Imitasi, Metode Pengajaran Retorika


                                                         Imitasi,

Metode Pengajaran Retorika  

                                Erzuhedi  

A. Sejarah Imitasi

Salah satu metode pengajaran retorika yang fundamental pada zaman Romawai Kuno dan Renaissance adalah imitasi. Pada zaman itu, praktek ini berwujud dalam tempat yang memiliki banyak tingkatan dan melewati banyak metode.Tingkatan yang paling rendah mereka lakukan adalah mengenai bahasa Yunani dan Latin, yaitu menyalin murni pidato dari seorang penulis yang disediakan . Ketika menjalankan prosesnya, mereka diajari untuk menguraikan dan menemukan sarana-sarana dari berbicara dan menulis, yang membawa kepada bermacam jenis analisis retorika dari model-model mereka. Dari model itu bisa diambil dan dikembangkan sarana berbicara, strartegi-strategi argumentatif, dan pola susunan. Para siswa diinstruksikan  untuk menggunakan buku salinan untuk merekam atau mencatat paragraf dari bacaan yang berisi muatan atau bentuk yang berharga, yang akan mereka kutip atau tiru dalam berbicara atau menulis mereka sendiri. Instruktur menyediakan sejumlah latihan mengenai imitasi untuk membantu siswa mengasimilasi dan mendapatkan  kebaikan-kebaikan yang tepat dari model-model yang ditunjukkan.

Imitasi sebagai sebuah metode pengajaran memiliki peranan pada zaman itu, yang sangat penting dalam retorika dan menjadi fokus dalam pelajaran retorika. Buku-buku pegangan  yang populer pada zaman itu adalah Progymnasmata, karya Hergomenes (c.150 AD) dari Tarsu dan buku Antonius (c. 400 AD), seorang murid Libanius dari Antiokia.Dari kedua buku itu terlihat bahwa latihan-latihan yang dipelajari secara khusus mengenai narasi, deskripsi, pengembangan peribahasa yang mengandung moral, personifikasi dan lain-lain adalah  beberapa hal yang bukan hanya terdapat dalam retorika, tetapi juga dalam jenis-jenis kesusastraan yang lain.

Telaah retorika pada waktu itu meliputi suatu bidang yang sama luas dengan kesusastraan Latin dan Yunani. Tetapi dilihat dari sudut yang lain, ruang lingkupnya menjadi sempit dari masa sebelumnya, sebab dalam bidang yang baru ini, hanya ada beberapa pengarang yang memperoleh pendidikan  untuk mengadakan imitasi.Pada dasarnya pengajaran retorika dengan imitasi meliputi tiga bidang aspek, yaitu: 1) Muatan atau isi, 2) Bentuk, dan 3) Susunan. Walaupun masing-masingnya bisa dianalisis dalam perbedaan namun ketiganya saling berkait dan tidak bisa dipisahkan secara simultan, baik lisan maupun tulisan. Jadi, setiap penganalisisan dari tiap aspeknya juga tersangkut pada aspek yang lainnya.

 B. Imitasi Retorika Lisan

Berkaitan dengan imitasi muatan atau isi retorika lisan, Quantilian menggambarkan “Vir bonus peritus dicedi” seseorang yang baik akan berbicara dengan baik pula. Maknanya, pembicara dan penulis sangat memperhatikan  kedekatan hubungan  dengan pendengar dan pembaca. Ia mengutamakan sesuatu yang baik dan berguna bagi audiensnya sehingga mencontoh hal-hal yang baik dari isi atau muatan pidatonya.

Mengingat bahasa juga sebagai alat mekanistis yang digunakan untuk mencatat atau menyampaikan pikiran maka tidak jarang ahli-ahli menyampaikan sesuatu yang tidak baik atau sesat yang akan berpengaruh terhadap bahasa dan proses pemikiran.Secara umum, latihan-latihan yang berkenaan dengan imitasi terdiri dari penyalinan beberapa tipe (format) dalam tulisan atau bicara asli, namun menghasilkan sebuah muatan  yang baru, atau dari penyalinan muatan yang asli, namun menghasilkan sebuah bentuk yang baru. Tujuannya adalah untuk menghasilkan  satu jenis model terbaik literatur  dan magang retorik yang akan bisa membuat model-model terbaik dari ekspresi yang bersangkutan bisa sesuai dengan gaya tertentu.Asumsi yang salah tentang imitasi adalah menganggap ia memiliki kaitan dengan penyalinan gaya dari sebuah model secara sempurna, dimana siswa-siswa yang bersangkutan  mengobservasi dan meniru metode-metode argumentatif ataupun muatan  dari model yang bersangkutan sebaik-baiknya. Terkadang imitasi bisa juga membawa seseorang kepada  upaya peniruan  yang rendah dari sebuah gaya penulisan  tunggal atau pada kesalahan-kesalahan dalam menyalin sifat-sifat berharga dari model seseorang walaupun cara itu mendatangkan manfaat juga, seperti menghasilkan  metode-metode pengekspresian  yang siap untuk membantu mengekspresikan dirinya sendiri, untuk menyatukan informasi yang telah diajarkan  kepada mereka dalam sebuah cara yang khusus, dan untuk mengorientasikan  siswa agar mengobservasi semua hal tentang metode-metode linguistik spesifik yang membuat model-model tersebut jelas berhasil.

Imitasi merupakan jembatan antara bacaan dengan tulisan atau pembicaraan seseorang.  Ia juga menampilkan suasana dimana permasalahan  mengenai susunan dan gaya dipertimbangkan secara simultan (serentak), tidak terpisah  karena terkadang mereka timbul dalam kerangka sebuah garis-garis besar kurikulum yang bersangkutan. Imitasi sebagai sebuah metode dalam pengembangan retorika memiliki hubungan yang sangat dekat dengan  prinsip-prinsip aplikasi dan dan variasi. Para siswa yang bersangkutan  mulai berpindah dari imitasi yang dekat dari model mereka kepada jenis-jenis yang agak renggang, dengan menggunakan model-model tersebut untuk peningkatan sebagai titik awal bagi komposisi mereka sendiri yang lebih bertahan lama.

Dalam ilmu pengajaran retorika, sebagian besar siswa yang melakukan analisis  mengenai format dan muatan bahasa  dianggap telah melakukan aplikasi  peniruan. Mereka diminta untuk mengobservasi sebuah model secara dekat  dan kemudian mereka menyalin formatnya namun menghasilkan  muatan yang baru atau mereka menyalin muatan  namun menghasilkan  format yang baru. Peniruan semacam itu telah terjadi di setiap tingkat berbahasa dan bahasa, dan ini memaksa siswa untuk melakukan penilaian mengenai apa yang sesungguhnya dilakukan  oleh format yang diberikan  berkenaan dengan makna ataupun efeknya.Pembedaan antara format dengan muatan selalu bersifat artifisial dan kondisional, sebab pada akhirnya upaya untuk membuat pembedaan ini menunjukkan hasil berupa sifat fundamental yang tidak bisa dibagi-bagi dari ekspresi verbal dan pemikiran. Sebagai contoh, ketika siswa diminta untuk melakukan penerjemahan  sebagi latihan retorika, malah mereka  menganalisis komposisi mereka  dalam istilah-istilah yang dekat dengan dirinya, karena dianggap  tidak mungkin kiranya untuk secara sempurna bisa menangkap makna dan  efek dari sebuah ekspresi yang dipikirkan dalam istilah-istilah  lainnya selain kata-kata asalnya.Sebenarnya pembedaan tersebut didasarkan kepada sebuah sudut pandang  mengenai bahasa sebagai suatu alat  mekanistis yang digunakan  untuk mencatat ataupun menyampaikan pikiran. Dengan adanya ahli-ahli yang berpikiran sesat dan menyimpang dari yang sesungguhnya maka para ahli retorika pun memiliki pandangan atau penilaian tentang bagaimana bahasa berpengaruh, tidak hanya kepada pemahaman audiensi tetapi juga kepada proses pemikirannya.

Dalam bidang retorika kedekatan hubungan antara apa yang dikatakan dengan cara hal tersebut dikatakan bisa diteliti melalui kontinuitas antara muatan mengenai penemuan dengan gaya pembicaraan (figure of speech). Gaya pembicaraan itu kadang-kadang dianggap dangkal saja, pada hal bukan hanya sekedar penampakan gaya bahasa saja melainkan juga pemanfaatan ornamen (yang melengkapi) dari retorika yang dapat berwujud ucapan tambahan sebagai perlengkapan yang diperlukan  untuk mencapai makna yang dimaksudkan atau efek retorika.Ahli retorika sebenarnya membedakan antara format (bentuk) dengan konten (muatan/isi) bukannya untuk menempatkan  isi tersebut di atas bentuk, namun untuk menyorot  adanya saling ketergantungan bentuk bahasa dan makna, argumen dan ornamen, serta pemikiran dan ekspresinya. 

C. Imitasi Retorika Tulisan  Copy The Master            

Dalam dunia seni lukis istilah copy the master bukan merupakan istilah yang asing lagi. Istilah ini berkaitan dengan metode belajar melukis. Ada dua metode yang dikembangkan dalam teori pengajarannya. Pertama, melukis cara barat, yaitu belajar garis dan bentuk dahulu, kemudian anatomi, perspektif, warna, dan sebagainya menurut urutan yang sesuai  dengan pendirian guru yang mengajar. Orang-orang Cina  dulu tidak demikian halnya. Orang yang ingin jadi pelukis akan diberi sebuah lukisan  yang sudah jadi dan baik, biasanya yang dibuat oleh seorang master, yaitu orang yang ahli melukis atau pelukis terkenal. Calon pelukis disuruh meniru lukisan master tadi sampai sebisa-bisanya, semirip mungkin. Sesudah beberapa kali mencoba, murid akan mendapat sebuah master baru untuk ditiru. Begitulah seterusnya sampai ia bisa melukis sendiri, dan mulai menemukan bentuk yang khas yang sesuai dengan kepribadian dan kesukaannya. Metode inilah yang dinamakan copy the master, yang artinya meniru lukisan seseorang yang ahli.           

 Dalam pendidikan retorika pun mengenal kedua metode  ini, di samping ada pula  pelajaran semu melalui kaedah-kaedah  yang disuruh hafalkan. Pada dasarnya, metode copy the master menuntut dilakukannya latihan-latihan sesuai dengan master yang diberikan. Latihan dengan metode ini tidak mesti tulisan dari seorang penulis terkenal, tetapi dapat juga diambil dari sebuah tulisan yang berasal dari penulis biasa, yang dianggap sebagai sebuah model, setelah dilakukan modifikasi seperlunya. Kemudian model ini dibaca terlebih dahulu, dilihat isi dan bentuknya, dianalisis serta dibuatkan kerangkanya, serta dilakukan hal-hal lain  yang perlu, baru sesudah itu tiba waktunya untuk menulis. Tentu saja yang dituliskan itu tidak persis sama seperti modelnya: ini namanya menyalin bulat-bulat, menjiplak, atau bahkan membajak. Sebenarnya yang akan dikopi adalah kerangkanya, atau idenya, atau bahkan juga tekniknya.      

Ada orang yang tidak pernah menempuh pendidikan formal yang cukup dalam bidang menulis mengatakan bahwa menulis itu gampang. Pernyataan ini ada banyak benarnya, karena kemampuan menulis tidak selamanya harus menempuh pendidikan formal dulu untuk mendapatkan teori-teori menulis. Kemampuan menulis bisa juga didapatkan dari rajin melakukan latihan menulis, menirukan tulisan-tulisan yang sudah jadi. Tanpa latihan seperti ini tentu orang tadi tidak akan mengatakan  pernyataan seperti itu karena tidak akan pernah lahir seorang penulis secara seketika tanpa didahului oleh adanya latar belakang, kemampuan, dan latihan menulis sebelumnya.               Namun, dari manakah latihan harus dimulai? Banyak para ahli berpendapat bahwa menulis sebaiknya dimulai dari yang dekat, kemudian pelan-pelan berangsur ke yang jauh. Dari yang konkret ke yang abstrak. Atau mulailah dengan yang paling menarik  hati kita sendiri, yang paling kita kenal, yang paling kita kuasai materinya. Salah satu cara untuk melakukan itu  dalam pengajaran retorika di sekolah adalah dengan metoda imitasi dengan segala variasinya seperti berikut ini.  

  1. Struktur sama isi berbeda,

Guru mempersiapkan suatu karangan model yang akan dijadikan  sebagai contoh dalam menyusun  karangan baru. Karangan siswa tidak persis sama dengan karangan model. Struktur karangan memang sama tetapi berbeda dalam isi. Contoh,  Guru :      Baca dan perhatikan baik-baik karangan berikut ini. Kemudian susunlah karangan lain  yang bentuknya sama dengan karangan tersebut.  Harga Barang Pokok Naik Harga sebagian barang pokok bergerak naik. Beras seminggu yang lalu  berharga Rp 300,00/liter kini berubah menjadi Rp 325,00/liter. Gula pasir  melonjak dari Rp 650,00/kg menjadi Rp 675,00/kg. Minyak kelapa   walaupun tidak seberapa naiknya tetapi secara nyata berinsut naik dari Rp  600.00/kg menjadi Rp 650,00/kg. Terigu kini mencapai 300,00/zak sedang  minggu lalu masih Rp 275,00/zak. Famatex dari Rp 700,00/m berubah jadi Rp 800/m minggu ini. Siswa :    Membaca dan memperhatikan contoh . Kemudian mereka menyusun karangan  berdasarkan contoh. Salah satu dari karangan siswa itu mungkin  begini: Barang Kebutuhan Harian Melonjak    Harga sayur-sayuran beringsut naik. Bayam bulan yang lalu masih berharga Rp75,00 seikat. Kini berubah menjadi Rp 100,00 seikat. Kol gepeng melonjak dari Rp 150,00/kg  menjadi 200,00/kg. Kangkung juga tidak mau ketinggalan, minggu yang lalu harganya Rp 50,00 seikat, kini berubah menjadi Rp 70,00 seikat. Kentang sudah  mencapai harga Rp 300,00/kg. Berarti ada kenaikan harga Rp 50,00/kg dari minggu lalu. Bahkan daun singkong pun ikut berubah harga. Biasanya Rp 250,00 seikat, sekarang menjadi Rp 500,00 seikat. 

    2.   Isi sama bentuk berbeda.

Guru  memperdengarkan rekaman sebuah puisi secara berulang-ulang atau dibacakan beberapa kali kepada siswa-siswanya, atau bisa juga langsung siswa membaca dan memahami isinya kemudian mereka diminta untuk mengulangnya kembali dalam bentuk prosa dengan kata-kata sendiri. Contoh,  Guru:  Baca dan pahamilah sajak berikut ini! Kemudian ubahlah dalam bentuk prosa!             

   IBU, ADAKAH TERSISA WAKTU  UNTUKKU 

Ketika ibu bertanya padaku Nak, sudah benarkah pilihan cintamuKujawab dengan hati yang tegar tetapi senduBenar ibu, telah kupilih tumpahan hatiku. Walau kata pengabdian pada masa itu terasa semuNamun hatiku telah terpatri tekadkuHanya ini yang ingin kubaktikan  sebagai balas budiku Atas jerih payah serta curahan kasih sayang bundaku. Dan bila sang suami bertanya lembut penuh rayuSayangku, sanggupkah engkau bagi waktumuAntara tugas dan tanggung jawab yang penuh likuSerta cinta, kasih dan bakti padaku. Maka jawabku kadang bercampur raguOh, suamiku, Tuhanlah yang maha tahuBetapa besar nikmat dan karunia ataskuKarya, bakti dan ciptaku bisa terpadu Dan lemahlah akhirnya sendi tulangkuBila datang si kecil anakku merajuk rayuIbu, adakah tersisa waktu untukkuAku ingin bercanda, memanja dan mengadu. Oh anakku, kau adalah tumpuan harapan  ayah bundamuKudambakan kau kelak jadi pemimpuin  negara dan bangsaku  Untuk itu ibu rela berkorban  sisa cintakuDemi cinta, bakti dan masa depan tanah airku. (Monalisa, September 1982) Siswa : Menyimak rekaman atau membaca bacaan dengan berulang. Mereka mencoba memahami garis besar isi sajak. Hasil perubahan yang dilakukannya dalam bentuk prosa adalah kira-kira sebagai berikut: 

POLWAN : ANTARA TUGAS DAN KELUARGA 

Seorang wanita memilih menjadi Polwan sebagai lapangan mengabdi. Melalui Polwan ia akan berbakti pada negara. Melaui Polwan ia membalas kasih sayang ibundanya.  Banyak pertanyaan yang timbul atas pilihan wanita tersebut. Pertanyaan dari ibunda, suami, dan anaknya. Ibunda bertanya apakah pilihan itu sudah tepat. Ia menjawab dengan pasti itulah pilihan hatinya. Suaminya bertanya apakah dia dapat     membagi waktu antara tugas dan suami. Ia menjawab, cintanya pada suami tidak berkurang. Tugasnya pun tidak akan diabaikan. Anaknya juga bertanya. Apakah ia masih mempunyai waktu untuk bercanda, memanjakan, dan menampung pengaduan anaknya. Dengan bijaksana ia menjawab. Kuharapkan dikau jadi pemimpin negara. Ibu rela berkorban demi cinta, bakti, dan masa depan negara.

 C. Aplikasi 

Pengajaran retorika dengan menggunakan metode imitasi  dapat dikembangkan dalam  mata diklat bahasa Indonesia di setiap jenjang sekolah, mulai dari tingkat SD sampai SLTA. Ini dapat dilakukan karena metode imitasi ini pada dasarnya memiliki tingkat-tingkat peniriuan aspek, bentuk, dan susunan  beragam dan bervariasi. Mulai dari peniruan yang hampir sesungguhnya sama sampai kepada bagian-bagian  yang baik, menarik, atau tertentu saja.Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan bahasa Indonesia di SMKN 9 Padang tingkat semenjana, secara jelas  memungkinkan dipakainya metode ini dalam pengembangan materi pembelajaran yang terkait dengan pidato atau mengarang seperti terlihat pada bagian kutipan kurikulum itu berikut ini: 

SILABUS 

NAMA SEKOLAH                  :   SMKN 9 PADANG         

MATA PELAJARAN              :   BAHASA INDONESIA

KELAS/SEMESTER             :    X / 1

STANDAR KOMPETENSI   :   Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia setara tingkat Semenjana

 KODE KOMPETENSI          :   1ALOKASI WAKTU              :   6  x  45 menit  (  3 x pertemuan ). 


KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN  PENILAIAN AW SUMBER BELAJAR

Jika ingin melihat lebih jauh lagi ke dalam isi KTSP Bahasa Indonesia yang dikembangkan di SMKN 9 Padang sebenarnya ada lagi materi ajar yang berkaitan dengan pidato dan menulis yang memungkinkan digunakannya metode imitasi dalam pengajaran retorika, namun  sebagai contoh, yang ini sudah cukup

 DAFTAR BACAAN 

Aminuddin. 1995. Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra.  Semarang: IKIP     Semarang Press.

Arief, Ermawati. 2006. Retorika Lisan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSS UNP Tahun Akademik 2005. (Tesis) Tidak diterbitkan. Padang: PPS UNP. 

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tingkat Semenjana, Madia, dan Unggul Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan  Pengembangan   Pendidikan dan Kebudayaan.

Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi.

Hendrikus, D.W. 1991. Retorika. Yogyakarta: Kanisius.

Keraf Gorys. 1980. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Marahimin, Ismail. 2005. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.

Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Retorika Modern. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Syafi’ie, Imam. 1988. Retorika Dalam Menulis. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti P2LPTK.

Tarigan, Djago dan Hedri Guntur Tarigan. 1986. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Widyamartaya, A. 1990. Seni Menggayakan Kalimat. Yogyakarta: Kanisius.

William, Grant. Figure of Speech (http: / /www. Nipissingu. Ca/Faculty/ Williams / Fogofspe.htm.

Yanti, Dahlia. 2007. Retorika Dakwah K.H. Zainuddin M. Z. (Tesis) Tidak diterbit-kan. Padang: PPS UNP.        


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: