk mengkaji lebih mendalam tentang adanya nilai-nilai lain yang tersirat dalam novel Harimau! Harimaau! karya  Mochtar Lubis. Kedua, kepada peneiltii selanjutnya disarankan untuk meneliti aspek psikologi lainnya yang terdapat dalam kumpulan karya sastra Mochtar Lubis, agar informasi tentang aspek-aspek psikologi yang terdapat pada karya sastra pengarang yang dimaksud dapat dikenali secara  lengkap. Ketiga, juga kepada peneliti sastra selanjutnya disarankan untuk melanjutkan penelitian ini dengan menggunakan pendekatan ekspresif, yaitu dengan meneliti biografi pengarang, kemudian dihubungkan dengan sejauh mana hal tersebut tercermin dalam karya sastranya. Dengan demikian, akan ditemukan tentang pengaruh nilai-nilai yang dianut pengarang di dalam karya sastranya.

Daftar Kepustakaan

Lubis, Mochtar.1977. Harimau! Harimau! Jakarta: Pustaka Jaya.

Muhardi. (1984). Homo Humanus. Padang: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni. IKIP Padang.

_____. (1985). Psikoanalisis. Padang: Jurusan Sastra. Fakultas Sastra. Universitas

Andalas Padang.

_____. dan Hasanudin WS. 1990. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: Jurusan 

             Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni. IKIP

             Padang.

           ErzuhediUniversitas Negeri Padang2006


[1] Artikel ilmiah ini dibuat berdasarkan tesis yang ditulis Erzuhedi dengan judul Obsesi Mochtar Lubis dalam Novel-novelnya  (Padang: FPBS, 1992).

Sakratul Maut

January 8, 2008

            Go to fullsize image           

 Sakratul Maut

http://www.unp.ac.id/index2.phpErzuhedi

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian  yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kamatian itu akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada ( Allah ) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan ( Q. S. 62 : 8 ). 

            Siapapun orangnya, tua muda, besar kecil, kaya miskin, pintar bodoh suatu saat  pasti akan didatangi  kematian.  Pepatah Minang mengatakan mumbang jatuah kalapo jatuah. Artinya, yang kecil ada yang meninggal,yang muda ada yang meninggal, yang tua juga ada yang meninggal, bahkan yang masih dalam kandungan, belum sempat lahir ke dunia, juga ada yang meninggal.

            Jika kita pergi berjalan-jalan melihat ke pemakaman ,maka kita akan mendapat berbagai macam ukuran kuburan, ada yang pendek, menengah ,dan panjang. Artinya, orang hidup itu ada yang mati ketika kecil, ketika muda,dan ketika  tua. Tak ada cara menghindarinya. Tak ada jalan menjauhinya. Walaupun dibuat  peti  besi berlapis yang dikunci rapat lalu ditempatkan di ujung dunia yang tersembunyi, namun bila maut telah tiba, sedetik tak bisa dimundurkan, sedetik tak bisa dimajukan ,dia  pasti akan menemui  manusia.

Sekiranya orang yang paling kaya di dunia ini mengumpulkan seluuh harta kekayaanya untuk menyogok malaikat Maut  supaya tidak mencabut nyawanya atau mengundurkan pencabutannya agak setahun, dua tahun , atau sampai ia sudah menikah ,tamat sekolah, tamat pascasarjana, dapat gelar profesor, atau sesaat sekedar pulang ke rumah untuk menyampaikan sesuatu yang penting  kepada istrinya., niscaya tidak akan bisa juga.

            Suatu kisah, pada suatu hari, nabi Sulaiman telah merima kedatangan seorang tamu. Tamu itu  mendapat kabar bahwa Sulaiman adalah nabi yang bisa menguasai jin, mengerti bahasa binatang, kaya raya, dan menguasai angin. Oleh karena itu, ia ingin minta tolong supaya diantarkan ke Cina dengan perantaraan angin. Singkatnya, dikabulkanlah permintaan tamunya itu.

Ketika sulaiman dan tamunya sedang bercakap-cakap tadi, di suatu sudut nampak olehnya malaikat Israil selalu menatap keheranan kapada tamunya. Sulaiman  bertanya, “ Wahai  Israil mengapa engkau selalu melulu melihat kepada tamuku tadi, disaat kami sedang asyik bercakap-cakap ?” Israil menjawab, “ Aku heran, rasa- rasanya Tuhan salah memberikan tugas kepadaku, dalam catatan , aku diperintahkan untuk mencabut nyawa tamumu tadi di Cina hari ini,  tapi mengapa dia masih di sini ? Setelah mendengar permintaan orang itu kepadamu, barulah aku menyadari bahwa keputusan Tuhan tidak salah.

Dari kisah singkat di atas, terlihat bahwa kemanapun akan pergi , apabila kematian telah tiba, tak ada jalan untuk mengelakkannya, tak ada yang bisa menghalanginya, tak ada yang bisa menyogoknya. Semuanya pasti akan merasakannya.

Bagaimanakah rasanya ketika menghadapi sakratul maut ? Banyak pendapat yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan itu.

Dikatakan bahwa setelah nabi Musa as. wafat, beliau menemui Allah Swt. Allah Swt. bertanya kepadanya, “ Bagaimanakah engkau melewati kematianmu ?”  Ia menjawab, “Aku melihat nyawaku seperti seekor burung yang sedang digoreng, tetapi tidak mati, dan tidak dapat terbang atau lari”.  Riwayat lain  menyebutkan  bahwa keadaannya seperti seekor kambing yang dikupas kulitnya dalam keadaan hidup.

Nabi Ibrahim as. mengatakan sakitnya mati itu seperti panasnya besi dibakar, diletakkan pada kain sutera yang basah, lalu nyawanya ditarik. Rasulullah Saw. mengatakan bahwa andaikan  malaikat Israil tahu sakitnya mati, maka dia tidak akan mencabut nyawa orang yang beriman. Dalam konteks yang yang lain, beliau juga mengatakan bahwa andaikan hewan ternak mengetahui sakitnya mati, niscaya manusia tidak akan bisa memakan daging hewan ternak yang gemuk. Selanjutnyai, beliau juga mengatakan bahwa perkiraan berat dan pendeeritaan mati bagi orang mukmin adalah seperti perkiraan tiga ratus pukulan dengan pedang.

 Syaddad bin Aus Rah.A. berkata, “Penderitan maut lebih dahsyat dari segala penderitaan dunia, lebih sakit dari digergaji, dipotong dangan gunting, dan direbus dalam periuk. Jika seorang mayat keluar dari kubur, lalu menceritakan kisah penderitaan sakratul mautnya, maka tiada seorang pun di dunia ini dapat hidup dengan senang dan tiada seorang pun yang dapat tidur dengan nyenyak.

Ulama mengatakan bahwa  kalaulah tidak dibantu oleh malaikat untuk  menghimpit tubuh orang yang nyawanya akan dicabut, niscaya kupaklah loteng rumahnya, akibat dari lentingan tubuh jenazah yang merasa sakit ketika dicabut nyawanya.

Dalam suatu riwayat hadist, dari Jabir bin Abdullah dari Nabi Saw. beliau bersabda, “ Sekelompok orang Bani Israil keluar hingga mereka sampai ke suatu kubur, lalu mereka berkata, “Bagaimana kalau kita mengerjakan shalat kemudian berdoa kepada Tuhan  agar Ia mengeluarkan sebagian orang yang mati kepada kita lantas memberitahukan masalah kematian kepada kita.”  Mereka pun mengerjakan shalat dan berdoa kepada Tuhan, maka terkabullah apa yang mereka minta, dimana  tiba-tiba ada seseorang menampakkan kepalanya dari suatu kubur yang hitam dan sunyi,  lantas ia berkata, “Inilah apa yang kamu ingnkan ( untuk diketahui ). Demi Allah, aku telah mati sembilan puluh tahun ( yang lalu ), namun rasa sakitnya mati belumlah lenyap dari diriku sehingga saat ini seakan – akan aku masih merasakannya, maka doakanlah kepada Allah Ta’la untuk mengembalikan diriku sebagaimana keadaan dahulu.”  Sedangkan di antara kedua matanya terdapat bekad sujud.

Dalam sebuah kitab dicertakan bahwa nabi Isa As. mampu  menghidupkan orang mati dengan izin Allah Swt. Kemudian sebagian orang kafir berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu hanya bisa menghidupkan orang yang baru saja  meninggal yang barangkali belum benar-benar mati, coba hidupkanlah untuk kami orang yang telah lama mati!” Beliau berkata kepada mereka, ”Pilihlah siapa orang yang kau kehendaki !” Mereka berkata, “ Hidupkanlah Sam bin Nuh!” Kemudian nabi Isa As. mendatangi kuburan Sam bin Nuh, shalat dua rakaat, kemudian berdoa kepada Allah Swt., maka Allah Swt. menghidupka Sam bin Nuh. Saat itu, rambut kepala dan janggutnya sudah memutih, lalu ada yang bertanya, “Mengapa kamu kini beruban pada hal waktu itu belum ada uban?” Sam bin Nuh menjawab, “Saya mendengar panggilan dan mengira hari kiamat telah datang, maka memutihlah rambut kepala dan janggutku kareana takut. “ Lalu ada yang menanyakan, “Sejak kapan kamu mati ?” Ia menjawab, “Sejak empat ribu tahun yang lalu, namun sakitnya sakratul maut masih membekas.”

Menurut salah satu riwayat mengatakan bahwa tidak ada seorang mukmin yang meninggal dunia melainkan ditunjukkan kepadanya kembali kehidupan dunia namun  ia merasa enggan karena tidak ingin bertemu dengan penderitaanmati lagi kecali orang-orang yang mati syahid.

Jika digambarkan sakitnya saat sakratul maut atau saat roh dikeluarkan dari jasad adalah seperti seseorang yang sedang bersusah payah mencabut semua tulang ikan yang masih segar dari dagingnya, tanpa meninggalkan tulang sedikit pun  lengket di dagingnya dan tanpa terbawa sedikit pun  daging tersangkut di tulangnya. Atau seperti seseorang yang mencoba dengan sungguh-sungguh mengeluarkan  biji  buah kedondong keluar dari dagingnya, tanpa meninggalkan sedikit pun serabut biji di dalamnya, atau tanpa membawa dagingnya ikut terkeluar bersama bijinya.

Umar Ra. Berkata kepada Ka’ab, “wahai Ka’ab ceritakanlah kepada kami tentang mati. Ka’ab berkata, “Sesungguhnya mati itu ibarat pohon duri yang dimasukkan ke dalam perut  manusia, lantas setiap duri itu mengait dengan urat, kemudian ditarik oleh seseorang yang sangat kuat lalu terputuslah urat yang bisa putus dan tersisalah apa yang tidak bisa putus.

Maut begitu mengerikan dan menakutkan. Seberapa jauhkah kengerian dan ketakutan yang diciptakannya? Menjawab pertanyaan ini Rasulullah Saw. menerangkan dalam sebuah hadits seperti berikut.

Ketika Allah Ta”la menciptakan malaikat Maut ( Izrail ), ditutuplah ia dengan sejuta penutup yang terbuat dari beberapa makhluk. Besarnya Malaikat Izrail itu lebih besar dari beberapa langit dan bumi. Andaikan dituangkan air dari berbagai laut dan danau serta sungai di atas kepalanya, maka tidaklah menetes setetes pun ke atas bumi. Sesungguhnya bagian timur dan barat dunia berada di hadapan malaikat Israil bagai meja yang telah diletakkan di atasnya sesuatu dan terdapat di meja itu seseorang yang hendak makan sesuatu yang diinginkannya. Demikian juga malaikat Israil membolak – balik bumi sebagaimana seseorang membolak – balik sekeping mata uang. Malaikat itu diikat dengan tujuh puluh ribu rantai, setiap rantai panjangnya sekitar perjalanan seribu tahun. Tidaklah  para malaikat lain mendekat kepadanya, tidak mengetahui tempatnya, tidak mendengar suaranya, tidak mengetahui keadaannya hingga kapanpun.

Tatkala Allah  Swt. menciptakan maut dan menguasakannya kepada malaikat Israil, berkatalah  ia, “ Ya, Rabbi apakah maut itu ?” Allah Ta’ala memerintahkan kepada tabir-tabir ( hijab )  agar terbuka higga malaikat Izrail mengetahui apa yang disebut maut. Lalu berkata kepada semua malaikat, “ Berhenti dan lihatlah wahai para malaikat kapada maut ini !“. Semuanya berhenti. Allah Swt. memerintahkan maut, “Terbanglah di atas semua malaikat dan hamparkanlah sayap – sayapmu semuanya dan bukalah semua matamu!” Ketika maut itu terbang dan semua malaikat telah  menyaksikannya, maka  tersungkurlah semua mereka dalam keadaan pingsan selama seribu tahun.

Ketika  siuman setelah pingsan, berkatalah ia, “ Ya, Tuhan kami sudahkah Engkau menciptakan makhluk yang lebih besar dari ini ?” Allah Swt. berfirman, “ Sayalah yang menciptakan dan Sayalah yang lebih besar darinya, dan sungguh semua makhluk akan merasakannya. Wahai Izrail peganglah maut itu ! Dia telah Aku kuasakan kepadamu.”  Izrail menjawab, “ Wahai, Tuhanku dengan kekuatan  apa aku harus memegangnya, pada hal dia lebih besar dariku.”  Allah Swt. memberikan kekuatan kepadanya, lalu malaikat Izrail mengambilnya dan tenanglah ia ditangannya.

      Malaikat Izrail  saja yang begitu besar takut dan

pingsan selama seribu tahun ketika melihat maut.

Bagaimana dengan kita? Maut yang sama dan malaikat

yang sama juga akan menemui masing – masing

kita. Sudahkah kita memikirkan, bersiap diri, atau

merancang suatu strategi jitu  untuk menghadapinya?

Jawabannya tentu terpulang kepada  masing – masing

kita. 

Imitasi, Metode Pengajaran Retorika

December 10, 2007

                                                         Imitasi,

Metode Pengajaran Retorika  

                                Erzuhedi  

A. Sejarah Imitasi

Salah satu metode pengajaran retorika yang fundamental pada zaman Romawai Kuno dan Renaissance adalah imitasi. Pada zaman itu, praktek ini berwujud dalam tempat yang memiliki banyak tingkatan dan melewati banyak metode.Tingkatan yang paling rendah mereka lakukan adalah mengenai bahasa Yunani dan Latin, yaitu menyalin murni pidato dari seorang penulis yang disediakan . Ketika menjalankan prosesnya, mereka diajari untuk menguraikan dan menemukan sarana-sarana dari berbicara dan menulis, yang membawa kepada bermacam jenis analisis retorika dari model-model mereka. Dari model itu bisa diambil dan dikembangkan sarana berbicara, strartegi-strategi argumentatif, dan pola susunan. Para siswa diinstruksikan  untuk menggunakan buku salinan untuk merekam atau mencatat paragraf dari bacaan yang berisi muatan atau bentuk yang berharga, yang akan mereka kutip atau tiru dalam berbicara atau menulis mereka sendiri. Instruktur menyediakan sejumlah latihan mengenai imitasi untuk membantu siswa mengasimilasi dan mendapatkan  kebaikan-kebaikan yang tepat dari model-model yang ditunjukkan.

Imitasi sebagai sebuah metode pengajaran memiliki peranan pada zaman itu, yang sangat penting dalam retorika dan menjadi fokus dalam pelajaran retorika. Buku-buku pegangan  yang populer pada zaman itu adalah Progymnasmata, karya Hergomenes (c.150 AD) dari Tarsu dan buku Antonius (c. 400 AD), seorang murid Libanius dari Antiokia.Dari kedua buku itu terlihat bahwa latihan-latihan yang dipelajari secara khusus mengenai narasi, deskripsi, pengembangan peribahasa yang mengandung moral, personifikasi dan lain-lain adalah  beberapa hal yang bukan hanya terdapat dalam retorika, tetapi juga dalam jenis-jenis kesusastraan yang lain.

Telaah retorika pada waktu itu meliputi suatu bidang yang sama luas dengan kesusastraan Latin dan Yunani. Tetapi dilihat dari sudut yang lain, ruang lingkupnya menjadi sempit dari masa sebelumnya, sebab dalam bidang yang baru ini, hanya ada beberapa pengarang yang memperoleh pendidikan  untuk mengadakan imitasi.Pada dasarnya pengajaran retorika dengan imitasi meliputi tiga bidang aspek, yaitu: 1) Muatan atau isi, 2) Bentuk, dan 3) Susunan. Walaupun masing-masingnya bisa dianalisis dalam perbedaan namun ketiganya saling berkait dan tidak bisa dipisahkan secara simultan, baik lisan maupun tulisan. Jadi, setiap penganalisisan dari tiap aspeknya juga tersangkut pada aspek yang lainnya.

 B. Imitasi Retorika Lisan

Berkaitan dengan imitasi muatan atau isi retorika lisan, Quantilian menggambarkan “Vir bonus peritus dicedi” seseorang yang baik akan berbicara dengan baik pula. Maknanya, pembicara dan penulis sangat memperhatikan  kedekatan hubungan  dengan pendengar dan pembaca. Ia mengutamakan sesuatu yang baik dan berguna bagi audiensnya sehingga mencontoh hal-hal yang baik dari isi atau muatan pidatonya.

Mengingat bahasa juga sebagai alat mekanistis yang digunakan untuk mencatat atau menyampaikan pikiran maka tidak jarang ahli-ahli menyampaikan sesuatu yang tidak baik atau sesat yang akan berpengaruh terhadap bahasa dan proses pemikiran.Secara umum, latihan-latihan yang berkenaan dengan imitasi terdiri dari penyalinan beberapa tipe (format) dalam tulisan atau bicara asli, namun menghasilkan sebuah muatan  yang baru, atau dari penyalinan muatan yang asli, namun menghasilkan sebuah bentuk yang baru. Tujuannya adalah untuk menghasilkan  satu jenis model terbaik literatur  dan magang retorik yang akan bisa membuat model-model terbaik dari ekspresi yang bersangkutan bisa sesuai dengan gaya tertentu.Asumsi yang salah tentang imitasi adalah menganggap ia memiliki kaitan dengan penyalinan gaya dari sebuah model secara sempurna, dimana siswa-siswa yang bersangkutan  mengobservasi dan meniru metode-metode argumentatif ataupun muatan  dari model yang bersangkutan sebaik-baiknya. Terkadang imitasi bisa juga membawa seseorang kepada  upaya peniruan  yang rendah dari sebuah gaya penulisan  tunggal atau pada kesalahan-kesalahan dalam menyalin sifat-sifat berharga dari model seseorang walaupun cara itu mendatangkan manfaat juga, seperti menghasilkan  metode-metode pengekspresian  yang siap untuk membantu mengekspresikan dirinya sendiri, untuk menyatukan informasi yang telah diajarkan  kepada mereka dalam sebuah cara yang khusus, dan untuk mengorientasikan  siswa agar mengobservasi semua hal tentang metode-metode linguistik spesifik yang membuat model-model tersebut jelas berhasil.

Imitasi merupakan jembatan antara bacaan dengan tulisan atau pembicaraan seseorang.  Ia juga menampilkan suasana dimana permasalahan  mengenai susunan dan gaya dipertimbangkan secara simultan (serentak), tidak terpisah  karena terkadang mereka timbul dalam kerangka sebuah garis-garis besar kurikulum yang bersangkutan. Imitasi sebagai sebuah metode dalam pengembangan retorika memiliki hubungan yang sangat dekat dengan  prinsip-prinsip aplikasi dan dan variasi. Para siswa yang bersangkutan  mulai berpindah dari imitasi yang dekat dari model mereka kepada jenis-jenis yang agak renggang, dengan menggunakan model-model tersebut untuk peningkatan sebagai titik awal bagi komposisi mereka sendiri yang lebih bertahan lama.

Dalam ilmu pengajaran retorika, sebagian besar siswa yang melakukan analisis  mengenai format dan muatan bahasa  dianggap telah melakukan aplikasi  peniruan. Mereka diminta untuk mengobservasi sebuah model secara dekat  dan kemudian mereka menyalin formatnya namun menghasilkan  muatan yang baru atau mereka menyalin muatan  namun menghasilkan  format yang baru. Peniruan semacam itu telah terjadi di setiap tingkat berbahasa dan bahasa, dan ini memaksa siswa untuk melakukan penilaian mengenai apa yang sesungguhnya dilakukan  oleh format yang diberikan  berkenaan dengan makna ataupun efeknya.Pembedaan antara format dengan muatan selalu bersifat artifisial dan kondisional, sebab pada akhirnya upaya untuk membuat pembedaan ini menunjukkan hasil berupa sifat fundamental yang tidak bisa dibagi-bagi dari ekspresi verbal dan pemikiran. Sebagai contoh, ketika siswa diminta untuk melakukan penerjemahan  sebagi latihan retorika, malah mereka  menganalisis komposisi mereka  dalam istilah-istilah yang dekat dengan dirinya, karena dianggap  tidak mungkin kiranya untuk secara sempurna bisa menangkap makna dan  efek dari sebuah ekspresi yang dipikirkan dalam istilah-istilah  lainnya selain kata-kata asalnya.Sebenarnya pembedaan tersebut didasarkan kepada sebuah sudut pandang  mengenai bahasa sebagai suatu alat  mekanistis yang digunakan  untuk mencatat ataupun menyampaikan pikiran. Dengan adanya ahli-ahli yang berpikiran sesat dan menyimpang dari yang sesungguhnya maka para ahli retorika pun memiliki pandangan atau penilaian tentang bagaimana bahasa berpengaruh, tidak hanya kepada pemahaman audiensi tetapi juga kepada proses pemikirannya.

Dalam bidang retorika kedekatan hubungan antara apa yang dikatakan dengan cara hal tersebut dikatakan bisa diteliti melalui kontinuitas antara muatan mengenai penemuan dengan gaya pembicaraan (figure of speech). Gaya pembicaraan itu kadang-kadang dianggap dangkal saja, pada hal bukan hanya sekedar penampakan gaya bahasa saja melainkan juga pemanfaatan ornamen (yang melengkapi) dari retorika yang dapat berwujud ucapan tambahan sebagai perlengkapan yang diperlukan  untuk mencapai makna yang dimaksudkan atau efek retorika.Ahli retorika sebenarnya membedakan antara format (bentuk) dengan konten (muatan/isi) bukannya untuk menempatkan  isi tersebut di atas bentuk, namun untuk menyorot  adanya saling ketergantungan bentuk bahasa dan makna, argumen dan ornamen, serta pemikiran dan ekspresinya. 

C. Imitasi Retorika Tulisan  Copy The Master            

Dalam dunia seni lukis istilah copy the master bukan merupakan istilah yang asing lagi. Istilah ini berkaitan dengan metode belajar melukis. Ada dua metode yang dikembangkan dalam teori pengajarannya. Pertama, melukis cara barat, yaitu belajar garis dan bentuk dahulu, kemudian anatomi, perspektif, warna, dan sebagainya menurut urutan yang sesuai  dengan pendirian guru yang mengajar. Orang-orang Cina  dulu tidak demikian halnya. Orang yang ingin jadi pelukis akan diberi sebuah lukisan  yang sudah jadi dan baik, biasanya yang dibuat oleh seorang master, yaitu orang yang ahli melukis atau pelukis terkenal. Calon pelukis disuruh meniru lukisan master tadi sampai sebisa-bisanya, semirip mungkin. Sesudah beberapa kali mencoba, murid akan mendapat sebuah master baru untuk ditiru. Begitulah seterusnya sampai ia bisa melukis sendiri, dan mulai menemukan bentuk yang khas yang sesuai dengan kepribadian dan kesukaannya. Metode inilah yang dinamakan copy the master, yang artinya meniru lukisan seseorang yang ahli.           

 Dalam pendidikan retorika pun mengenal kedua metode  ini, di samping ada pula  pelajaran semu melalui kaedah-kaedah  yang disuruh hafalkan. Pada dasarnya, metode copy the master menuntut dilakukannya latihan-latihan sesuai dengan master yang diberikan. Latihan dengan metode ini tidak mesti tulisan dari seorang penulis terkenal, tetapi dapat juga diambil dari sebuah tulisan yang berasal dari penulis biasa, yang dianggap sebagai sebuah model, setelah dilakukan modifikasi seperlunya. Kemudian model ini dibaca terlebih dahulu, dilihat isi dan bentuknya, dianalisis serta dibuatkan kerangkanya, serta dilakukan hal-hal lain  yang perlu, baru sesudah itu tiba waktunya untuk menulis. Tentu saja yang dituliskan itu tidak persis sama seperti modelnya: ini namanya menyalin bulat-bulat, menjiplak, atau bahkan membajak. Sebenarnya yang akan dikopi adalah kerangkanya, atau idenya, atau bahkan juga tekniknya.      

Ada orang yang tidak pernah menempuh pendidikan formal yang cukup dalam bidang menulis mengatakan bahwa menulis itu gampang. Pernyataan ini ada banyak benarnya, karena kemampuan menulis tidak selamanya harus menempuh pendidikan formal dulu untuk mendapatkan teori-teori menulis. Kemampuan menulis bisa juga didapatkan dari rajin melakukan latihan menulis, menirukan tulisan-tulisan yang sudah jadi. Tanpa latihan seperti ini tentu orang tadi tidak akan mengatakan  pernyataan seperti itu karena tidak akan pernah lahir seorang penulis secara seketika tanpa didahului oleh adanya latar belakang, kemampuan, dan latihan menulis sebelumnya.               Namun, dari manakah latihan harus dimulai? Banyak para ahli berpendapat bahwa menulis sebaiknya dimulai dari yang dekat, kemudian pelan-pelan berangsur ke yang jauh. Dari yang konkret ke yang abstrak. Atau mulailah dengan yang paling menarik  hati kita sendiri, yang paling kita kenal, yang paling kita kuasai materinya. Salah satu cara untuk melakukan itu  dalam pengajaran retorika di sekolah adalah dengan metoda imitasi dengan segala variasinya seperti berikut ini.  

  1. Struktur sama isi berbeda,

Guru mempersiapkan suatu karangan model yang akan dijadikan  sebagai contoh dalam menyusun  karangan baru. Karangan siswa tidak persis sama dengan karangan model. Struktur karangan memang sama tetapi berbeda dalam isi. Contoh,  Guru :      Baca dan perhatikan baik-baik karangan berikut ini. Kemudian susunlah karangan lain  yang bentuknya sama dengan karangan tersebut.  Harga Barang Pokok Naik Harga sebagian barang pokok bergerak naik. Beras seminggu yang lalu  berharga Rp 300,00/liter kini berubah menjadi Rp 325,00/liter. Gula pasir  melonjak dari Rp 650,00/kg menjadi Rp 675,00/kg. Minyak kelapa   walaupun tidak seberapa naiknya tetapi secara nyata berinsut naik dari Rp  600.00/kg menjadi Rp 650,00/kg. Terigu kini mencapai 300,00/zak sedang  minggu lalu masih Rp 275,00/zak. Famatex dari Rp 700,00/m berubah jadi Rp 800/m minggu ini. Siswa :    Membaca dan memperhatikan contoh . Kemudian mereka menyusun karangan  berdasarkan contoh. Salah satu dari karangan siswa itu mungkin  begini: Barang Kebutuhan Harian Melonjak    Harga sayur-sayuran beringsut naik. Bayam bulan yang lalu masih berharga Rp75,00 seikat. Kini berubah menjadi Rp 100,00 seikat. Kol gepeng melonjak dari Rp 150,00/kg  menjadi 200,00/kg. Kangkung juga tidak mau ketinggalan, minggu yang lalu harganya Rp 50,00 seikat, kini berubah menjadi Rp 70,00 seikat. Kentang sudah  mencapai harga Rp 300,00/kg. Berarti ada kenaikan harga Rp 50,00/kg dari minggu lalu. Bahkan daun singkong pun ikut berubah harga. Biasanya Rp 250,00 seikat, sekarang menjadi Rp 500,00 seikat. 

    2.   Isi sama bentuk berbeda.

Guru  memperdengarkan rekaman sebuah puisi secara berulang-ulang atau dibacakan beberapa kali kepada siswa-siswanya, atau bisa juga langsung siswa membaca dan memahami isinya kemudian mereka diminta untuk mengulangnya kembali dalam bentuk prosa dengan kata-kata sendiri. Contoh,  Guru:  Baca dan pahamilah sajak berikut ini! Kemudian ubahlah dalam bentuk prosa!             

   IBU, ADAKAH TERSISA WAKTU  UNTUKKU 

Ketika ibu bertanya padaku Nak, sudah benarkah pilihan cintamuKujawab dengan hati yang tegar tetapi senduBenar ibu, telah kupilih tumpahan hatiku. Walau kata pengabdian pada masa itu terasa semuNamun hatiku telah terpatri tekadkuHanya ini yang ingin kubaktikan  sebagai balas budiku Atas jerih payah serta curahan kasih sayang bundaku. Dan bila sang suami bertanya lembut penuh rayuSayangku, sanggupkah engkau bagi waktumuAntara tugas dan tanggung jawab yang penuh likuSerta cinta, kasih dan bakti padaku. Maka jawabku kadang bercampur raguOh, suamiku, Tuhanlah yang maha tahuBetapa besar nikmat dan karunia ataskuKarya, bakti dan ciptaku bisa terpadu Dan lemahlah akhirnya sendi tulangkuBila datang si kecil anakku merajuk rayuIbu, adakah tersisa waktu untukkuAku ingin bercanda, memanja dan mengadu. Oh anakku, kau adalah tumpuan harapan  ayah bundamuKudambakan kau kelak jadi pemimpuin  negara dan bangsaku  Untuk itu ibu rela berkorban  sisa cintakuDemi cinta, bakti dan masa depan tanah airku. (Monalisa, September 1982) Siswa : Menyimak rekaman atau membaca bacaan dengan berulang. Mereka mencoba memahami garis besar isi sajak. Hasil perubahan yang dilakukannya dalam bentuk prosa adalah kira-kira sebagai berikut: 

POLWAN : ANTARA TUGAS DAN KELUARGA 

Seorang wanita memilih menjadi Polwan sebagai lapangan mengabdi. Melalui Polwan ia akan berbakti pada negara. Melaui Polwan ia membalas kasih sayang ibundanya.  Banyak pertanyaan yang timbul atas pilihan wanita tersebut. Pertanyaan dari ibunda, suami, dan anaknya. Ibunda bertanya apakah pilihan itu sudah tepat. Ia menjawab dengan pasti itulah pilihan hatinya. Suaminya bertanya apakah dia dapat     membagi waktu antara tugas dan suami. Ia menjawab, cintanya pada suami tidak berkurang. Tugasnya pun tidak akan diabaikan. Anaknya juga bertanya. Apakah ia masih mempunyai waktu untuk bercanda, memanjakan, dan menampung pengaduan anaknya. Dengan bijaksana ia menjawab. Kuharapkan dikau jadi pemimpin negara. Ibu rela berkorban demi cinta, bakti, dan masa depan negara.

 C. Aplikasi 

Pengajaran retorika dengan menggunakan metode imitasi  dapat dikembangkan dalam  mata diklat bahasa Indonesia di setiap jenjang sekolah, mulai dari tingkat SD sampai SLTA. Ini dapat dilakukan karena metode imitasi ini pada dasarnya memiliki tingkat-tingkat peniriuan aspek, bentuk, dan susunan  beragam dan bervariasi. Mulai dari peniruan yang hampir sesungguhnya sama sampai kepada bagian-bagian  yang baik, menarik, atau tertentu saja.Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan bahasa Indonesia di SMKN 9 Padang tingkat semenjana, secara jelas  memungkinkan dipakainya metode ini dalam pengembangan materi pembelajaran yang terkait dengan pidato atau mengarang seperti terlihat pada bagian kutipan kurikulum itu berikut ini: 

SILABUS 

NAMA SEKOLAH                  :   SMKN 9 PADANG         

MATA PELAJARAN              :   BAHASA INDONESIA

KELAS/SEMESTER             :    X / 1

STANDAR KOMPETENSI   :   Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia setara tingkat Semenjana

 KODE KOMPETENSI          :   1ALOKASI WAKTU              :   6  x  45 menit  (  3 x pertemuan ). 


KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN  PENILAIAN AW SUMBER BELAJAR

Jika ingin melihat lebih jauh lagi ke dalam isi KTSP Bahasa Indonesia yang dikembangkan di SMKN 9 Padang sebenarnya ada lagi materi ajar yang berkaitan dengan pidato dan menulis yang memungkinkan digunakannya metode imitasi dalam pengajaran retorika, namun  sebagai contoh, yang ini sudah cukup

 DAFTAR BACAAN 

Aminuddin. 1995. Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra.  Semarang: IKIP     Semarang Press.

Arief, Ermawati. 2006. Retorika Lisan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSS UNP Tahun Akademik 2005. (Tesis) Tidak diterbitkan. Padang: PPS UNP. 

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tingkat Semenjana, Madia, dan Unggul Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan  Pengembangan   Pendidikan dan Kebudayaan.

Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi.

Hendrikus, D.W. 1991. Retorika. Yogyakarta: Kanisius.

Keraf Gorys. 1980. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Marahimin, Ismail. 2005. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.

Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Retorika Modern. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Syafi’ie, Imam. 1988. Retorika Dalam Menulis. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti P2LPTK.

Tarigan, Djago dan Hedri Guntur Tarigan. 1986. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Widyamartaya, A. 1990. Seni Menggayakan Kalimat. Yogyakarta: Kanisius.

William, Grant. Figure of Speech (http: / /www. Nipissingu. Ca/Faculty/ Williams / Fogofspe.htm.

Yanti, Dahlia. 2007. Retorika Dakwah K.H. Zainuddin M. Z. (Tesis) Tidak diterbit-kan. Padang: PPS UNP.        

Hello world!

December 9, 2007

Go to fullsize image

Pengalaman, ” Ya, Allah”. 

Saya mempunyai pengalaman. Jika anda mencobanya,  maka sesuatu yang sama, bahkan lebih akan anda dapatkan. Bila Anda sedang marah yang sulit ditahan maka ucapkanlah, “Ya, Allah”, maka anda akan mendapat manfaat langsung dari efek ucapan itu. Rasa marah anda akan teredam dan diri akan terkendali.